
linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.
Dibaca: 1180
Komentar: 38
3 dari 6 Kompasianer menilai Menarik
Guru agama saya zaman dulu pernah berkata, jangan seenaknya memberikan julukan kepada seseorang di luar namanya. Dalam agama tidak diperkenankan. Olok-olok yang menghina cenderung mengotorkan diri. Nyatanya, julukan memang seringkali digunakan sehari-hari di mana-mana. Entah itu sebagai tempelan nama indentifikasi ciri khas seseorang saja, maupun ditempelkan dari ciri sifat maupun tampilannya.
Lihatlah kini ada nama si Juki, seorang petinggi dari gedung ternama yang bicaranya makin hari makin tak bertepi, tak berperasaan, dan tidak juga masuk di akal. Suatu saat ia berkata kolam renang di ketinggian gedung yang akan dibuat di lantai atas kantornya berfungsi pula sebagai penampung air kalau terjadi kebakaran. Bagaimana adik-adik yang bersekolah di bagian bangunan, para calon tukang insinyur langsung tak kuasa menahan gelak tawa. Bahkan ibu-ibu rumah tangga biasa yang seringkali dianggap dungu karena tidak berilmu secara akademis, juga ikut sakit perut mules menahan mual mendengar kekonyolan si Juki melakukan pembodohan masyarakat seperti itu.
Ada lagi nama si Poltak, yang dari bibirnya yang lebar kerapkali meluncur kata-kata serampangan, mengecam orang dan lawan politiknya tanpa wawasan yang kental. Dari hari ke hari orang semakin bertambah menjulukinya si Poltak… entah mengapa. Seorang nenek dengan tujuh cucu sering berteriak kepada perawat di rumahnya, agar segera mengganti saluran televisi plasmanya ketika si Poltak sudah nongol dan berceloteh sana-sini. “Migren kepala eyang bisa kumat nih dengar wong edan itu ngomong!” , katanya sembari bersungut-sungut. Bahkan teman pengajian saya bercerita, ibu mertuanya langsung dilarikan ke Rumah Sakit ketika mendengar si Poltak bicara ngawur di depan wartawan. Tensinya melejit naik dan jantungnya berdebar bertalu-talu mencemaskan seluruh keluarga. Sejak itu seluruh anaknya melarang sang ibu memasang televisi yang ada berita-berita seramnya. Tapi, bagaimana cara menyortirnya?
Dulu, seorang ajudan merangkap sekretaris pribadi sering garuk-garuk kepala bila harus mengatur jadwal pacaran menterinya. Hari Jumat atau Sabtu tentu bagian si Pepaya, julukan untuk perempuan yang gigih sekali nyeruduk sasarannya sejak lama. Suaranya halus bila menghubungi sang ajudan untuk minta disambungkan ke pak menteri. Tapi di balik halusnya tersembul nada memerintah dan calon diktator hebat bila cita-cita sudah berhasil digenggamnya. Mengapa dinamakan si Pepaya? Ketika saya tanya, ternyata mereka hanya asal ambil nama saja karena huruf depan sang wanita itu berawal dengan huruf P. Hari kerja lainnya ada si Kesemek, yang tampaknya pak menteri doyan buanget terhadap perempuan yang satu ini. Lho? Kok kesemek? “Karena kalau dandan, bedaknya belobor di pipi seperti buah kesemek.. putih-putih belepotan..!”, jawab sang ajudan enteng. Dan satu lagi, si Melon yang berambut panjang mayang terurai dan sexy. Wooow..! Kata ajudan, pak menteri paling tidak tahan melihat perempuan berambut panjang. Matanya langsung menjalar ke mana-mana. Melonnya dari mana, pak ajudan?, tanya saya. “Ooo.., dari sexy di payudara dong. Kayak buah melon!”, jawabnya sekenanya. Semua tergelak mendengar jawaban ngawurnya itu, termasuk si Wage, Darkum, dan Jogeg, para tukang sapu dan OB ( sekarang keren berjuluk Office Boy, dulu disebut Opas ), yang sehari-hari harus tutup mulut dan tutup mata melihat Pepaya, Melon maupun Kesemek sering ngumpet-ngumpet muncul ke lorong kantor itu. Tentu yang juga hebat adalah antara ketiganya saling tidak tahu cinta mereka saat itu terbelah-belah dari sang menteri. Duh.. !
Ada lagi julukan buat pak Datuk, yang dikenal sebagai majikan di sebuah kantor swasta besar amat sangat dermawan itu. Koceknya berisi lembaran ratusan dolar Amerika. Ke mana-mana dikantongi, bahkan tersimpan di bagasi mobil. Sopir, satpam, petugas kantor bagian ‘barisan proletar’ sering dilempari lembaran dolar ini. Selalu katanya, “Biar mereka tahu dong sekali-sekali mata uang asing itu seperti apa. Masa’ hanya orang-orang kaya yang ngerti”. Hebbaaaat… !!
Herr Doktor.., wah, siapa yang tak kenal dengan pria yang satu ini. Dari mulutnya seringkali muncul kata-kata asing Jerman dengan gesitnya. Ia paling dimanja oleh atasannya, bahkan bagai dianggap anak sendiri. Urusan protokoler bagai lumpuh kalau ia sudah muncul di ruang sang majikan. Dengan kecanggihan ilmu dan wawasannya, hampir selalu ia bercerita panjang lebar tanpa ada yang mampu menyetopnya. Orang-orang sering dibuat keringetan oleh ulahnya. Antara sebal, jemu, pegal linu, namun diam-diam juga angkat topi atas segala cerdik pandainya yang banyak diketahuinya.
Ada lagi julukan yang beredar di sebuah keluarga besar. BBJJ. Wah, apalagi itu? BBJJ adalah singkatan dari Bogor Bogor Jakarta Jakara. Empat bersaudara di antara keluarga besar itu seringkali bermasalah satu sama lain bahkan terhadap lingkungannya. Yang dua berdiam di Bogor, yang dua lagi tinggal di Jakarta. Urusan mereka dari tahun ke tahun hanyalah ribut, baikan, ribut berantem, baikan, ribut lagi sampai tahun-tahunan. Keluarga lain sering buru-buru minggir teratur dan tak ingin ikut campur dalam siraman bensin mereka. Keempatnya punya sifat-sifat istimewa yang sering bikin orang lain geleng kepala.
Salah satu contoh, J ( Jakarta ) yang hidupnya sendirian itu hobi banget mencegat seorang ibu yang berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan rantangan para langganan di seputar tetangganya. Bagai polisi pasar, ia menginterogasi, ” Eh, bapak ibu Basir yang di ujung jalan itu rantangannya berapa duit? Hah? Cuma lima belas ribu perak? Pelit amat? Babu aku aja di rumah selalu makan ayam goreng utuh satu, mana cukup lima belas ribu? Mereka rantangan tiap bulan nggak berhenti? Apa bu Basir sang istri nggak doyan ke dapur? Kok istri males masak? Istri apa’an tuh? Kasihan si suami ya?” Maka termangu-mangu sang tukang rantang itu. Buru-buru ia permisi jalan meneruskan belanjaannya sembari melongo yang tiada habisnya, bertanya dalam hati, kok ada ya perempuan usil mau tahu urusan asap dapur orang lain melulu tiap hari? Si B ( yang menetap di Bogor ) lain lagi urusannya. Ia adalah seorang dokter yang amat jarang praktek sebagai dokter. Entah mengapa, apa kurang ilmunya, atau kurang manjur cara pengobatannya. Yang jelas, para saudaranya yang lain maupun orang-orang yang cukup kenal dekat dengannya memberikan julukan kepadanya Drg. . De Er Ge.. Lho? Ya, itulah, bukan dokter gigi, melainkan Dokter Gila. Saya tak begitu suka dengan julukan itu karena kelewat arogan dan menusuk hati. Tapi apa jawaban teman sekelas saya yang pernah satu kompleks dalam satu apartemen dengannya? “Gawat lho, tiap hari berantem melulu sama tetangga kiri kanan. Juga sama anak-anak yang lari-lari main bola di rumput halaman apartemen, katanya nanti rusak lah apalah, semua orang dibentak habis. Kami menganggapnya orang itu stress dan tidak pernah puas pada keadaan. Ya maaf saja, kami kasih naman De Er Ge, Drg, ya dokter gila !” Duuuh…., miris betul saya mendengar uraian seperti itu…. !!
Seorang wanita sukses, pengusaha kaya raya, sangat terkenal di sebuah kota besar sebagai wanita yang dominan, adalah orang yang disegani sekaligus ditakuti. Suatu saat ada hajatan hebat di rumahnya, usai acara para keluarga dekat dibungkusi makanan sisa pesta. Salah satu adiknya, sebut saja Pak Yanto kebagian gulai kepala ikan. Setibanya di rumah, anak-anak pak Yanto ternganga melihat isi bungkusan. “Hah? Hanya kepala ikan? Dengan tulang-tulang sebesar ini? Sungguh keterlaluan si tante kaya raya ini!” Para keponakan sang tante meledaklah amarahnya. Esoknya wanita yang ditakuti itu didatangi salah satu keponakan yang tak mau kalah garangnya. Ia berkata, tidak pantas memberikan hadiah makanan kepala ikan. Wanita yang ditakuti itu gantian ketakutan. Nah lho ! Siapa sangka kini ia yang kena giliran dibentak orang, yang biasanya menjadi hobinya sehari-hari membentak orang. Sejak saat itu, sampai puluhan tahun kemudian, wanita hebat itu bernama ‘Si Kepala Ikan”….
Seorang pegawai swasta yang cerdas, gesit dan ambisius suatu saat kecipratan bintang kejora. Ia ditarik ke sebuah departemen hebat untuk menjadi staf ahli menteri. Wawasannya yang luas, kecerdikkannya dan etos kerjanya yang tinggi membuat sang menteri jatuh hati. Ia benar-benar terpakai di sana. Dengan jenakanya, si staf ahli ini yang memberikan sendiri julukan bagi dirinya, agar dipanggil oleh orang-orang yang memang dekat dengannya, ”Si Penting” . Lho? Memangnya seberapa pentingnya orang ini, kok gede rumongso amat sih? “Begini ya, posturku kan pendek, rambut aku keriting. Ya wes, panggil aku saja si Penting… Pendek Keriting!” ujarnya dengan jenaka dan tawa berderai-derai. Sampai hari ini, setelah karirnya semakin melambung, dan tubuhnya sehari-hari bercokol di kursi menteri mobil menteri dan rumah di kompleks menteri karena kini ia sudah menjadi menteri bukan staf ahli menteri lagi, ia sungguh menikmati diberi julukan ‘Si Penting’… karena akhirnya benar-benar ia kini menjadi orang penting… hahahaha… !!
Seorang anak dari pengarang, penyair, sastrawan terkenal mempunyai bentuk kepala agak lonjong dna cenderung peang. Ia seorang pekerja keras dan bakatnya sejak muda menjadi pebisnis ulung sudah dirasakan oleh para teman dekatnya. Lama-lama, namanya adalah si Peang - julukan yang diberikan oleh para sahabatnya yang usil dan kocak-kocak itu, sesuai bentuk kepalanya. Iapun sangat menikmati nama itu. Suatu ketika teman-temannya datang ke rumah, yang membukakan pintu adalah sang penyair itu. “Peang ada Oom?” , tanya teman-teman dekat si Peang. “Hah? Siapa itu Peang?? Nama anak saya bukan Peang ya! Jangan sembarangan kalian! Saya memberikan nama baik-baik bagi dia, kalian mengarang sendiri seenaknya!” Maka ngacirlah semua teman si Peang. Hahahaa… ! Sampai detik ini, nama itu masih melekat bagi diri pria yang kini semakin makmur itu. Ia kini bagai Murdock Indonesia, yang memiliki aneka media dan penerbitan canggih yang dikelolanya. Sahabat, anak-anaknya, istrinya, keluarga besarnya, bahkan para pegawainya hanya tahu namanya ya si Peang itu. Nama aslinya hanya berlaku untuk urusan persuratan saja barangkali ya? Siapa tahu nama itulah yang menjadi hoki bagi dirinya…. hahahaa… !!
Lalu, adakah saya juga diberi julukan oleh teman-teman dekat saya? Waaah, saya kali ini ingin bersikap fair, jujur, dan seadanya. Kurang oke dong kalau saya bercerita julukan orang lain padahal punya sendiri tidak ‘dibuka’… ya kan?
Begini, ingat Indro Warkop kan? Nama panjangnya adalah Indrojoyo. Ia lebih merasa keren kalau para sahabatnya memanggilnya Joy. Dari remaja sampai kini, kami memanggilnya ya tetap Joy. Hanya orang-orang perfileman saja atau teman-teman barunya yang tetap memanggilnya Indro. Si Joy ini masih ada tali persaudaraan pernikahan dengan saya. Pamannya, menikah dengan adik ibu saya. Kebetulan sejak kecil kami sering main di Taman Pak Oq Senayan ( sekarang lokasi itu menjadi pusat perbelanjaan Senayan City ). Dulu ada danau lebar di sana, pepohonan rindang dan merupakan paru-paru kota , daerah serapan air yang sangat asri bagi Jakarta. Joy dulu rajin latihan berkuda di sana, dan rajin pula tubuhnya yang gempal bagai karung beras itu menggelinding di rumput kalau sudah jatuh dari kuda yang ditungganginya. Saat SMA, kok ya kebetulan saya satu sekolah dengannya, dan dua tahun berturut-turut sekelas dengannya. Karena merasa ’sedulur’ alias bersaudara, kami berdua sangat bebas berkata-kata, sampai omongan yang agak kasar sekalipun. Suatu ketika ia dan teman sebangkunya yang lain meminjam sikat rambut saya tanpa izin, dikeluarkan seenaknya dari tas sekolah saya. Ketika saya melihat Joy dan si Bambang Soegeng menyisir rambutnya, saya rebut, dan langsung sikat rambut itu saya buang, tak sudi saya masukkan kembali ke tas sekolah. Bayangkan, mereka baru saja mandi keringat seusai main basket, lalu enak saja menyisir rambutnya yang berminyak-minyak itu dari sisir saya. Si Joy itu langsung terpana melihat kemarahan saya. “Dasar….. hey jude… hey jude….!” ujarnya sambil melantunkan lagu Hey Jude dari The Beatlles. Lalu saya tanya, apa tuh Joy, kok Hey Jude..? - Lalu apa jawabnya? “Ya itu kamu .. galak… hey jude…. hey judes…. judeeeeeessss… hey juddddeeeeessss…. !”
Kini giliran saya yang melongo. Si Joy Indro Warkop yang dulu belum jadi pelawak itu memberi julukan saya si Hey Jude…. sampai kini, lebih dari tiga puluh tahun kemudian….. ! Kalau kami sedang berkumpul ramai-ramai sesama teman remaja, si gila Joy Indro Warkop itu sengaja selalu melantunkan lagu itu…… Hey Jude………. Hey Jude…… !!!!
Hahahaaaa….. , emang ennnnnnaaaaaakkk.. punya julukan…???!!!
Lalu, bagaimana denganmu sendiri teman? Atau adakah julukan yang aneh tapi nyata, lucu-lucu bahkan ’seram’ di sekelilingmu?
Salam Rumah Sehat Kompasiana !