Artikel

Humor

Doddy Poerbo

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Lahir sebagai orang Indonesia

Suatu Masa di Majapahit (4)


OPINI | 18 December 2011 | 03:33 Dibaca: 269   Komentar: 0   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

Riuh rendah bursa calon pengganti Raja Majapahit yang hendak lengser keprabon lantaran konstitusi Konfederasi Majapahit demokrasi  sudah membatasi masa jabatan raja.  Tuduhan bermain syarat2 yang dibuat Dewan Perwakilan Rakyat Majapahit ( DPRM)  dibalik penjegalan pesaing disamping syarat yang dikeluarkan oleh Juru Hukum Majapahit.  Seperti nasib yang dialami oleh Raden Roro Sri Mugeni, mantan bakul jamu yang saat ini menjadi boss bank Kampiun yang senang memberi hutangan kepada pemerintahan Kerajaan Majapahit, harus rela karena jalannya untuk mencalonkan  diri menjadi Calon Ratu terganjal oleh aturan Juru Hukum.   Pangeran Harta Rajasa yang diharapkan oleh besannya untuk meneruskan tahta  Majapahit  akan  merasa lega, satu pesaing berhasil dikandangkan.  Sementara itu, banyak pihak juga sudah  berusaha memecah persatuan wong kito dengan mendorong Pengiran Adulihay agar merayu Peteri Maharani.  Pasangan Pangeran Harta Rajasa dan Puteri Maharani akhirnya bubar. Puteri Maharani urung maju bersaing, namun menawarkan  bundanya, Ratu Langit, katanya bundanya itu masih laku untuk dijual. Pandangan Puteri Maharani ditanggapi senyuman Pengiran Adulihay, sayapun belum menawar, katanya.

Langit  masih biru, belum menjadi kuning seperti sumpah Pengiran Adulihay. Sementara Sang Raja, kecuali sudah merestui besannya untuk menggantikan putera mahkota yang badannya belum besar, calon lain masih  didalam karung sang Raja.   Dalam keramaian politik Majapahit, sesekali muncul Pangeran Samber Geledek, kawan akrab Ratu Langit. Namun kali ini dia berjalan sendiri tanpa Ratu Langit yang sudah mulai menjadi nenek nenek. Seperti biasanya, Pangeran Samber Geledek bicara lantang ditengah kerumunan masyarakat Majapahit.

” Saya Pangeran Samber Geledek, Ketua Petani dan Nelayan Majapahit. Saya akan meningkatkan kesejahteraan para petani dan Nelayan Majapahit….. ” Katanya berapi api  namun terhenti karena teriakan penonton.

” Petaninya kemana … ? ” Teriak penonton. Pangeran Samber Geledek clingak clinguk, tak ada petani diantara penonton.

” Lha wong sudah pada jadi TKM ( Tenaga Kerja Majapahit ) …. sudah makmur sendiri …. !!! ” Sahut penonton lainnya.

” Masih banyak petani yang belum makmur ……. ” Pangeran Samber Geledek berusaha melanjutkan pidatonya.

” Stop…stop …. petani lain sudah habis …. ” Teriak penonton.

” Pada kemana …. ? “  Tanya Pangeran

” Memangnya tidak tahu …?.    Katanya Ketua Petani, tetapi tidak tahu anggotanya disembelehi Pamswakarsa .. !!! ” Teriak penonton.

“  Apa iya ?.  Saya tidak mendapat laporan. Kalau begitu saya akan memajukan nasib nelayan ….. ” Ucap Pangeran Samber Geledek terhenti lagi oleh teriakan penonton.

” Nelayannya juga sudah habis … !!! ” Teriak penonton.

” Kemana  ???? ” Pangran Samber Geledek mulai bingung.

” Ketua Nelayan koq tidak tahu anggotaya ditangkapi wong Malaysia … !!! “  Sahut penonton.

” Kalau begitu kita ganyang Malaysia …… !!! ” Ucap Pangeran bersemangat.

‘” Ganyang pakai apa … ? Tanya Penonton.

” Pakai ini …. !!! ” Jawab Pangeran sambil mengacungkan keris sakti.

” Tidak takut … !!!! “  Teriak peonton.

” Pakai ini !!!! ” Kata Pangeran sambil mengacungkan clurit.

” Tidak Takut … !!! Sahut penonton,

” Pakai meriem, bedil, pesawat tempur …. ” Kata Pangeran bersemangat.

” Tidak takuuuutttt …. !!!! ” Suara koor penonton.

” Pakai apa  ?????? ” Pangeran bingung.

” Pakai Asap … ” sahut penonton.

” Pakai asap ..? ” Pangeran Samber geledek tidak mengerti.

” Wong malaysia akan minta ampun kalau dikirimi asap, pasti  mereka akan datang kepada kita memohon agar jangan dikirimi asap, seringgit dua ringgit aka mereka berikan asal tidak dikirimi asap …. “  Begitu kata penonton.

” Kalau begitu kita kirimi asap …. ” Sahut Pangeran tumbuh lagi semangatnya.

” Telaaaaaaaaaaaaaaaaaat ……. ” Koor penonton.

“Lho mengapa …??? Pangeran bingung lagi.

” Sekarang banjir … hutannya sudah gundul ….. ” Sahut penonton sambil membubarkan diri.

Sementara itu Pangeran Harta Rajasa yang sedang pulang kampung mencari dukungan menyempatkan diri menemui Demang Kandang Bumi. Demang kandang yang sudah berusia lanjut itu merupakan tokoh masyarakat yang disegani di tanah Sriwijaya. Ucapannya masih menjadi panutan masyarakat setempat, sehingga  dalam bebrbagai perselisihan antara masyarakat, melalui wejangan dan pertimbangannya, perselisihan dapat didamaikan tanpa harus melewati proses pengadilan yang memakan biaya besar.

” Aku ini sedih nian mendengar bangsa kito dicap bangsa koruptor …, aku prihatin pegawai kecik lah kayo kayo …. ” Begitulah  keluhan Pangeran Harta Rajasa dihadapan Demang Kandang.  Demang Kandang manggut2 mendengar keluhan Pangeran, sejenak dia menggeser tubuhnya yang renta dan menengadah memandang langit2 rumah yang lebih tua dari usianya.

” Mak itulah kau seharusnya beruji, aku setuju nian kau nak jadi raja Majapahit …….. , wong politik harus peka ado wong miskin …. peka  bae lah cukup, rakyat idak akan protes sebab rakyat percayo wong miskin lah kehendak kuaso.  Kau sedin banyak koruptor, wong politik harus  pacak tunjukko raso sedih, kalau rakyat nuntut pemberantasan koruptor, kau jawab bae tidak dapat mencampuri urusan peradilan, bereslah itu … “  Kata Demang Kandang berfilosofi politik ala Majapahit.

” Muncak itu aku ini pantas nian   jadi raja Majapahit ….. ” Kata Pangeran harta Rajasa mengangkat diri.

” Kau pantas nian …..  so pasti, kau galak jadi Raja Majapahit … tetapi idak untuk raja Sriwijaya ……. ” Kata Demang kandang sambil menepuk bahu Pangeran Harta Rajasa mengiringi langkah mereka menuju pintu keluar rumah.

Bersambung.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: