Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Rudy Hilkya

Penulis Blog Guru Fisika http://fisikarudy.wordpress.com, konyol, norak, udik, kampungan, seabrek sebutan orang marginal, ngga suka selengkapnya

Anjing Impor Vs Anjing Kampung(an)

OPINI | 02 June 2013 | 10:21 Dibaca: 362   Komentar: 3   0

Sore-sore sebelum memulai aktivitas penjadi pebulu (tangkis), saya tengah mempersiapkan diri dengan raket dan satelkuk. Tiada beberapa jenak terdengar aungan panjang dan berikutnya adalah gonggongan histeris dari lima komplotan Mama di halaman rumah saya. Saya serta merta telengas, bergerak kilat dengan kecepatan tinggi menuju pintu rumah sambil mengintip dari jendela (membuka pintu dan mengintip?~dua tindakan yang sama anehnya sama mubazirnya!)

Saya melihat seorang gadis muda bercelana pendek jeans agak belel, saya bukan tertarik melihat kemulusannya atau jenjang kakinya seperti Yoona SNSD tapi saya terperangah dengan hebohnya kelima anggota Komplotan Mama yang berdiri bulu punuknya sambil maju mundur menggonggong menebar aroma provokasi dan ancaman pada seekor anjing pudel berpita dua warna merah muda bak gadis desa, sementara cewe penghela tali kekang yang merupakan majikan pudel berkepang dua ini sudah tidak mampu mengendalikan tali komando pudel, yang saat itu tersulut emosinya juga menebar ancaman dan agitasi kepada Geng Mama ini.

Saya yang sedang handukan dan barusan mencelat dari kamar mandi hanya bisa memegang dada dan menghela nafas berat dan panjang sambil bersuara “Hush Hus Hush Hush”, baru setelah itu si gadis muda yang sejak semula petantang-petenteng depan pagar gerbang saya seraya ber-SMS ria entah dengan siapa, segera berlalu sambil mengajak Anjing Blasternya menjauh, tapi rupanya Geng Mama tidak semudah itu melepaskan korbannya.
Bahkan mereka sudah bersiap mengambil strategi serangan frontal, mengeroyok dari segala penjuru sambil memperlihatkan senjata utamanya, taring putih panjang,  yang setiap hari diasah dengan menggigit kaki kursi, batang pohon, hingga batang besi untuk tetap memperoleh kehandalan dengan senjata yang dibanggakan mereka selain koordinasi dan kerjasama yang semakin profesional dari Geng Mama.

Sesaat setelah cewe berkaki jenjang bercelana pendek belel hanya tampak bagian belakang menjauh sambil menyeringai (untungnya saya tidak melihat dia melemparkan jari tengahnya, karena hampir saja ia kehilangan kecantikan alami sebagai bule jika demikian), saya menganalisa apa saja yang dikatakan anjing pudel berkepang dua tadi kepada Geng Mama, dalam gukgukguk-nya dan auuooww-nya

Pudel berkepang dua (PKD) :
“Hey kalian yang tidak pernah ke salon dan makan bangku sekolahan, ngapain liat-liat gue yang cantik dan bohay ini, engga level elo”

Geng Mama (GM) :
“Apa ente liat-liat, sudah pendatang baru, belum lapor RT, sudah belagu. Ngatain kita macam-macam. Kami keroyok baru nyaho Lo!

PKD :
“Hah, main keroyok? Coba satu lawan satu! Gua ladenin! Biar body gua ngga semok dan kecil, tapi gua lebih aerodinamis dan modis. Lihat baju gua, berbulu kayak jumbai vintage dibandingkan dengan elu cuma pake sarung dekil mandi pun kayaknya nihil!”

GM :
“Sendirian, solo, satu lawan satu, Gak main mamen, enakan keroyokan selain efektif juga gotong-royong itu adalah tradisi leluhur kami empunya negeri. Berbeda-beda seragam, ada yang pake sarung tanpa pici atau warna baju, dekil karena mandi pun nihil .. Ngga masalah buat kami. Bukan kaya elu, barusan datang dari imporan, statuta ngga jelas, sertifikat kelahiran paling buatan rentalan, sudah belagu macamp-macam !”

Tanpa memberikan kesempatan kepada PKD untuk membalas argumen dalam warna gonggongan,

GM :

“Elu perlu tau ya, tanah ini wilayah kami, kami lahir dan besar di sini, biar ngga punya katepe tapi kami asli, genuin, Sebelum elo ada dan lewat depan hidung kami, kami sudah lama beroperasi di sini. Siapa lo, datang-datang langsung nantang, ngatain kami dekil. Emangnya lo bisa mandi sendiri, berani jalan sendiri lo ke sini. Belagu banget lo, ayo men kita cabut si kepang jarang!”

Saat perintah dari Mama itu muncul, baru saya mengeluarkan kata “Hush Hush Hush”. Dan berhentilah provokasi berganti dengan agitasi serangan balik dari kelompok Mama kepada Pudel Kepang Dua yang sombong dan arogan tadi, si pemiliknya hanya bisa menahan kesiap nafas dikelilingi anjing-anjing komplotan yang sejak terlahir telah dibully dan dilatih menjadi preman. Pudel langsung menciut, mengkeret, tak sanggup bertatapan dengan Ketua Geng Mama, Anjing cebol berbulu putih hitam, moncong pendek pinggul panjang dengan kibasan ekornya menandakan kepada empat anak buahnya yang lain agar segera beringsut mundur sambil tidak mengurangi kewaspadaan, kembali ke pos bermain sambil berjaga-jaga karena baru saja mempertahankan teritorialnya dari si pengganggu kerdil yang berasa jago karena berjubah bulu bervintage ala Merlyn Monroe.

Anjing-anjing Geng Mama kembali masuk wilayahnya dan menunggu makan senja sesuai jadwal, yakni tulang dan kakim ayam negeri yang sangat bergizi.

Dituliskan juga sebagai sumber inspirasi pada : http://wp.me/p7Wom-22g

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 3 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 5 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 6 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: