Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Hazmi Srondol

Menjadi sombong itu mudah, merendah pun juga masih mudah. Yang tersulit adalah selalu bersikap biasa selengkapnya

Pengalaman “Diculik” Prabowo Subianto di Bukit Hambalang

REP | 28 July 2013 | 05:21 Dibaca: 29412   Komentar: 69   24

“Bapak sih main retweet-retweet. Jangan-jangan bapak mau diculik ama Prabowo kayak cerita aktivis 98 itu. Gimana nasib ibuk ama anak-anak nanti..” kata istriku berwajah kecut melas.

“Lha soalnya twit toss nya prabowo ama followernya lucu, buk. Gatel ikutan…”

Ya, aku mengerti kepanikan istriku. Memang agak mengejutkan mendapat pesan undangan berbuka puasa dengan Prabowo Subianto dan para asisten pribadinya di Bukit Hambalang. Bukit yang dari hasil searching di google konon adalah bukit yang terdapat istana Prabowo dan camp pelatihan militer yang dijaga anggota Kopassus yang masih loyal kepada Prabowo. Hiii….

“Tenang. Bapak pemanasan Aikido dulu. Nanti kalau di tengah jalan ada apa-apa—percayalah… spirit Bushido yang lama bapak pelajari ini bisa diandalkan. Setidaknya buat kabur ke hutan-hutan sekitar bukit Hambalang” jelasku menetramkan perasaannya.

Istriku tampak mulai tenang dan wajah tegangnya mulai mengendor. Bahkan paras mukanya berganti lagi menjadi penuh tanda-tanya.

“Kok masih di depan laptop? Katanya mau pemanasan?”

“Lha ini, lagi buka youtube. Buat inget-inget jurusnya…” jawabku.

“Aduh, bapak…” katanya lagi.

Kali ini sambil melempar sarung cap Gajah Ndodok. Entah tanda kesal atau sedang mengingatkan waktu sholat Jumat.

…….

“Sebentar lagi ada yang jemput di pom bensin. Harap ditunggu” demikianlah kira-kira sms yang kuterima.

Dengan deg-deg an, aku memantau sekitar pom bensin Malesia yang sudah tutup itu. Sebel juga sih pom bensin itu tutup. Bukan masalah bisnisnya, tapi emang dari tadi lupa isi bensin dan berharap bisa isi bensin di pom bensin tempat bertemu ‘pasukan’ Prabowo.

“Duh, gawat, bensin tinggal setengan baris lagi. Gimana kalau di tengah jalan mau kabur? Hadeeeh” kataku dalam hati penuh kepanikan.

Huff… aku mengatur nafas dan mulai mengumpulkan energi Ki disekitar pom bensin. Siapa tahu terjadi kontak fisik, setidaknya satu dua pukulan atau kuncianku nanti bakal bikin para calon penculik akan kabur atau menjerit kesakitan. Aku tertawa dalam hati membayangkan adegan film yang kurang lebih mirip-mirip itulah. Hehehe…

….

“Pak, saya sudah di lokasi. Bapak dimana?” kata suara ditelefon.

Aku diam saja sambil mengamati orang-orang yang berada disekitar pom bensin. Dari balik deretan mobil, aku mencoba mencari wajah-wajah sangar dan berambut cepak yang mungkin sedang disekitar.

Nggak ada.

Adanya seorang pemuda berbaju putih dan terlihat celingak-celinguk sambil memegang henpon nya. Aku masih mengucek-ucek mataku. Masih nggak percaya, mosok Kopassusnya kayak gitu? Beda banget dengan pengawal Bang Yos yang sama-sama capres dan pernah kutemui saat menghadap beliau menjelang launching novel ku dulu.

“Saya assistennya pak Prabowo mas” katanya setelah aku hampiri.

“Serius, mas?”

“Serius, pak. Emang kenapa pak?” tanyanya heran.

“Nggak papa. Heran aja. Emang kelahiran tahun berapa mas?” tanyaku super kepo.

“Delapan puluhan, pak”

“Oh…”

Lalu sedikit basa-basi, aku pun akhirnya mengikuti mobil yang akan membawaku ke bukit Hambalang yang misterius itu.

Jalanan berkelok-kelok dan sempit. Walau sedikit mereda kekhawatiran namun sikap waspada dan pandangan penuh energi ki untuk menyapu lokasi tetap aku pancarkan. Kurang lebih begitulah yang dipakai para pendekar di cerita Kho Ping Ho dulu.

Benar, sepanjang jalan aku melihat beberapa orang berambut cepak dan tegap tampak berjalan disekitar pintu masuk. Bajunya hampir sama. Putih-putih dengan selempang merah. Rada alay juga sih bentuknya. Terlalu mencolok dan bling-bling untuk pasukan khusus.

Tak lama, kami pun sampai di pos penjagaan pertama. Tampak kopass.. eh satpam tersenyum sopan sambil membukakan pintu. Hmm, adem juga tempatnya semilir. Lebih asri daripada kantor mas Anies Baswedan—salah satu Capres lain yang pernah kutemui saat sedang berjuang mencarikan BTS untuk pulau Karas di Papua yang terdapat salah satu guru Pengajar Muda berada.

Akhirnya kami berhenti di parkiran. Kali ini tidak begitu minder dibanding saat diundang ke markas pak Dahlan Iskan di dekat bundaran HI. Jika dulu aku datang naik ojek dan dihalaman parkirnya berderet mobil sedan mewah milik tamu pak DI. Kali ini walau cuman memakai mobil sejuta umat, tetapi mobil yang lain juga gak jauh berbeda. Sekalinya ada yang mobil Lux, itu juga mobil Luxio yang masih sepantaran harganya. Pedeeeee…..

“Mas, tadi yang baju putih merah bling-bling siapa?” tanyaku penasaran.

“Itu team marching band nya Gerindra, pak”

13751578751341949306

ternyata Drum Band…

Oalaaah, pantesan bajunya semarak ndangdut begitu. Mirip-mirip legenda Marching Band nya Sampoerna. Perasaan makin lega walau tetap waspada. Ini kandang macan, bro.

Dan mendadak teringat kisah pedekar H. Mamak Ibrahim, seorang guru besar silat Cikalong Pancer Bumi yang pernah mengalahkan harimau di hutan. Pertarungan melawan harimau, konon adalah syarat seseorang disebut pendekar dijaman dulu. Dan konon lagi, jika pendekar masuk ke kandang macan maka jika selamat, berarti pendekar itu adalah ibarat seekor Singa. Rajanya pendekar. Sedangkan saya, sudah masuk kedalam kandang macan… Singa kah saya? Saya masih menunggu…

…..

“HUP!”

Sikap kamae, kuda –kuda ala Aikido kupasang halus agar tidak kentara saat kulihat seseorang membawa karung beras 10 Kg an. Ini mesti hati-hati. Jangan sampai kepalaku dikerukupi karung beras itu. Bahaya!

SET!

Satu langkah kecil mundur menjaga jarak kulakukan. Dan saat pria itu berlari menuju arahku.

WUZZ!

Orang itu melewatku.

Aku hanya melonggo saat ia menuju ke pojokan koridor dan membungkus binatang yang tertangkap kawannya. Terdengar suara kucing meronta didalamnya.

“Maaf, Pak. Kucingnya mesti saya tangkap. Takut kutu-kutunya bikin Viktor gatal-gatal” katanya sambil menunduk sopan.

“Oh, nggak papa pak Dokter” Jawab si Mas sopan.

“Dokter? Viktor?” kataku bertanya binggung.

“Iya, dokter hewan disini. Viktor nama salah satu kuda unggulan kami. Kami sedang mencoba mengembang biakan kuda impor dan mencoba dikawin silangkan dengan kuda lokal” jawabnya tersenyum…

…..

Usai menumpang sholat di komplek yang sarat model Jawa kuno itu saya dan beberpa tamu lain pun segera menuju tempat berbuka puasa. Sekilas kulirik ada foto pak Prabowo sedang berdua dengan habib bersorban hitam berwajah Arab. Aku kurang hapal namanya, namun sering kulihat di TV dan yang jelas bukan Habib nya FPI.

“Oh, komplek ini saya beli lungsuran dari senior yang pindah ke Amerika. Dulu masih hutan banget. Dan alhamdulillah sudah lunas cicilannya tahun 2008 kemarin, mas” kata pak Prabowo tertawa kecil saat kutanyakan perihal ‘istana’ nya di bukit Hambalang ini.

Aduh, makin bertambah kekagetanku melihat gaya Prabowo yang 180 derajat berbeda dengan gayanya di TV atau acara resmi lainnya. Belum lagi deretan asisten pribadinya yang masih muda-muda banget. Penjemputku di pom bensin yang kuanggap muda, ternyata masih ada yang lebih muda lagi. Berumur sekitar 22 tahun.

“Memang caleg dan dewan pakarnya sudah tuwir-tuwir, om. Tapi DPP nya di dominasi anak muda kayak kami. Biarlah yang lebih berpengalaman tampil didepan, kami yang masih muda masih senang menjalani passion kami dibelakang layar sekalian belajar” jawab salah seorang asisten yang berbadan kurus dan berkacamata dengan rambut rada botak merendah. Botak loh yah, bukan cepak. Hehehe…

“Itu botak karena kepinteran, mas” sahut Prabowo yang di sambut ledekan asisten lain.

Ya, ketakukan dan kekhawatiran diculik da bertemu wajah-wajah jadul hilang total. Suasana riang karena gap of generation tidak terjadi. Bahasan ala anak muda seperti kisah tuntutan jaksa perihal manual book Ipad yang menggelikan saat kami membahas dan menghubungkan dengan soal kasus pidana kasus frekuensi 3G nya IM2 pun mengundang gelak tawa.

Bahkan baru tahu kalau para pemuda ini jago sekali menggoda pak Prabowo. Khususnya saat berbicang soal musik. Sesekali mereka menyindir soal aliran musik Koes Plus nya pak Prabowo. Yang disindir tampak mesam mesem saja. Sesekali mengelak kalau Koes Plus adalah legenda musik Indonesia.

Sempat muncul pertanyaan soal kerepotan mempunyai assisten yang sangat muda ini. Kalau soal spirit dan energi pemuda yang besar sudah tidak bisa dipungkiri.

“Ya paling repot kalau ada hajatan politik hari sabtu malam. Banyak yang absen karena mesti apel pacarnya masing-masing. Kalau tidak diijinkan khawatir jadi pada galau, ya sudah terpaksa di campur tim nya dengan yang sudah menikah. Padahal tahu sendiri, acara politik kan banyaknya hari jumat, sabtu dan minggu” kata pak Prabowo sambil melirik beberapa asistennya yang ditanggapi tawa tertahan cekikikan.

Suasana cair dan santai ini akhirnya membuatku berani bertanya hal yang sangat krusial dan stigmatis terhadap pak Prabowo. Yaitu soal penculikan aktivis 98. Pak Prabowo kemudian bercerita tentang masuknya aktivis-aktivis lulusan Amerika yang membawa paham demokrasi barat ke Indonesia waktu itu. Sebenarnya tidak menjadi masalah baginya pribadi.

Namun berdasarkan informasi dan laporan adanya beberapa aktivis yang mampu merakit bom dan adanya peledakan bom di Pasar Senen waktu itu, muncul perintah untuk mengamankan aktivis yang diduga mempu merakit bom.

“Saya heran, padahal tugas itu jelas-jelas dari negara dan bukan hanya saya yang mendapatkan tugas itu” katanya sejenak sambil menahan nafas.

Dan pak Prabowo pun bercerita memang telah mengamankan para aktivis itu. Ya mengamankan saja, entah dengan perintah kepada grup lain kok sampai ada yang hilang. Mungkin tugasnya memang lain. Saat kudesak siapa grup lain itu, pak Prabowo tampak mengangkat bahu dan menggeleng tidak tahu.

Dan memang agak mengejutkan ketika tahu bahwa beberapa aktivis yang diamankannya kini malah menjadi caleg dari Gerindra, partai yang didirikannya. Boleh di cek di google nama Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Desmond J Mahesa dan Aan Rusdianto.

Tak terasa waktu berlalu dan saya mesti pulang ke rumah. Sebelum pulang, aku menyempatkan diri berfoto dengan Prabowo.

“Pak Prabowo, toss (˛•̃•̃)/(•̃•̃¸) dulu…”” kataku menirukan di twitter.

“(˛•̃•̃)/(•̃•̃¸)” sambutnya.

13749633491759877039
@hazmiSRONDOL:

: (˛•̃•̃)/(•̃•̃¸) “: Pak toss (˛•̃•̃)/(•̃•̃¸) dulu…””

Dengan langkah ringan aku pun keluar ruangan. Sambil jalan, sempat kulihat ada sejenis lapangan tertutup. Seukuran lapangan futsal atau tiga kali lipat padepokan pencak silat Gunung Talang di Semarang, tempatku dulu sewaktu SD dan SMP sering berlomba yang kini kabarnya sudah terlantar. Cuman anehnya, hall/padepokan itu lantainya pasir. Mungkin belum selesai renovasi atau pembangunannya.

“Bukan tidak selesai, itu memang tempat latihan kuda” jelas salah satu assisten.

Hmm, bukit Hambalang yang dikabarkan merupakan Istana ini ternyata lebih tepat disebut tempat pengembang biakan dan pelatihan kuda. Walau memang sih, beberapa bangunan sangat Njawani dan asri sekali. Ada rumah joglo dan pendoponya. Namun kalau disebut istana, sepertinya masih jauh dibandingkan Istana Bogor atau bahkan masjid kubah emas di Depok. Lebih mirip museum di TMII.

Mendadak kangen dengan kampung halaman. Hiks.

Langkah ringan pun kuayunkan saat pulang. Penculikan Prabowo yang kutakutkan ternyata tidak terjadi. Dan kini, bolehlah aku merasa diriku seekor singa. Singa yang keluar dari ‘kandang macan’ dengan selamat. Dan kenyang oleh kolak pisang serta nasi lauk rendang.

…….

Satu jam menjelang Imsyak…

“Auuuuum!”

Aku pun men towel-towel buruanku yang sedang tertidur dikamar.

“Zzzz…” jawabnya sambil berbalik badan sambil memeluk Thole dan melanjutkan tidurnya.

“Auuuum”

Aku pun menuju meja makan. Sahur. Sahur sambil kesal.

……

Penulis,

Twitter: @hazmiSRONDOL

[Bekasi, 28 Juli 2013]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 5 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 7 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 8 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 9 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: