Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Abanggeutanyo

Pengamat : Mengamati dan Diamati

Soeharto: “Piye Kabare? Enak Jamanku to?”

OPINI | 30 January 2012 | 06:06 Dibaca: 13092   Komentar: 160   5

1327855054679202139

Entah karena terlalu banyak kasus yang terjadi di negeri kita dalam kurun waktu satu dekade terakhir terutama dalam kasus - kasus terkait terorisme, anarkis, korupsi, pelecehan hukum, kerusahan, pemogokan buruh dan masalah lunturnya disiplin bangsa ini memancing imajinasi saya melayang-layang ke masa silam.

Masa silam yang dimaksud tidak terlalu jauh dan hanya terpaut pada seorang yang pernah memimpin negeri ini yaitu mantan presiden Seoharto. Entah rekan pembaca budiman setuju atau tidak  -sosok ini telah mengukir aneka goresan keberhasilan dan kegagalan dalam memimpin negeri dan bangsa ini dengan tangan besi dan otoriter-  saya melihat sosok Soeharto adalah sosok  pemimpin yang tepat dalam kondisi negara bangsa yang memiliki karakter seperti bangsa kita.

Dalam hayalan, pak Harto datang menyapa saya. Seperti biasa ia melambaikan tangannya. Dengan senyuman khasnya beliau cuma berkata singkat saja… ” piye kabare, enak jamanku to?” Antara sadar dan tidak sadar saya melihat pak Harto menggunakan  kain ihram, seperti saat melaksanakan ibadah haji.

Belum sempat saya mengucek-ngucek mata antara percaya dan tidak, beliau meneruskan kalimat singkatnya. “Sebetulnya menangani persoalan bangsa ini hanya memerlukan ketegasan saja..he.he.he….”

Saya terperanjat, membetulkan letak posisi saya duduk ingin bertanya lebih lanjut tapi sayang, sosok pak Harto berkelebat hilang dari pandangan.. Oh my god, bisik saya dalam hati, ia hadir pada orang yang tidak berkompeten mengurus negeri dan bangsa ini.

Setelah beliau “lenyap” dari pandangan tinggallah saya merenung beberapa patah kata  yang beliau tinggalkan, kira-kira sperti ini ” Apa kabarnya? Enakan jaman saya,kan? Mengurus bangsa ini perlu ketegasan, lho…” Kalimat ini mengilhami saya untuk menulis. Setelah menemukan tema dan beberapa literatur yang relevan dengan tema serta judulnya  saya mengambil secarik kertas dan menuliskan beberapa catatan.

Benarkah Jaman Soeharto lebih enak?

Bagi sebagian orang yang pernah merasakan penyiksaan dan perlakuan tidak adil pada jaman Soeharto mungkin akan menolak mentah-mentah pernyataan bahwa jaman Soeharto lebih enak.  Misalnya dalam bidang  pers dan media massa, lihat saja Presiden Soeharto  pernah melarang terbit beberapa surat kabar, yaitu Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pos Sore. Sedangkan bidang hukum dan militer banyak juga yang mengalami perlakuan yang dirasa tidak adil, misalnya berlakunya Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh dan lain-lain.

Akan tetapi sebaliknya jika diantara mereka pernah merasakan betapa enaknya dan sukses meniti karier dan berbisnis  pada zaman Soeharto tentu akan setuju menyebutkan paling enak jaman Soeharto. Bahkan diantara mereka pedagang kaki lima dan orang-orang di pedesaan yang tidak mendapat manfaat apa-apa pada jaman Soeharto mengatakan hal yang sama.

Jadi sangatlah dilematis menyebutkan  jaman pak Harto lebih enak ketimbang saat ini. Membicarakan mana yang paling enak, antara zaman pak Harto dengan saat ini sama halnya dengan mendiskusikan siapa duluan Ayam atau telurnya? Semua punya dalil, semua punya alasan, semua punya sejumlah bukti dan pengalaman bukan?

Tapi baiklah, oleh karena tulisan ini hanya menyampaikan petikan ucapan tersebut, ada baiknya kita mengupas apa sikh enaknya  jaman (era) Seoharto berkuasa? Beberapa hal penting yang dapat kita lihat secara kasat mata antara lain adalah :

  1. Pada era kepemimpinan Soeharto terutama setelah periode ke dua pemerintahannya (1978) sampai 1998 beberapa saat sebelum terjadinya reformasi menggulingkan pak harto, kita jarang merasakan keributan-keributan antar suku, antar geng, antar preman apalagi antar kampung.
  2. Pada era Soeharto meskipun korupsi telah ada -entah karena dipaksa bungkam- tidak terlihat vulgar dan terbuka bergerombol seperti saat ini.
  3. Tingkat disiplin warga dan masyarakat secara umum masih dalam batas toleransi. Mskipun ada demonstrasi sifatnya telah terkoordinasi dengan baik dengan pihak keamanan.
  4. Disiplin aparatur penyelenggara negara dan pemerintahan secara umum dapat terkendali karena koordinasi antar departemen dan lintas departemen berjalan dengan baik.
  5. Jaman Soeharto, para penguasa daerah tidak menjadi raja-raja kecil. Kepala Daerah dipilih melalui proses yang tidak berbelit-belit seperti saat ini yang justru mengahbiskan energi karena penuh trik dan intrik kepalsuan.
  6. Pada  jaman soeharto, harga dan bahan-bahan kebutuhan pokok relatif aman dan terjamin. Meskipun penghasilan rata-rata saat itu masih kecil namun dibandingkan dengan harga-harga masih terjangkau. Beda dengan sekarang meskipun gaji dan penghsilan rata-rata sudah naik ternyata lebih besar lagi kenaikan harga-harga sehingga daya beli Rupiah  terhadap kebutuhan menjadi lemah.
  7. Penegakan hukum pada jaman Soeharto memang ada kelemahannya. Hukum dapat diarahkan menurut kepentingan dan kebijakan politik, tapi tidak dilakukan secara berkomplot. Segala sesuatu yang bertentangan dengan kebijakan Soeharto pada masa itu saja yang mengalami gangguan dalam penegakan hukum.
  8. Penegakan HAM pada jaman Soeharto memang lemah, kesannya orang Indonesia dikeberi dan ditakut-takuti. Namun kemudia terjawab semua itu dilakukan secara bertahap (dari antisipatif sampai represif) karena harus dijawab dengan tegas. Penegakan hukum memang harus tegas dan keras, sebab jika tidak tegas dan keras maka akan banyak terjadi pemutar balikan pengertian hukum menurut interpretasi masing-masing.
  9. Peluang bisnis pada masa Soeharto paling kondusif. Banyak investor dalam dan luar negeri yang merasa nyaman dan yakin dapat berbisnis dengan baik. Hanya saja peluang bisnis itu disalahgunakan oleh beberapa konglomerat untuk memperkaya imperium mereka saja.
  10. Premanisme, anarkisme dan brutalisme yang dilakukan oleh oknum-oknum pada  jaman Soeharto pasti diproses meskipun secara tertutup. Sedangkan gangguan dan stabilitas keamanan dalam negeri yang diakibatkan oleh sipil pasti ditindak secara represif.

Masih banyak beberapa hal lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini termasuk misalnya masalah hubungan internasional baik dalam kawasan regional maupun internasional, posisi Indonesia disegani oleh kawan dan lawan. Kita memiliki politikus dan negarawan ulung yang dikenang sepanjang masa oleh kawan dan lawan baik di dalam dan luar negeri.

Akan tetapi yang paling membuat kita menyesal adalah masalah tumpukan hutang Luar Negeri yang menggunung dan masih harus dicicil adalah warisan yang tidak terjawab penyelesaiannya hingga kini. Disamping itu Kolusi dan Nepotisme keluarga pak Harto dalam beberapa bidang bisnis dan industri memang itulah sumber masalah yang mengantarkan beliau pada jurang kehancuran.

Imperium yang dibangun dengan biaya mahal itupun akhirnya luluh lantak berkeping-keping hampir tidak  tersisa sedikit apapun lagi tatkala negara terjebak pada kekisruhan dalam tutuntan reformasi sistematis yang menuntut  pak Harto dan kroninya turun dan tahta setelah puluhan tahun berkuasa.

Melihat banyaknya masalah-masalah yang terjadi saat ini yang mungkin sebagian besar atau kecil adalah limpahan “warisan” beliau pada penguasa saat ini kita jadi teringat pada beliau. Entah karena itu beliau “hadir” dalam opini humor seperti yang hadir dalam tulisan ini, kepada pembaca budiman.

Jika boleh bertanya, apakah benar jaman Soeharto lebih  enak dari sekarang dalam berbagai bidang pemerintahan dan ketatanegaraan (Politik, Ekonomi, Hukum dan lainnya). Jika rekan budiman berkenan memberi jawaban tentu akan lebih baik untuk kita diskusikan.

Salam Kompasiana

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Yogyakarta Antre 4 Jam Demi Segelas …

Hendra Wardhana | | 28 August 2014 | 16:35

Ahok: Pro Transportasi Publik atau …

Ilyani Sudardjat | | 28 August 2014 | 12:43

Kompasianer Ini Berbagi Ilmu Pajak …

Gapey Sandy | | 28 August 2014 | 14:56

Ice Bucket Challenge Versi Gaza …

Asri Alfa | | 28 August 2014 | 16:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 8 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 8 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: