Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Hazmi Srondol

Ki Semar yang sedang turun gunung utk mendampingi Ksatria Pandawa di perang Baratayudha ====== email: hazmi.srondol@yahoo.com selengkapnya

Perbandingan Tiga Tanda Tangan Presiden; Soekarno, Soeharto dan SB Yudhoyono

OPINI | 17 March 2012 | 23:00 Dibaca: 15629   Komentar: 66   10

1331999757997194958

Soekarno, Soeharto dan SB Yudhoyono

“Tidak ada yang benar-benar rahasia di dunia ini, Le! Semua itu terbaca, termasuk tanda tanganmu! Elek tenan!” bentak keras bapakku waktu SMP dulu.

Aku hanya menunduk dan sedikit mengkeret dengan sorot pandangan mata bapakku yang tajam. Tatapan mata bak matahari di tengah hari bolong. Aku tak mampu menatapnya. Ibuku yang duduk disebelahku juga tampak terdiam. Sesekali hanya melirikku, tanpa membela apapun.

Saat itu, aku sangat kesal, marah sekaligus ketakutan. Tanda tangan yang berbentuk huruf M terbalik itu membuatnya gusar. Waktu itu aku tidak mengerti sikap ke otoriteran bapakku itu. Aku masih ingat, ada sekitar 4 lembar kertas folio di sodorkan dengan kasar di depanku, lengkap dengan pena jadul yang baru diisinya dengan tinta. Aku dipaksa untuk membuat tanda tangan baru. Banyak sekali yang aku coba. Dari model bapakku sendiri hingga model tanda tangan ibuku. Bapakku masih sangat tidak puas.

Malam itu sekitar ba’da maghrib, bapakku membeli sebuah buku menulis halus berwarna biru dongker dan sekali lagi, memaksaku menyalin sebuah sebuah cersil Kho Ping Ho dengan tulisan bersambung. Sumpah, jadul banget! Bahkan mirip tulisan orang tua. Setelah beberapa jam terkantuk-kantuk, akhirnya salinan itu selesai. Setelah itu, diprintahkannya kembali untuk membuat tanda tangan baru. Sepertinya cocok dengan tanda tangan baruku itu. Tanda tangan yang mirip dengan dengan model tanda tangan ibuku.

“Buang dua titik dan garis dibawah itu. Kamu pengen bapak ibumu cepet mati hah!!!” bentaknya lagi.

Akupun menurut. Kecuali garis dibawah tanda tangannya.

“HAPUS GARISNYA!!!”

Langsung aku mengkeret. Mirip bekecot yang disiram garam.

…….

Beberapa tahun setelah kedua orang tuaku meninggal, akhirnya aku sadar. Apa yang diminta almarhum bapakku itu ternyata adalah hal yang luar biasa. Ilmu membaca tanda-tangan yang beliau miliki ternyata di jaman sekarang menjadi sesuatu yang sangat menarik. Bahkan nama inggrisnya pun keren, yaitu ‘Graphology’.  Nggak kalah keren dengan kata astromony, geology ataupun biology. Bahkan seni membaca tanda tangan ini konon sudah menjadi bagian dari ilmu psikologi dan tak jarang aku menemui jasa pembacaan karakter lewat tanda tangan untuk penerimaan pegawai baru di perusahaan-perusahaan besar.

Lebih menariknya, di kampus Universitas Urbino, Italia; Universitas Automonus di Bercelona, Spanyol maupun  Instituto Superior Emerson, Buenos Aires, Argentina menawarkan akridasi untuk gelar grapolog ini. Kalau tidak salah bergelar MA dan BA di bidang Graphology.

Buku teknik dan teori membaca tanda tangan ini sudah banyak aku lihat di toko-toko buku. Banyak detail yang diungkap dalam buku-buku tersebut. Akupun mempunyai beberapa koleksinya. Walaupun setelah dibaca, kajiannya sangat rumit dan sepertinya memoriku tidak cukup untuk menghapal semua. Cuman sedikit mengorek teknik membaca tanda tangan dari almarhum bapakku sebelum meninggal, bagiku sepertinya teknik beliau jauh lebih mudah aku pahami.

Menurut beliau, setiap orang itu mempunyai cetak biru dalam jiwanya. Cetakan ini yang membuat tubuh akan bereaksi pada syaraf-syaraf motorik kasar dan halusnya. Bentuk tanda-tangan adalah hasil cetak biru mini dari keseluruhan jiwa dan karakternya. Untuk membacanya dengan cepat, menurut beliau, mesti mengikuti ‘getaran’ energy yang dihasilkan dari bentuk tanda-tangan tersebut. Pembaca tanda-tangan harus memposisikan sebagai penulis tanda-tangan.

Dan sepertinya aku paham sekarang, bapakku membuat pola terbalik yaitu merubah tanda tangan agar cetak biru kepribadianku juga ikut berubah. Untung saja, walau dulu sempat malas-malasan diajarin olah rasa. Kini sedikit banyak apa yang yang dipelajari dari Almarhum bapakku bisa aku manfaatkan, setidaknya pada saat meeting aku bisa meraba karakter peserta meeting dari absensi nya. Banyak konflik dan kemungkinan sakit hati bisa dihindarkan dengan mencoba memposisikan diri agar tidak berbenturan dengan karakter lawan bicara.

….

“Coba le, bandingkan tanda-tangan bung Karno dan pak Harto. Itu contoh tanda tangan yang bagus dan kuat!” kata beliau saat menunjukan foto copyan tanda tangan Bung Karno dan Pak Harto. Aku manggut-manggut saja waktu itu saat bapak menjelaskan perihal tanda tangan dua tokoh bernama depan huruf yang sama yaitu huruf ’S’ itu.

Dimana menurutnya, Bung karno memang sejak lahir, kecil, besar dan tuanya terlahir masuk dalam lingkaran kekuasaaan. Pribadi yang terbuka dan jelas dibaca kemauannya seperti membaca namanya di tanda tangannya. Namun sayangnya, ada satu titik kecil di ujung tanda tangannya yang berarti kematian atau penghabisan. ( Hmm, jadi penasaran dengan tanda titik diujung nama Putra Sampoerna, apakah akan berarti sama? Yaitu akan ada penghabisan karir/bisnis Sampoerna Grup?). Dan anehnya, menurut beliau juga, nama Bung karno akan hidup kembali setelah masa kematiannya Hal ini digambarkan dengan adanya garis pendek di belakang titik.

1331999864273129071

titik kecil diujung tanda tangan Putra Sampoerna

Untuk Pak Harto memang terdapat beberapa kesamaan dengan Bung Karno. Pribadi yang mantab dan tegas. Masa kecil yang suram dan sengsara. Namun hebatnya, takdirnya mampu memisahkan dan menghapuskan masa kecilnya. Jelas terlihat dengan satu titip pemisah dari huruf S pertamanya. Selanjutnya mudah di tebak, pertengahan umurnya di lalui dengan gemilang dan mencapai puncak pencapaian yang tertinggi.

Cuman menjelang masa tuanya, kepribadiannya sedikit berubah. Sikapnya menjadi penyendiri dan jarang berkomentar. Kalaupun berkomentar akan terdengar tajam dan menusuk perasaan yang mendengarnya. Saat mencapai puncak kejayaan keduanya, halangan besar menusuknya hingga runtuh. Namun yang menarik, menurut Almarhum bapakku–semenjak sebelum lahir, terlahir hingga meninggal, ada yang memantau keberadaannya, bahkan boleh dibilang memusuhi. Namun anehnya, saat beliau meninggal arah berbalik menjadi merindukannya. Hal ini digambarkan dengan garis berbalik arah di bawah tanda-tangannya.

Dari dua tokoh berhuruf depan S itupun akhirnya menyisakan sedikit rasa penasaran bagiku. Ada satu lagi presiden yang berhuruf depan S yaitu Pak SBY. Aku sering membanding-bandingkan tanda-tangan beliau dengan kedua tokoh sebelumnya.

Konon, tanda tangan SBY juga termasuk tanda tangan yang bagus. Berkepribadian kuat dan mempunyai masa lalu (kecil) yang sangat well organized. Tertib dan sangat jelas. Pemilihan nama yang ‘Yudhoyono’ yang berarti seni berperang lebih ditonjolkan daripada nama ‘Susilo Bambang” yang berarti pertapa/pemimpin yang santun. Memang terlihat di pertengahan umurnya banyak terlibat dalam lingkarang kekuasaan yang sedikit rumit. Bahkan akan sempat ada penurunan pada ujung karirnya. Walau yang mengejutkan, garis penutup yanda tangannya sangat jelas dan mencerminkan kekuatan kebangkitan dan kemuliaan menjelang ajalnya.

Sungguh andaikan almarhum bapakku masih hidup, ingin sekali aku berdiskusi kembali soal tanda tangan presiden yang ketiga dengan huruf depan S ini. Disamping mereka sama sama berhuruf depan sama tetapi ketiganya aalah tokoh besar yang menyimpan banyak ilmu untuk dipelajari.

Namun ada satu temuan jenis tanda tangan yang menarik juga di salah satu blog. Kalau yang satu ini tidak perlu merindukan almarhum Bapak untuk diajak diskusi. Orang awam pun akan tahu, tanda tangan yang ruwet  dan mendominasi lembaran Akte kelahiran itu berarti.. lebaaayyyyy…..

13319999531548856972

LEBAAAAYYYYYYY

[Bekasi, 17 Maret 2012]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 8 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 9 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 12 jam lalu

Bebek Betutu Ubud Pak Mangku …

Febi Liana | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sepucuk Surat untuk Gadis Kaili….. …

Soentanie Yukie | 8 jam lalu

Haruskah Kugembok Akunku? Belajar dari Kasus …

Anggie D. Widowati | 8 jam lalu

Trik Marketing atau Trik Penipuan? …

Putriendarti | 9 jam lalu

Kejujuran …

Rahmat Mahmudi | 10 jam lalu

Berupaya Mencapai Target Angka 7,12% …

Kun Prastowo | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: