Back to Kompasiana
Artikel

Humor

Sheiful Yazan

Akun pertama Sheiful Yazan sudah diambil alih orang lain, maka kubuat akun baru ini

ILK, Cak Lontong, KW-2 ILC yang Fenomenal. Sayang kehabisan Napas Kreatif

OPINI | 05 April 2014 | 03:41 Dibaca: 909   Komentar: 5   2

“Sekarang ada lawakan nggak pakai pukul-pukulan stereoform, tepung, dan njorokin orang, serta joged-joged gak jelas” (komentar Muhammad Asad). Sebagai sebuah parodi, ILK berhasil membuat KW-2 dari ILC, setelah Jakarta Comedian Club, KW-1 ILC yang kurang sukses dan mati muda.  ILK menjadi sebuah tayangan baru yang sukses merebut, merampas perhatian pemirsa.  Jarang parodi yang mampu melewati ketenaran acara aslinya. ILK adalah salah satunya, dan mungkin satu-satunya di Indonesia.

Beberapa tayangan ILK, Indonesia Lawak Klub, tampil memikat dan mengikat perhatian pemirsa, bahkan tampaknya mengalahkan “acara ori”nya ILC, Indonesia Lawyers Club. Setidaknya terlihat dengan kunjungan pemirsa di situs youtube yang menayangkan acara-acara ILK, yang jauh melewati kunjungan ke tayangan-tayangan ILC.
***
ILK adalah genre baru pertunjukan lawak Indonesia dengan kemasan talk-show serius menjiplak tampilan ILC, bahkan memparodikan hampir seluruh elemen ILC, mulai dari hostnya sampai para narasumber.  Format dan setting acara memberi peran dan kesan elegan kepada para pelawak yang tampil. Meninggalkan kesan lawakan slapstick, kampungan bahkan lawakan jorok dan kasar ala YKS atau OVJ sekalipun. Ada nuansa “keren” dan gagah ketika para “narasumber” tampil dengan sosok yang rapih, berjas, dasi, dengan “makalah” di tangan.
Tim kreatif tampaknya telah bekerja serius untuk melahirkan bayi baru berakte “parodi” ini. Ini baru lawakan, ini lawakan baru.
***
Ada sumbangan besar dari barisan para “comic”, para pelawak jebolan acara “stand-up comedy” yang menjamur beberapa tahun terakhir. Sumbangan bukan hanya pada personil comic yang dilibatkan, tapi juga pada content dan pola-pola lawakan cerdas ala stand-up comedy. Ada kekayaan khas para comic (entah istilah ini benar atau tidak) dalam pola-pola lawakan yang tidak dimiliki pelawak tradisional.  Walaupun perlu diakui, kehadiran para pelawak tradisional semisal mantan Srimulat, Marwoto, pelawak lenong Bolot dan Malih, atau Komeng, Jarwo Kwat, dan Rico Ceper tetap mempunyai peran penting.
Sumbangan tamu-tamu tertentu juga menambah khasanah tampilan ILK. Kehadiran sesekali artis yang bukan pelawak membawa suasana baru, kejutan. Ada tamu yang mencoba sungguh-sungguh mengeksplorasi potensinya, seperti Asti Ananta dan Cici Panda. Walaupun tidak semua artis memberi hal tersebut. Bahkan ada yang merusak suasana “lawakan intelek” menjadi vulgar dan slapstick, seperti kehadiran Saipul Jamil, penyanyi tanggung yang memaksakan diri jadi pelawak.
***
Ada pelawak yang mencuat melalui stand-up comedy, Cak Lontong yang fenomenal. Beberapa tayangan ILK di youtube yang diedit khusus dengan frame Cak Lontong, memperoleh kunjungan yang ramai. Kekhasan Cak Lontong yang jelas mengalahkan para pelawak tradisional menjadikan posisinya menjadi kunci daya tarik ILK.

Ini contohnya:
Episode warung kopi,
Cak Lontong: “Untuk ukuran cangkir ini, air tidak boleh melebihi volume cangkir…” (wkwkwkwk…)
Komeng: “Tumpah, Tohir..” (wkwkwkwk…)
Indra Bekti: “Semua orang juga tahu…. (reaksi emosional tidak nyambung )
Deni Chandra: “Lu ambil ember …. dst… dst.. (lawakan emosional, tapi cukup dapat wkwkwk..)
Komeng: “Ajak piknik aja ke jurang” (Tanggapan sarkartis, tapi cukup memancing wkwkwk)
Cak Lontong: “Ini ngajak piknik ke jurang. Yang dilihat disitu apa? Kan nggak ada kopi? (wkwkwkwk..)
Komeng: “Ngegulingin lu ke jurang…”(Tanggapan emosional)
Cak Lontong: “Eee, nggak bisa dong.  Saya kan belum minum kopi… (Tanggapan santai yang mengundang Grrrrr..)
****
Dari cuplikan tersebut terlihat bahwa mitra lawakan Cak Lontong semuanya “keteteran”, kehilangan kemampuan melayani cara dan pola lawakan Cak Lontong yang santai dan tidak ada matinya, serta mampu membelok-belokkan logika, tanpa pernah lepas dari bingkai cerita lawakan.
Bahkan pelawak sehebat Komeng dan Denny Chandra kehabisan senjata cerdas untuk menghadapi gaya “keminter”, pola sok pintar Cak Lontong. Mereka terjebak pada sikap marah-marah dan menyalahkan ucapan dan data yang diparodikan Cak Lontong. Pelawak karbitan seperti Indra Bekti dan Fitri Tropika hanya mampu teriak-teriak emosional, merusak suasana. Akhirnya lawakan berubah menjadi suasana anarki bahkan mem”bully” Cak Lontong.
****
Beberapa comic yang terlibat, seperti Mc Danny, Ari Kriting, Akbar, dalam beberapa momentum mampu mengimbangi lawakan Cak Lontong, membuat suasana lawakan mengalir dan “kompor gas,” bahkan “neraka” gelak hadirin berkobar. Pengalaman sebagai sesama comic membuat mereka mampu memberi tanggapan-tanggapan yang menambah bobot lawakan.
Pola comic Ari Kriting, ketika mengulang lawakannya tentang segala sesuatu pada dirinya yang dituduh “gelap,” tetap aktual, dan nyambung dengan pola-pola parodi dari “survey” dan “penelitan” Cak Lontong. Ada kesan “ilmiah”  dari ILC yang diparodikan.
***

Lawakan menjadi kacau dan kampungan ketika Cak Lontong menjadi bulan-bulanan slapstick jika ditanggapi oleh pelawak tradisional. Komeng, Denny Chandra, Fitri Tropika, Indra Bekti dan beberapa pemain, memperlakukan Cak Lontong sebagai “lawan yang harus dikalahkan”, “lawan yang harus dimatikan”, bukan seorang mitra seminar elegan yang pendapatnya ditunggu-tunggu. Tanggapan Komeng yang sudah menjadi klise, seperti “tutup botol kecap”, “lampu tukang siomay,” menjadi tidak klop, tidak pas dengan pola dan karakter Cak Lontong yang sedang mentertawakan dirinya sendiri.
Bahkan dalam beberapa episode sempat muncul pola “kampungan” a la OVJ, ketika properti slapstick diikutkan, seperti Komeng membawa tanki gas elpiji 3 kg. Atau ketika ada narasumber sampai guling-gulingan di lantai. Suasana kembali menjadi lawakan “kampungan”, slapstick, vulgar, kasar, dan mereka melupakan “benang merah” sebuah parodi. Lupa, bahwa ILK adalah parodi dari ILC, seminar yang elegan, keren, bergengsi, dsb…… Komeng,Denny Chandra, dan para pemain lupa mereka memakai jas, berdasi, di ruangan mewah ala konferensi.
Haaalaah…..
****
Komedi itu serius, kata para tokoh komedian seperti alm Jojon.
Para pemain, kru dan tim kreatif ILK merasa sudah nyaman ketika mampu merebut perhatian pemirsa.
Sayang, kreatifitas tampaknya mandeg, berhenti, bahkan mulai tumpul.

****
Beberapa episode, Cak Lontong yang jadi primadona, di”bangkucadangan”kan, tidak tampil ke gelanggang. Pemirsa kecewa. Tampil kembali setelah itu, Cak Lontong terbawa arus, menjadi serius. Lupa bahwa: dia justru jadi primadona, jika dia mampu jadi dirinya yang “sok tahu”, yang “keminter”, bukan Cak Lontong yang benar-benar pintar. Lawakannya malah jadi kering, “garing”. Cak Lontong menjadi filosof yang tersesat pada acara parodi KW-2.
Denny Chandra dan Komeng sebagai “soko guru” ILK menghadapi tantangan terbesar: Bagaimana menampilkan respon yang tepat dan nyambung dengan pola dan konten setiap lawakan yang ditampilkan “narasumber.” Jangan jadi kontrapoduktif dengan tanggapan-tanggapan emosional, asal njeplak, asal bunyi, atau terjebak klise. Kalau memang tidak punya bahan dan tanggapan yang tepat dan nyambung, akan lebih elegan kalau keduanya diam!
Ingat lho, Anda-Anda kan sedang dalam sebuah talk-show, seminar yang elegan!

Haaadeeehh…
****
ILK berhasil merebut perhatian pemirsa, tapi kemungkinan akan gagal mempertahankannya, karena kreatifitas tampaknya mulai kekurangan oksigen dan megap-megap kehabisan napas. Tim kreatif ILK tampaknya sedang menikmati panen perdana dan terlena, lupa mencangkul ladang kreasi. Masih banyak yang belum digarap, semisal pelibatan grup musik komedi, penari komedi, wayang komedi, atau sekalian ilmuwan sungguhan yang punya talenta sebagai komedian.

Kalau ladang kreasi lupa dicangkul, jangan kecewa kalau ladang itu nanti jadi mandul. Jangan keburu merasa besar.
Srimulat yang sangat besar pun ternyata akhirnya bubar.

Kalau benar begitu, tunggu saja waktunya gulung tikar seperti pendahulunya Jakarta Comedian Club.
Sayang, kalau begitu…….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | | 23 September 2014 | 11:04

Billboard, Sarana Sosialisasi Redam Gepeng …

Cucum Suminar | | 23 September 2014 | 16:30

Mengapa Toga Berwarna Hitam? …

Himawan Pradipta | | 23 September 2014 | 15:14

Lelaki Pengingatku …

Edrida Pulungan | | 23 September 2014 | 17:11


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 11 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kemana Peghuni Eks Bongkaran Tanah Abang dan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Usia Orang Kota Lebih Pendek Dari Orang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi Oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Waspadai Caries Gigi …

Amallya Luckyta | 8 jam lalu

Kunci Sukses itu Sesungguhnya Ada di Tangan …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: