Artikel

Humor

Hazmi Srondol

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Penebar 'Virus Ceria untuk Indonesia' / Penjual Cerita Humor / Om Srondol / Novel Comedy Author / CEO iSRONDOL - Comedy Company / Owner Srondolnews.com / "Orang pintar belum bisa disebut jenius jika tidak punya selera humor yang tinggi." /

Melanjutkan Tradisi “Stand Up Comedy” Indonesia di KOMPAS TV


REP | 10 September 2011 | 14:58 Dibaca: 1535   Komentar: 71   5 dari 5 Kompasianer menilai aktual

Saya sependapat dengan mas Pandji yang mengatakan “Indonesia jangan di buat jadi satu tapi Indonesia harus dibuat bersatu!” saat mengisi kekosongan acara di panggung karena di TV on air sedang berlangsung iklan komersial. Memang benar, jangankan untuk Indonesia—untuk 100 Kompasioner yang hadir atau 1200-an hadirin acara Grand Launching Kompas TV yang mengambil tema besar Simfoni Semesta Raya ini pasti juga sudah berbeda-beda. Dari perbedaan jenis kelamin, status sosial hingga acara yang diminati dan ditunggunya.

Banyak yang histeris di satu sudut saat para artis pembuka Gita Gutawa bersama musikal Laskar Pelangi muncul untuk menghangatkan acara. Namun di sudut dan deret lain gantian histeris meneriakan nama Afgan, Tangga, Judika atau Bayu Risa. Ditambah teriakan para fans Ungu, Nidji dan ST12 bergantian tampil membawakan lagu lagu yang enerjik. Serta masih banyak lagi yang tentu saja kalau semakin ditulis bisa membuat kecemburuan bagi mereka yang belum mendapatkan rejeki undangan acara tersebut. Hehehe.

Begitu pula aku sendiri, aku memang semenjak mendengar informasi dari seorang rekan yang merupakan salah satu staff di Kompas TV perihal konsep acara di stasiun tersebut yang satu genre dengan National Geographic atau Discovery Channel yang rada ‘mengharamkan’ infotainment tentu membuat aku semakin tertarik dan ngotot untuk mendapatkan tiket undangannya. Aih, jarang jarang TV model begini.

Makin bersemangat saat tahu ada sesi acara ‘Stand Up Comedy Indonesia’nya. Waah… wajar saja jika aku memilih menunggu acara tersebut yang pasti berbeda dengan teman-teman yang lain karena memang aku sangat tertarik dan terlibat dalam khasanan humor Indonesia walau semantara ini hanya lewat buku dan blog di Kompasiana ini.

1315642431894167430

Stand Up Comedy KOMPAS TV bersama Om Indro Warkop, Pandji dan Raditya

Untung saja, KOMPAS TV mampu mengemas perbedaan itu dan mempersatukan menjadi satu kemasan sajian yang pastinya bukan sekedar inspiratif tetepi lengkap menjadi ‘menghibur dan menginspirasi’. Nah soal Stand Up Comedy ini juga, aku sungguh memberikan apresiasi tersendiri kepada Kompas TV yang sudah memberikan ruang bagi comedian untuk dapat mengekpresikan kemampuan dan talentanya disini.

Banyak yang tidak tahu kalau dari jalur ini muncul mana-mana besar di dunia seperti Russel Peters, Jerry Seinfeld, Woody Allen, Chris Rock, Eddie Izzard atau Jim Carray yang konon kabarnya juga besar dari panggung ini sebelum menjadi actor besar di perfilman Hollywood. Bahkan yang lebih keren lagi, gelaran komedi seperti ini juga sukses dijadikan alat perdamaian dan saling menghilangkan stereotip masing masing agama seperti Islam, Kristen dan Yahudi oleh Omar Regan, Ahmed Ahmed, Samson Koletkar dan Mike Batayeh lewat tur komedi FUNATICAL yang sangat fenomenal tersebut.

Nah, sepertinya tidak usah jauh-jauh ke luar negeri deh… Sebelum era Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika di era Twitter dan FB ini tentu kita masih ingat acara ‘Comedi Café’ yang digawangi Alm. Taufik Savalas,’ Kuis Jari-jari’ oleh mas Pepeng dan mas Iwel di ‘DemoCrazy’ yang bisa disebut Stand Up Comedy juga. Atau mungkin masih ingat monolog kocak mas Butet Kertarajasa dan humor inspiratif motivatif mas Prie GS yang sering terdengar di radio Smart FM juga generasi senior yang hebat di panggung komedi yang lucu dan cerdas.

Bahkan, kalau boleh sombong, budaya Stand Up Comedy sebenarnya sudah lama membudaya di Indonesia khususnya di tanah Jawa, Pasundan dan Papua. Kita juga punya aksi panggung one man show yang kalau boleh dibilang lebih komplit karena satu orang tersebut bisa serius sekaligus melucu dan melawak dalam salah satu sesi pertunjukannya. Tidak lain dan tidak bukan tentu saja mereka para dalang Wayang Kulit lewat sesi guyon ‘Punokawa’ Semar Petruk, Gareng Bagongnya seperti, almarhum Ki Narto Sabdo, Ki Manteb Sudarsono, Dalang ‘edan’ Ki Entus Susmono atau juga Kang Asep Sunandar Sunarya sangat legendaris dengan tokoh kocak Cepot-nya dan aksi humor Mob yang sering dilakukan mahasiswa Papua di acara-acara kampus.

Jadi, asal soal posisi duduk bersila para dalang tidak dipermaslahkan sudah percayakah kalau bangsa Indonesia adalah inspirator humor Stand Up Comedy? Hihihi. Dan terimakasih buat KOMPAS TV yang sudah mau melanjutkan tradisi ini.

[Bekasi, 9 September 2011]

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: