Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Orang Udik ke Ibu Kota

OPINI | 04 October 2012 | 21:49 Dibaca: 670   Komentar: 29   9

Lagi ada sahabat dari sebuah kabupaten di luar Jawa berkunjung ke Jakarta. Di telpon ahhhh… Biar nampak ada perhatian (ceillee… sok perhatian segala). Soalnya dia itu baik banget. Kata dia di pesan pendek, hari ini jadwalnya sudah longgar. Kemarin2 sibuk sekali dengan berbagai training dan meeting.

Tadi aku minta waktu buat nelpon. Dia mengijinkan.

“Halloo……. asyik yaa di Jakarta?”

“Ramai banget Cil. Beda jauh ama kampung.” jawabnya dari seberang.

“Banyak lampu kah?” mulut mulai gatal untuk meledek.

“Kaget. Banyak lampu, gedung2 tinggi, mobil bagus, orang cantik.”

“Hahahaha…..” aku tertawa. Tapi tentu dia cuma bercanda. Kemegahan dunia itu cuma sementara, hanya sarana untuk mencapai keabadian, bukan tujuan.

Dan tentu saja yang  dia lihat yg bagus2 wong tinggal di hotel berbintang. Coba masuk gang di sebelah hotel. Pasti di belakang hotel sudah padat sekali dgn pemukiman. Rumah2 hampir tak berjarak, banyak orang nongkrong, got2nya mampet hingga airnya kental hitam seperti oli bekas. (Maaf yaa warga Jakarta…. ane sedikit nyablak).

Tentu gak cuma Jakarta saja yg begitu. Kota2 besar umumnya kondisinya  sama. Bandung, Surabaya, Semarang, …. (yg pernah  di lihat baru  3 itu). Display depan cantik, apalagi kalau kena cahaya lampu. Tapi di baliknya gudang padat penuh aneka barang. Di belakang2 gedung megah biasanya ramai penghuni. Bahkan air pun jadi mahal, harus beli.

“Pas tiba di bandara kemarin bingung sekali. Bandaranya luas sekali.”

“Hihihi….” aku ketawa. Kebayang bandara Sukarno Hatta yg  sangat ramai. Berbagai model manusia ada di sana. Bermata sipit, besar, biru, kuning,  semua ada. Semua bergegas menentukan langkah tujuan masing2. Hanya sebagian kecil yg punya tujuan kepergian yg sama.

Baru penerbangan domestik saja sudah bingung, apalagi kalau internasional coba.Namanya juga baru pertama kali. Besok kalau sudah berkali2 pasti sambil merem pun sudah hafal rute2nya keluar masuk bandara.

“Pede aja lagee……,” sbg sahabat aku mencoba memberinya semangat.

“Tasku ditarik2 orang,” curahatnya.

Aku tambah ketawa. Namanya saja tempat umum. Pasti banyak didatangi orang untuk mencari rezeki. Mungkin maksud dia porter calo ataupun angkutan yg menawarkan jasa. Aku juga tak bertanya lebih lanjut karena hasrat untuk menertawakan lebih besar.

“Terus aku bilang, sebentar mas. Ini mau naik apa juga masih bingung.”

“Wakakkaka…..” aku makin ngakak. Semasih di kampung ia sudah kusarankan untuk naik taksi. Tapi kata dia sangunya pas-pasan. Jadi naik taksi akan jadi alternatif terakhir. Prioritas utama bus atau angkot yg murah meriah.

“Trus akhirnya naik apa?” tanyaku.

“Naik Damri. Sampai Gambir.”

“Wew….. hebat. Mulai ngerti medan ibu kota neehh,” kataku setengah memuji setengah meledek.

“Di hotelnya makin bingung,” lanjutnya.

“Lhoo…. gimana emang?” tak sabar untuk dengar cerita selanjutnya. Gak cuma dia, saya pun pasti super bingung kalau masuk ke tempat yg pakai fasilitas modern.

“AC nya dingin banget. Wah bisa bikin masuk angin beneran.”

“Hahahaha…. bisa disetel tuh suhunya. Minta aja jangan terlalu rendah.”

“Pesertanya banyak.”

“Ooowhh……” hanya itu yg terlontar dari mulutku.

“Di kamar mandi aku salah pencet. Awalnya airnya biasa, eh lama2 panas banget. Kaget bener.”

“Wakakkaka, tinggal ngasih kopi ama gula tuh,” godaku.

“Itu ada tanda merah ama biru kan di kran. Yg merah untuk air panas, yg biru air biasa,” lanjutku. Tentu saja infoku sudah telat, karena ia sudah terlanjur keslomot air panas.

“Kunci kamarnya juga gak seperti kunci di rumah,” ia melanjutkan episode kabayan masuk kota.

“Pakai kartu?” tanyaku.

“Iya. Wah suka lupa bawa. Kalau ditutup pintunya suka ngunci sendiri. Eh,,, sampai luar gak bisa masuk lagi. Yaahhh… kuncinya masih di dalam.”

“Hahahhaha…..”  aku ketawa  membayangkan eks mahasiswa pintar di jamannya itu tiba2 jadi katrok.

“Sama teman2 di sini suka diolok2 : dasar orang udik.”

“Hahahahha… benar itu. Awas lho besok di bandara toiletnya juga aneh, gak ada bak airnya,” godaku.

“Trus sudah beli oleh2 belum?” ehm, pengin tau cerita dia lagi.

“Udah, kemarin. Habis acara kantor terus ke tempat  belanjaaan. Beli baju buat anak2.”

“Trus udah jadi nengok saudara?”

Saudara dia ada yg lagi sekolahan polisi, alias ditahan. Katanya sih kasus narkoba.

Kadang saya juga pengin tau rasanya ganja. Orang Aceh konon biasa masak pakai ganja. Kalau orang Jawa masak pakai ganja boleh gak ya? Kalau dipakai masak tentunya bukan penyalahgunaan, tapi pembenargunaan.

Boleh gak sih beli daun/ biji ganja buat masak di Jawa? Kalau gak boleh beli, boleh dong nanam sendiri…# niru akal  band yg nyoba nanam ganja (tapi ditangkap polisi). Please yg ngerti hukum, kasih info yaa keabsahan pakai ganja buat masak  sebelum ane nyasar di tangkap polisi.

Ganja nasibnya bukankah spt anjing? Sama2 ciptaan Tuhan. Daging anjing haram dan air liurnya najis. Tapi kalau memelihara anjing untuk jaga keamanan dan tinggalnya gak serumah sama manusia dibolehkan. Bahkan ada cerita seorang manusia masuk surga gara2 memberi minum anjing yg kehausan.

Ganja pun pastinya begitu. Kalau buat fly melanggar undang2. Tapi kalau buat bumbu masak boleh2 saja harusnya.

“Udah, kemarin. Sekalian belanja itu.”

“Seneng dong saudaranya?” tebakku. Orang yg lagi diasingkan pasti seneng banget kalau ada yg nengok. Seperti orang harus menginap di rs, trus ada yg nengok. Rasanya nyessss…ada yg perhatian.

“Seneng banget. Sudah lama sekali gak ketemu.”

“Wedew… seperti musim kemarau disiram setees air,” kumat sok puitis.

“Alhamdulillah, akhirnya kesampaian ketemu kakak,” katanya.

“Dua saudara aja beda nasib ya. Yg satu tinggal di hotel, yg satu tinggal di gudang,” kumatku berlanjut.

“Biar tinggal di hotel kalau gak ada bini sama juga tinggal di gudang,” jawabnya.

“Cyahahhaaha……,” kami tergelak.

Keberadaan istri ternyata sangat penting buat yg sudah menyandang gelar bapak2 yaa…

Jadi ingat lelucon ustadz, “Jangan minder punya rumah jelek. Walau rumah bambu kalau punya garwo (pasangan sah) akan hangat. Tapi walaupun tinggal di rumah megah kalau gak ada garwo (pasangan sah) akan dingin.”

Hayoooo… yg belum punya garwo, cepetan ke penghulu.

THE END

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 13 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 14 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 15 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: