Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

(Humor) Bahasa Daerah yang Paling Lucu

OPINI | 09 December 2012 | 17:13 Dibaca: 2346   Komentar: 0   4

Bahasa daerah mana yang paling kocak dan humoris? Mungkinkah jawabannya dicari pada jumlah pelawak yang sudah mencuat namanya di dunia hiburan? Kalau parameter ini yang dipakai, tak pelak lagi bahasa Jawalah yang paling komikal dan humoris. Barangkali tak obyektif dan tak fair premis ini, karena kita tahu bahasa Sunda, bahasa Betawi, bahasa Palembang, bahasa Tegal dan sebagainya tak kalah lucunya sebagai bahan baku lawakan. Mungkin karena bahasa Jawa merupakan mayoritas, sehingga komedian Jawa mendominasi dunia lawak di Indonesia.

Saya teringat pada grup lawak Srimulat yang pada akhir tahun 60an sudah eksis di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Mereka melawak dengan menggunakan bahasa Jawa, atau tepatnya dengan bahasa Surabaya. Bahasa ini tak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena ‘roh’ lawakan ini sepenuhnya ada di bahasa daerah ini. Sebagai ‘arek Suroboyo’ saya merasa sangat nostalgik, membaca tulisan Tjamboek Berdoeri yang sarat dengan kalimat-kalimat humor segar khas Surabaya. Inilah sebagian cuplikannya.

“Keringatnya itu bios-biosan, kayak kuli manolan sing nenguluki peti-peti itu”. Saya tidak tahu asal kata ‘manolan’ ini, tapi di waktu saya masih kecil, orang yang rakus makannya, selalu diolok-olok seperti ‘kuli manolan’ yaitu kuli angkut barang di pelabuhan. Juga kalau orang mempunyai BB (bau badan, bukan ‘blackberry’) selalu diejek ‘ambune koyok kuli manolan’. Kata ‘bios-biosan’ ini juga sangat komikal di telinga, menggambarkan keringat yang mengucur deras dari sekujur tubuh.

Pada salah satu tulisan yang menggambarkan kehadiran tentara Jepang di kota Malang, Tjamboek Berdoeri menulis: ’kalau nampak serdadu Jepang dari jarak jauh saja, justeru  mereka yang lari sipat kuping seperti juga berpapasan dengen demit’. Kata ‘sipat kuping’ ini juga tak saya ketahui asal muasalnya, namun dia menggambarkan dengan pas keadaan orang yang lari tunggang langgang, lintang pukang karena ketakutan. Apa kaitannya dengan ‘kuping’ dan makna dari ‘sipat’, tetap masih merupakan tekateki untuk saya.

Di dalam tulisan lain mengenai nasehat untuk mewaspadai penjahit di Surabaya yang suka mengelabui pelanggannya dia menulis: ‘Bilangono nek lu ini keja pakean itu sebab mau kawin, dadinya nek dianya bikin ndak pokro, tanyaono sapa isin. (Katakanlah bahwa kamu membuat pakaian ini untuk menikah, jadi kalau dia menjahitnya tidak bagus, tanyakanlah yang malu siapa). Kata ‘pokro’ ini sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dia mempunyai spektrum makna yang cukup lebar mulai dari ‘layak, pantas, senonoh, terpuji, sopan, sesuai’ dan selalu diucapkan dalam bentuk negatifnya yaitu ‘ndak pokro’. Kalau kita memakai sandal jepit ke pesta perkawinan, maka pasti akan dikatain ‘ndak pokro’.

Ada satu kalimat yang sering menggelitik syaraf ketawa saya yaitu: Ik ndak mau kerja serabutan. Anda tentu mafhum bahwa kerja serabutan adalah ‘kerja yang tidak ada job description-nya tetapi bergaji kecil. Ada juga minuman sirup yang dahulu kala dijajakan di Surabaya yang dinamakan ‘es pasrah’. Supaya tahu, ‘es pasrah’ adalah es serut yang kemudian diberi sirop yang berwarna merah jambu, jadi tak ada kaitan dengan ‘pasrah’ yang maknanya ‘mengalah’. Lalu kalau orang Surabaya bilang ‘batukku ketatap’ itu maknanya ‘kening saya terantuk’. Ya, untuk saya bahasa Surabaya diucapkan dengan serius pun menimbulkan rasa geli dan kocak di hati. Jadi tak salah kalau dikatakan bahwa Jawa adalah jawaranya bahasa humor.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 10 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 13 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 13 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 7 jam lalu

Si Jangkung Tokyo Sky Tree …

Firanza Fadilla | 8 jam lalu

Pompadour …

Yulian Muhammad | 8 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 8 jam lalu

Luka …

Ukonpurkonudin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: