Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Adolf Ayatullah Indrajaya

wartawan.. tinggal di Bandarlampung

Arsitek Masuk Neraka

OPINI | 24 April 2011 | 19:00 Dibaca: 478   Komentar: 0   0

Syahdan, tersebutlah Alex seorang arsitek kondang yang sohor karena karya-karyanya yang monumental dan memberi manfaat kepada sedemikian banyak umat manusia dan peradaban.

Insinyur Alex, demikian dia biasa disebut. Namanya jadi standar generik tentang arsiteksi bermanfaat.

Insinyur Alex mangkat ditangisi berjuta orang serta meninggalkan karya hebat yang dikagumi berjuta pula.

Saat di hari penentuan, Insinyur Alex dengan pede-nya berjalan ke gerbang surga. “Saya Insinyur Alex, saya mau masuk,” demikian Alex berkata kepada penjaga gerbang surga.
“Siapa nama?” timpal pak penjaga sekenanya.
“Insinyur Alex. Alex!!”

Tak dinyana, pak gerbang sembari enggan membuka-buka daftar tunggu menukas ketus, “Nama ente kagak ada tuh.”
“Artinya?” sergah Alex.
“Yah ente masuk ke gerbang satunya! Husshh, pergi sana!”

Tak percaya dengan catatan itu, Alex gontai dan menuju gerbang neraka. “Saya Insinyur Alex. Masak sih saya masuk ke sini,” tanya Alex kepada Bos Gerbang yang juga menimpal dengan tengil dan cengar-cengir.
“Kalo loe nggak masuk ke sebelah, tempat loe mesti di sini.”

Insinyur Alex adalah orang yang cerdas, gemar bekerja dan tak tahan melihat ketidakteraturan. Semenjak pertama tiba di Neraka, Alex langsung bekerja dan memutar otak untuk beradaptasi dengan kondisi neraka yang semrawut, panas dan tak karu-karuan.

Alex langsung menyadari kalau neraka adalah sumber energi yang maha dahsyat. Dengan kecakapannya, Alex mengubah panas di neraka untuk menghasilkan tata udara yang mantap dan ‘kelas dunia’. Dibuatkanlah konsep tentang penataan ruang dan penghijauan serta tata-atur sanitasi dengan jaringan transportasi terunggul. Tak seberapa lama, jadilah neraka tempat yang jauh lebih baik untuk ditinggali siapapun. Utamanya oleh Insinyur Alex yang jelas punya standar hidup tinggi.

Kabar soal berkembangnya neraka tentu tiba di telinga Bos Besar. Biasanya Dia selalu mendengar rintihan dan jeritan pilu dari klaster tetangganya itu, beberapa waktu terakhir makin tak terdengar. Bos Besar bingung, maka dipanggil-Nya seluruh orang staf dan petinggi surga.

“Apa cerita? Kenapa neraka jadi tak seperti biasanya. Hai kamu Malaikat Telik Sandi, pergi dan selidiki, laporkan segera hasilnya!” Dia perintah, maka jadilah.

Sekejapan mata, Malaikat Telik pulang dan menceritakan situasi neraka yang berubah jauh dengan segala analisis, potensi, peluang dan ancamannya terhadap eksistensi surga.

“Apa!? Jadi ini cuman gara-gara Insinyur Alex? BUkannya insinyur macam dia harusnya masuk surga. Kok bisa dikirim ke sana? Pasti ini gara-gara Pak Gerbang! Kamu teledor. Kamu merusak tatanan. Ini tidak bisa dibiarkan. Ini harus dikembalikan ke kondisi seharusnya,” demikian Pak Bos Besar.

Tim Penyelesai Soalan dari surga langsung mengirim juru dakwah paling persuasif ditambah dengan tim negosiasi yang diperkuat oleh negosiator-negosiator hebat yang punya jejak-rekam paling mengkilap.

Pulang dengan hasil minus, mereka membawa jawaban Gembong Neraka. “Tak mau dia Pak Bos Besar. Kata dia kalau sudah tak masuk surga yang jatahnya neraka. Itu kata Pak Gembong.”

Tim Penyelesai Soalan Jilid II kembali berangkat ke neraka dengan membawa perayu-perayu ulung dan membawakan kompensasi dan ganti-kerugian berlipat kalau sang insinyur mau dikembalikan pulang ke surga.

Ternyata pulang pula dengan hasil minus. “Kata Oom Gembong, kalau cuman hadiah bertumpuk, dia tak lagi membutuhkannya,” begitu Jeng Rayu melapor.

Bos besar kontan naik pitam dan mengambil ponsel khusus alam nanti dan menelepon Pak Gembong.
“Kamu ini maunya apa Mbong? Jangan kamu pikir kami akan diam saja dan melihat hak kami diambil orang. Saya akan kejar terus sampai ke manapun juga.”
“Sabodo amat Bos,” singkat, padat dan nyelekit jawabannya.

“Jangan main-main dengan saya, saya gugat kamu, saya tuntut kamu..” ujar Pak Bos.
“Wah..” segah Pak Gembong tanpa tedeng aling-aling.
“Jangan becanda bos. Ha ha ha. Ente boleh punya banyak arsitek di surga. Tapi kalau hakim, jaksa, polisi apalagi pengacara, saya jamin. Sekali saya tekankan, SAYA JAMIN, semuanya ada di tempat saya,” pungkas Gembong puas. (*)

*) he he he.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 8 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 8 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 8 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 8 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: