Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Sri Ngatimin

I found my life here and I believe my fingers than my tongue...

Hati-hati Bahaya Memelihara Marmut

REP | 11 December 2012 | 11:34 Dibaca: 13439   Komentar: 0   0

Ini merupakan warning bagi para pecinta marmut. Ternyata hewan lucu dan menggemaskan mirip tikus besar yang nama kerennya Guinea pig bisa mengundang bahaya bagi pemiliknya. Padahal hewan ini tampaknya jinak dan tidak terlalu repot untuk bisa memeliharanya. Kasus ini baru terungkap setelah seseorang yang bisa dipercaya buka mulut tentang hal tersebut.

Ceritanya dimulai saat ada tiga orang gadis cantik mengunjungi sebuah rumah kecil yang diteduhi banyak pohon.

“Jalan Akasia no. 105. Benar, ini alamat rumahnya…,” salah seorang gadis berambut cokelat memegang secarik kertas dan melongok dari balik pagar besi.

“Kok sepi ya…,” sambung gadis berambut hitam.

“Masuk saja yuk,” gadis berambut kriwil segera mengajak temannya masuk ke dalam pekarangan yang ditumbuhi banyak pot bunga di sela-sela pohon. Ketiga gadis berpakaian putih-putih tersebut masuk dalam pekarangan. Salah satunya mengetuk pintu. Setelah agak lama mengetuk, akhirnya pintu di buka oleh seorang nenek berambut putih pakai kebaya.

“Ada apa ya…?” tanyanya menyelidik.

“Anu Nek…kami kesini mau mengambil marmut yang sudah kami pesan kemaren,” gadis berambut kriwil menjawab dengan sopan. Nenek itu langsung membelalakkan matanya lantaran kaget.

“Ap..apa..?kalian mau apa di sini?” Nenek itu bertanya dengan tergagap-gagap. Tiba-tiba dia memegangi dadanya.

“Nenek…ka-mi ma-u meng-am-bil mar-mut pu-nya ka-mi, begitu…,” si cantik berambut cokelat mengeja satu-satu tiap kata yang diucapkannya. Nenek itu kelihatannya dongkol berat melihat gadis-gadis tersebut. Memangnya aku tuli apa, pake dieja lagi satu-satu maki si Nenek dalam hatinya.

“Kalian salah, tidak ada marmut disini,” bentak Nenek itu tiba-tiba. Ketiga gadis itu kaget mendengarnya.

“Lho Nek…kemaren kami beli marmut disini 3 ekor. Hari ini kami disuruh datang kesini ambil itu marmut. Nih tanda terimanya,” gadis berambut kriwil itu menyodorkan sehelai kuitansi di hadapan Nenek yang sedang naik tensinya. Dengan kasar ditepisnya kuitansi itu.

“Sudah kubilang tidak ada marmut disini. Kalian pulang saja..!” Nenek itu akan menutup pintu rumahnya. Pada waktu bersamaan muncul cucu laki-lakinya yang masih SMP dari dalam kamar.

“Ada apa Nek. Kok ribut sekali..?” tanya cucunya. Dia heran melihat Neneknya ribut dengan tiga gadis cantik.

“Perempuan-perempuan ini mau membawa kakekmu pergi…,” desis Nenek dengan marah pada cucunya. Cucunya dan ketiga gadis itu melongo tidak mengerti.

“Maksud Nenek?”

“Mereka mau membawa pergi kakekmu,”

“Ah Nenekku ini tambah ngelantur. Masa gadis-gadis cantik ini demen sama kakekku yang sudah peot,” kata cucunya dalam hati. Dengan ramah disapanya gadis-gadis itu. Neneknya masih terlihat emosi. Napasnya naik turun mirip orang sakit asma.

“Maaf Kak, ada yang bisa saya bantu?”

“Dek, kami kesini mau ambil marmut yang kami pesan kemaren untuk praktikum anatomi,” jawab gadis berambut kriwil dengan ramah.

“Oh Kakak-kakak ini yang dari SMA AsampeZet ya?tunggu sebentar Kak, saya ambilkan pesanannya,” anak itu segera berlari ke dalam. Tidak lama dia muncul dengan menenteng kandang kawat berisi 3 ekor marmut yang lucu-lucu. Mereka tersenyum senang.

“Dari tadi kek ambilnya. Nenek kamu ini payah, bikin keadaan sulit saja,” salah satu gadis itu mengomel panjang lebar. Cucu dan Nenek hanya cengengesan.

“Maaf Kak, Nenekku ini salah sangka. Dikiranya kalian mau membawa suaminya yang bernama Mahmud. Makanya dia jadi cemburu dan marah-marah geettuuu..”

Ketiga gadis cantik memandang Nenek itu sambil mesem-mesem.

“Oohhh…ternyata kalian yang punya pesanan marmut. Nenek kira kalian datang mau mengambil suami Nenek yang namanya Mahmud. Maafkan kalo Nenek salah dengar,” Nenek itu jadi salting bin keki. Ternyata yang mau dibawa gadis-gadis itu adalah Marmut bahan praktikum anatomi bukan Mahmud suaminya.

Ampyun dech….^_^

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 6 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 14 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 14 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 14 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: