Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Perjanjian Bilateral Pensiunan

OPINI | 08 August 2011 | 07:40 Dibaca: 138   Komentar: 7   0

Sebelanga daging harus dibuang akibat ketidak pahamam. Ini sebuah  pengalaman buruk di dalam sebuah keluarga pensiunan.

Saya yang lagi sibuk menulis di Kompasiana,sesekali mengendus aroma bumbu daging yang dimasak Istri di dapur.Tiba tiba  Istri kedatangan tamu dari tetangga sebelah lalu berbincang di ruang tamu.

Untuk tidak mengusik pembicaraan mereka,saya melangkah ringan menghampiri Istri dan berbisik:Apa dagingnya sudah bisa saya angkat?

Istri lalu menjawab:Belum..belum..karena garamnya belum cukup dan tolong tambahkan satu setengah sendok makan garam lalu tutup kembali dan kata kata itu terdengar oleh sang tamu.

Saya dengan senang hati  melakukan perintah dan membuka stopless plastik putih lalu menyendok sesuai dengan takaran yang di perintahkan sang ahlinya.

Lalu saya kembali kemeja kerja menulis sebuah comment untuk membalas tulisan Sutan Pangeran yang ada di dashboard kompasiana.

Tak lama kemudian tamu pun pergi sambil bercanda di depan rumah berkata, Pak Tua Pasaribu ternyata punya keahlian memasak dan berlalu.

Istri kembali ke dapur dan berteriak memanggil saya dan berkata:kenapa ini?kenapa ini?kok begini!

Busa telah menyelimuti seluruh belanga hingga tumpah ditatakan tempat kompor gas,untung nasib baik masih berpihak, tidak ada ledakan gas yang bisa berakibat fatal yang menyengsarakan pensiunan.

Bau rinso pun menyengat di sekitar dapur,trouble shooting pun kita lakukan,ternyata satu setengah sendok garam adalah satu setengah sendok rinso yang di aduk dengan daging sekuali.

Saya ingat sebuah terobosan dalam suatu kondisi yang tidak menguntungkan,contigency plan adalah alternatif agar daging sekuali terselamatkan.Lalu saya mengangkat daging sekuali dan menumpahkannya kedalam ember lalu diguyur dengan air,kerja sama yang aneh untuk sekuali daging.

Akhirnya sebuah perjuangan yang mubazir,rinso begitu jauh masuk di pori pori daging dan lalu kami saling bertatap muka dan tertawa menerima kenyataan.

Untuk menghindari kajadian berulangkali,perlu mengundang akademisi minus politisi menyusun sebuah “antisipasi” dengan mukadimah  seperti tertulis dibawah:

Di bawah satu atap rumah para pensiunan terdapat dua kekuatan yaitu Suami yang pensiun dengan Istri si Suami yang pensiun atau Istri yang pensiun dengan Suami si Istri yang sudah pensiun.

Perlu kesepakatan untuk membuat sejenis MOU yang mengatur konsesi tanpa campur tangan Menteri Luar Negeri,DPR Komisi I yang membidangi Pertahanan. Sebuah wilayah perebutan yang terdiri dari dua wilayah yang bernama Dapur dan Ruang Tamu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

WC Umum Tak Kalah Penting dengan Dapur Umum …

Prabu Bolodowo | 6 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 7 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: