Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Gustaaf Kusno

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a selengkapnya

(Humor) Bahasa Daerah yang Paling Lucu

OPINI | 09 December 2012 | 17:13 Dibaca: 2357   Komentar: 0   4

Bahasa daerah mana yang paling kocak dan humoris? Mungkinkah jawabannya dicari pada jumlah pelawak yang sudah mencuat namanya di dunia hiburan? Kalau parameter ini yang dipakai, tak pelak lagi bahasa Jawalah yang paling komikal dan humoris. Barangkali tak obyektif dan tak fair premis ini, karena kita tahu bahasa Sunda, bahasa Betawi, bahasa Palembang, bahasa Tegal dan sebagainya tak kalah lucunya sebagai bahan baku lawakan. Mungkin karena bahasa Jawa merupakan mayoritas, sehingga komedian Jawa mendominasi dunia lawak di Indonesia.

Saya teringat pada grup lawak Srimulat yang pada akhir tahun 60an sudah eksis di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Mereka melawak dengan menggunakan bahasa Jawa, atau tepatnya dengan bahasa Surabaya. Bahasa ini tak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena ‘roh’ lawakan ini sepenuhnya ada di bahasa daerah ini. Sebagai ‘arek Suroboyo’ saya merasa sangat nostalgik, membaca tulisan Tjamboek Berdoeri yang sarat dengan kalimat-kalimat humor segar khas Surabaya. Inilah sebagian cuplikannya.

“Keringatnya itu bios-biosan, kayak kuli manolan sing nenguluki peti-peti itu”. Saya tidak tahu asal kata ‘manolan’ ini, tapi di waktu saya masih kecil, orang yang rakus makannya, selalu diolok-olok seperti ‘kuli manolan’ yaitu kuli angkut barang di pelabuhan. Juga kalau orang mempunyai BB (bau badan, bukan ‘blackberry’) selalu diejek ‘ambune koyok kuli manolan’. Kata ‘bios-biosan’ ini juga sangat komikal di telinga, menggambarkan keringat yang mengucur deras dari sekujur tubuh.

Pada salah satu tulisan yang menggambarkan kehadiran tentara Jepang di kota Malang, Tjamboek Berdoeri menulis: ’kalau nampak serdadu Jepang dari jarak jauh saja, justeru  mereka yang lari sipat kuping seperti juga berpapasan dengen demit’. Kata ‘sipat kuping’ ini juga tak saya ketahui asal muasalnya, namun dia menggambarkan dengan pas keadaan orang yang lari tunggang langgang, lintang pukang karena ketakutan. Apa kaitannya dengan ‘kuping’ dan makna dari ‘sipat’, tetap masih merupakan tekateki untuk saya.

Di dalam tulisan lain mengenai nasehat untuk mewaspadai penjahit di Surabaya yang suka mengelabui pelanggannya dia menulis: ‘Bilangono nek lu ini keja pakean itu sebab mau kawin, dadinya nek dianya bikin ndak pokro, tanyaono sapa isin. (Katakanlah bahwa kamu membuat pakaian ini untuk menikah, jadi kalau dia menjahitnya tidak bagus, tanyakanlah yang malu siapa). Kata ‘pokro’ ini sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dia mempunyai spektrum makna yang cukup lebar mulai dari ‘layak, pantas, senonoh, terpuji, sopan, sesuai’ dan selalu diucapkan dalam bentuk negatifnya yaitu ‘ndak pokro’. Kalau kita memakai sandal jepit ke pesta perkawinan, maka pasti akan dikatain ‘ndak pokro’.

Ada satu kalimat yang sering menggelitik syaraf ketawa saya yaitu: Ik ndak mau kerja serabutan. Anda tentu mafhum bahwa kerja serabutan adalah ‘kerja yang tidak ada job description-nya tetapi bergaji kecil. Ada juga minuman sirup yang dahulu kala dijajakan di Surabaya yang dinamakan ‘es pasrah’. Supaya tahu, ‘es pasrah’ adalah es serut yang kemudian diberi sirop yang berwarna merah jambu, jadi tak ada kaitan dengan ‘pasrah’ yang maknanya ‘mengalah’. Lalu kalau orang Surabaya bilang ‘batukku ketatap’ itu maknanya ‘kening saya terantuk’. Ya, untuk saya bahasa Surabaya diucapkan dengan serius pun menimbulkan rasa geli dan kocak di hati. Jadi tak salah kalau dikatakan bahwa Jawa adalah jawaranya bahasa humor.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 15 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 15 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 15 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 16 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | 10 jam lalu

[Cerbung] Cygnus #1 …

Lizz | 11 jam lalu

Transformasi UU Perkawinan, Menuju Pengakuan …

Ferril Irham Muzaki | 11 jam lalu

Jaringan Buruh Migran Indonesia di Hong Kong …

Ida Royani | 11 jam lalu

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: