Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Abanggeutanyo

Pengamat sosial ini lahir pada 1 Nopember 1965, di RI. Sekarang menetap (kembali) di garis selengkapnya

SBY : “Piye Carane, Mas? Kok Pada ‘Mabur’ Semua?”

OPINI | 05 February 2012 | 16:33 Dibaca: 362   Komentar: 8   0

Entah ada kaitannya dengan “pertemuan” saya dengan mantan Presiden Soeharto beberapa waktu lalu dan telah dipostingkan dalam tulisan  “Piye Kabare, enak jamanku, to?” di Kompasiana (30/1), seolah tulisan tersebut dibaca diperhatikan oleh SBY, buktinya tidak berapa lama kemudian tepatnya “semalam” saya bertemu dengan beliau. Kami pun terlibat obrolan ringan.

Waktu menunjukkan pukul 22.15 WIB. Udara malam ini agak terasa dingin, agak beda kondisinya dibandingkan biasanya. Entah karena itu para tetangga nun jauh beberapa meter dari rumah saya sudah pada terlelap. Jalan depan rumah saya di sebuah komplek yang asri dan di depannya terhampar lapangan rumput yang luas terasa lengang. Hanya suara angin berhembus sepoi-sepoi makin sedap rasanya.

Ditemani setengah bungkus rokok dan secangkir kopi yang sudah dingin saya menarik asapnya pelan-pelan. Wuuuusssh  …saya hembuskan gumpalan asapnya beberapa kali. Nikmat rasanya, sampai lupa ke Kompasiana tadi malam. Kembali saya tarik lebih dalam, wuuuusshssssshhhhhhh….gumpalannya sangat tebal..

Diantara gumpalan tebal itu, muncul seseorang yang aneh wujudnya. Sepintas mirip “Aladin” dalam cerita dari negeri satu malam dengan baju dan topi dan berterompah (sepatu) gaya Timur Tengah. Belum sempat membuang puntung rokok saya, ia menyapa saya ..

“Ha..ha.ha.ha… katakan apa yang kau mau, akan ku penuhi satuuuu permintaan” dia ramah sekali sambil mengepit kedua lengannya bersilang.

Oleh karena saya  tidak sedang memikirkan apa-apa tentang pribadi saya selain memikirkan badai politik yang dikuatirkan melanda negeri ini, saya hanya menjawab ringan saja. ” Kalau bisa pertemukan saya dengan presiden SBY. Saya ingin dengarkan apa kendala beliau dalam memimpin negeri ini.”

Om jin yang tidak sempat memperkenalkan namanya itu manggut-manggut, dia melentikkan ibu jari dengan jari tengahnya sambil tersenyum.. “OK..ok…cukup 15 menit saja ya?”. Ia pun melakukan panggilan. Terdengar suara “klik” dari petikan jarinya tadi.

Sejenak Om jin melihat ada sosok yang datang, ia  pun pamit.. Tapi sebelum beranjak ia minta rokok saya sebatang..”mas.. minta rokoknya sebatang, ya..?”

“Oh iya, silahkan saja…” Si Om merogoh bungkusannya.. Bukannya ngambil sebatang malah ngambil satu bungkus..Dasar jin, sulit dipercaya, he..he..he…

Kembali ke sosok yang datang tadi.. Tiba-tiba saya melihat sebelah kursi saya sudah  berdiri seorang pria yang berbadan tegap, besar. Aromanya wangi. Kelihatannya mirip seseorang yang terkenal di negeri. Sejurus kemudian saya paling wajah saya ke arahnya..

“Oh my god. Pak Beye, jadi datang juga..,” bisik hati saya, tiba-tiba berdegup kencang.. Ternyata benar janji si om jin., Ia mengantarkan pak SBY k hadapan saya. Saya pun menyapa ringan dan menyalaminya dan mempersilahkan beliau duduk.

Dalam keadaan sangat murung dan tidak cerita soal politik prkatis saja yaitu yang sedang terjadi saat ini. Kami terlibat pembicaraan yang emosioanl. Saya katakan emosional karena pak SBY berbicara tidak mengarah ke wajah saya. Beliau duduk di samping  kanan saya dan hanya beberapa kali saja menatap wajah, pertama saat duduk di sebelah saya, ke dua saat saya menawarkan (dibuatkan) kopi dan ke tiga saat salaman mau pulang.

Dalam dialog yang ringkas itu, intinya saya mengajukan beberapa pertanyaan, yaitu ;

  1. Mengapa partai demokrat yang bapak pimpin mendapat tekanan dan serangan luar biasa hebatnya dari masyarakat tanah air.

    • Masyarakat pantas melihat ini karena program yang saya bawakan dahulu bahwasanya saya yang akan berdiri di depan dalam memberantas korupsi ternyata disalah artikan oleh anggota saya. Mungkin mereka salah mendengarkan. Anggota saya menduga saya paling depan membiarkan korupsi.
    • Meskipun sebenarnya hal itu bisa direkonformasi dalam berbagai cara harusnya anggota saya menggunakan logika berpikir, mana mungkin saya seorang presiden menuruh seperti itu. Jangankan presiden, seorang kepala desa pun tak akan menyuruh anggotanya untuk berbuat korupsi.
    • Kekecewaan masyarakat wajar saja karena merasa amanah yang diberikan jadi sia-sia. Sayalah yang menjadi sorotan bangsa Indonesia, Ini konsekwensi logis sebagai pimpinan dan kepala negara.
  2. Mengapa anggota bapak dalam partai sepertinya sulit diatur dan menusuk dari dalam?

    • Terhadap pertanyaan ini beliau menjelaskan bahwa, anggota DPR RI dari partai yang dipimpinnya tidaklah selalu dalam pengawasannya. Beiau tidak tahu apa manuver politik dan pribadi yang dilakukan oleh sejumlah kader PD di luar DPR. Akibatnya adaanggota partai yang memanfaatkan segala hak yang menjadi hak seorang anggota DPR (hak berpendapat, hak angket, hak interpelasi dan hak imunitas). Belum lagi diantara mereka menggunakan dengan tidak benar fungsi sebagai anggota DPR (Fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan) untuk kepentingan golongan dan bahkan untuk tujuan pribadi.
    • Kondisi itulah yang menyebabkan anggota partai yang saya pimpin kesannya seolah-olah sulit diatur karena timbul masalah. Persoalan satu ditangani, muncul persoalan lain baik secara parsial maupun berkaitan.
  3. Mengapa anggota kabinet bapak sebagian besar seperti tidak mengerti dengan apa yang bapak Instruksikan?

    • Memang inilah yang jadi dilematis bagi saya. Paham pragmatis yang saya lakukan dalam berkoalisi dalam pembentuk Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) tujuannya adalah adanya pengakuan eksistensi dan demokrasi setiap partai. Saya tidak menganut paham dominasi dalam menyusun anggota kabinet karena itu tidak sesuai dengan prinsip demokrasi yang saya anut. Beberapa anggota KIB saya pimpin baik dari PD dan dari koalisi sepertinya kebingungan tidak mampu mengimplementasikan program dan arah yang saya canangkan.
    • Orang mengatakan terlalu banyak rapat koordinasi sehingga hanya bersifat teoritis melulu sehingga implementasi di lapangan menjadi lambat dan saling bertabarakan. Orang juga menilai koordinasi lintas departemen sangat lemah khusus ditingkat operasional.
    • Saya telah berusaha menerima masukan dari berbagai kalangan untuk menggantikan anggota kabinet dari yang ini ke yang itu. Menambah kabinet bahkan menambah wakil menteri, tujuannya agar semua program dapat terlaksana, bukan sebaliknya.
  4. Mengapa masyarakat menilai bapak seolah-olah tidak tegas dalam memberantas korupsi dan memimpin negeri ini?

    • Orang bisa saja menilai seperti itu mas.. Kita kan sudah mempunyai beberapa presiden sebelumnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Nah, saya mencoba menyempurnakannya. Oleh karena itulah saya menganut kehati-hatian. Orang menyebut pragmatis (konservatif) karena saya tidak ingin menciptakan aneka kerusuhan demi kerusuhan yang diakibatkan oleh sikap represif negara terhadap warganya.
    • Ada juga yang mengatakan bahwa saya menganut paham ekonomi neo liberalis dengan mengandalkan hubungan dengan negara-negara neo kapitalis sehingga mengutamakan kepentingan ekonomi pengusaha kuat dan menghancurkan perekonomian lemah, semua itu tidak benar. Yang saya lakukan adalah mendekat ke Barat agar mereka tidak mengobok-obok negeri ini dengan berbagai kepentingan  mereka yang bermuara pada terjadi perpecahan dan disintegrasi bangsa. Lihat saja beberapa negara yang berseberangan dengan kekuatan utama dunia khsususnya Barat, selalu ada saja ketidak stabilan dalam politik dan ekonomi mereka yang bermuara pada mundurnya keejahteraan bangsa. Ini yang saya kuatirkan menjaga keselematan 240 juta rakyat Indonesia. Apa jadinya jika prahara ekonomi melanda negara ini..? Kesan inilah yang ditangkap orang  seolah saya tidak tegas.

Sejenak beliau melihat ke arah Jam Rolexnya hadiah dari mas Ibas. Sejenak kemudian beliau meminta saya masukan. Beliau merasakan kesannya seolah-oleh anggotanya pada menumpahkan salah pada presiden semata. Terkensa mulai ada yang lari dari tanggung jawab.  ” Mas, piye carane, kok kesannya pada mabur (terbang) nikh..?”

Saya terksesima, seolah tak percaya kok seorang mantan bajak laut diminta masukannya untuk seorang presiden yang ternama di seluruh dunia. Tapi tak apalah, oleh karena beliau melihat ke arah jam tangannya untuk yang ke dua kalinya, saya pun memberi masukan singkat saja.

Kepada beliau saya katakan bahwa :

  1. Seorang pemimpin itu resikonya adalah dibenci. Tak perlu popularitas. Untuk mendapatkan popularitas dalam ratusan juga orang sangatlah sulit. Diantara ratusan juta itu pasti ada yang bertolak belakang.
  2. Seorang pemimpin itu harus TEGAS. Tegakkan kebenaran meskipun harus dibenci. Tegakkan kebenaran meskipun yang bersalah itu adalah anggota partai atau anak buah dari pusat sampai pelosok desa.
  3. Seorang pemimpin harus memuliakan supremasi hukum. Hukum tidak boleh dipleset-plesetin sesuai kehendak pratisi hukum dengan intepretasi masing-masing untuk melihat “celah” kelemahannya. Siapapun yang bersalah presiden berhak menekan lembaga yang dinilai lambat menanganinya.
  4. Meskipun Presiden bukanlah atasan DPR namun memberikan masukan kepada DPR berupa kritikan pedas terhadap anggota DPR yang tidak sesuai dengan amanat rakyat adalah tugas presiden. Hanya suara proesiden yang mampu menekan DPR, suara rakyat meskipun sejuta kali demonstrasi pun tak akan melunrutkan aorgansi dan disfungsi anggota DPR.
  5. Lakukan sidak, jangan terlalu banyak teori. Lakukan kunjungan-kunjungan ke daerah tanpa protokoler yang menonjol. Sistem pengamanan presiden tak perlu menonjol. Cukup dengan beberapa pengawal dan  meningkatkan infiltrasi intelejen yang intensif dan sistimatis.

Belum selesai meneruskan masukan nomor 6, terdengar suara om Jin..” mas..cukup..Time is over…Kalau mau panjang  mending tulis cerpen aja… he..he..he..” Om Jin melanjutkan candanya.

Tak lama pak Beye beramitan, ia memandang saya dan kami bersalaman. Kini terlihat wajah beliau yang sedikit cerah, berbeda dari pertama hadir tadi. Apakah beliau puas dengan solusi dan pertemuan ini apa tidak, tak sempat saya tanyakan gara-gara om jin disiplin dengan janjinya.

Sejenak om Jin melentikkan kembali jarinya…  “Klik..” Ke duanya berlalu dari pandangan saya…

“Oh iya saya Jin Kartubi…. Rokoknya masih ada tidak, hahahahaha”  om jin msih sempat berkalakar memperkenalkan namanya sambil menoleh kebelakang dan hilang dari pandanagan saya.

Saya pun terbangun dari duduk saya. Ternyata saya mimpi dan baru bangun pagi tadi tak sempat ke Kompasiana tadi malam..he..he..he…

Selamat berhari minggu..Salam Kompasiana buat semua..

abanggeutanyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Subscribe and Follow Kompasiana: