Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Nadhya Shafwah

Sebulir pasir yang ingin kokoh di tembok peradaban.. Mencoba menceritakan liku-liku kehidupan dari sudut lain selengkapnya

Manusia Kloning, Pernah Lihat?

REP | 17 June 2012 | 11:41 Dibaca: 545   Komentar: 2   0

Pernah lihat manusia kloning? Saya pernah. Mau tau? Ceritanya begini, once upon a time saya punya teman sebut saja si A dan si B. Si A dan si B pada mulanya bukanlah 2 orang yang punya style sama. Asal mereka juga berjauhan. Si A dari Borneo dan si B dari Java. Tapi seiring waktu berjalan, semakin hari saya lihat si A dan si B seperti 2 bayi kembar yang lahir hanya berselang menit, tentu saja dengan rahim ibu yang sama. Bak sampah dibelah duren, ehh salah maksud saya bak pinang dibelah dua. Kini, si A tampak tak lagi khas dengan gaya dan busananya dulu, saat kami pertama kali bertemu. Memang, perubahan lingkungan dan penetrasi budaya yang tak terbendung mau tidak mau menjadi kambing hitam atas perubahan yang terjadi pada si A. Apalagi bila boleh dikatakan kalau si A adalah orang baru di kota metropolitan. Tapi saya tidak turut menyalahkan arus massive budaya tersebut. Tidak. Menurut saya seberapapun kencangnya angin menghantam pohon yang menjulang tetaplah kekokohan dahan yang membuatnya mampu bertahan. Begitu juga dengan prinsip yang seseorang pegang dengan mantap, takkan mampu mengubah paradigmanya atas sesuatu barang sedikitpun. Itu kalo dia idealis. Tidak pragmatis, liberalis apalagi apatis. |Hahh, apa tadi?? |Sudah, sudah, gag usah dipikirin :D

Lanjut kisah, hiposesis tentang perubahan si A akibat budaya di lingkungannya telah terbantah. Maka hiposesis selanjutnya harus kita uji. Jika si A adalah parent bergenotip AaAA disilangkan dengan si B dengan genotip bbBB maka berapa rasio F1 dengan genotip AabB? |Weleh, welehh! -_-‘

Sebenarnya rumus pewarisan genetika ini, maaf maksud kami landasan teori atas hipotesis terhadap perubahan yang terjadi pada si A sudah ada sekira 14 abad silam, sejak risalah Islam hadir dibawa seorang yang ummi, Muhammad. Jauh sebelum Gregor Mendel menemukan Hukum Pewarisan pada persilangan tanaman ercisnya. Ketika tuntunan wahyu pada saat itu masih turun satu persatu, belum lah menjadi bundel mushaf dan hadist seperti saat ini. Kala itu lisan manusia mulia Muhammad bersabda, “Jika engkau hendak mengenal seseorang (siapa dan bagaimana dia?), maka lihatlah dengan siapa dia berteman. Maka seperti itulah dia.” [Al Hadits]

So, benar bila saya tidak mengambil kesimpulan atas budaya seperti dalam hipotesa awal tadi. Hipotesa kedua telah kita analisa, bahwa rasio perubahan si A sebagai kloning dari si B adalah positif menghasilkan perbandingan 50:50, itu berarti deal. |Gubrakk!! :p

Jelas bahwa perubahan si A menjadi manusia kloning layaknya si B telah sesuai dengan hipotesa 2. Data yang terbaca menyatakan variabel x yang diberikan kepada si A menghasilkan pola tingkah yang sama seperti yang ditunjukkan oleh si B. Selanjutnya untuk variabel p, juga ditunjukkan hasil yang hampir sama. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesa 2 telah sesuai dan terbukti. |Yeahh :D

Catatan :

- variabel x adalah penunjukan untuk xtion (action).

- variabel p adalah penunjukan untuk paradigm, bukan paranorm lho.

|Bingung?? Bagus >.<’

Nahh, itu tadi cerita panjang lebar dan tinggi bagaimana saya pernah menemukan dan sempat menganalisa manusia kloning disekitar saya. Perubahan ini bukan perubahan genetik layaknya kacang ercis Gregor mendel, bukan karena mutasi akibat paparan, bukan pula karena salah diagnosa. Akhirnya, saya harus segera pamit pulang, cuci kaki, minum susu lalu tidur. Baiklah pembaca yang budiman, cerita ini berakhir di Januari, upss i mean disini :D

Nb :

1 hal yang masih mengganjal dihati, sebenarnya saya ingin bertanya.. “Apa pembaca juga pernah menemukan manusia kloning seperti yang saya temukan tadi?” Saya sendiri bingung mengapa saat ini banyak manusia kloning, dari rentang usia anak-anak, remaja, dewasa bahkan level tua renta. Ada manusia kloning yang mirip tokoh kartun Sinchan, ada yang mirip artis, GirlBand dan BoyBand Korea, ini yang paling banyak saya lihat di koran, tivi. Ada yang mirip Lady Gaga, ini juga lumayan banyak. Ada yang mirip ‘jin merah’, dan masih banyak lagi yang lainnya, sebagainya, dan seterusnya, silakan pembaca lengkapi sendiri titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang tepat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Topeng Politik Langsung Terbuka di Hari …

Hanny Setiawan | 8 jam lalu

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 10 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 13 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Cinta yang Terlarang #14 ; Cuma …

Y.airy | 8 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 8 jam lalu

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | 9 jam lalu

Dzikir Seorang Perokok …

Ahmad Taufiq | 9 jam lalu

Superbike R-25, Solusi untuk Gerak Cepat …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: