Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Nurul

The land before time cartoon lover!

Cicit…Cicit… Cuiit…

OPINI | 08 April 2010 | 13:02 Dibaca: 593   Komentar: 15   1

Gara-gara nonton perempat final liga Champion, Kamis dinihari (8/4) antara Manchester United vs Bayern Munchen, yang berakhir 3-2 untuk kemenangan MU—namun gagal melaju ke semi final—, saya pun telat pula nonton berita pagi karena kesiangan. Biasanya kalau bangun pagi, sebelum keluar kamar, saya selalu sempatkan nonton berita di stasiun tv yang menghidangkan berita-berita di pagi hari, sebagai bekal untuk menyongsong hidup di negara ini.

Akhirnya, saya hanya membaca buku yang menjadi rutinitas saya di pagi hari selain baca koran. Tiba-tiba saya mendengar suara lagu-lagu anak dari rumah tetangga saya yang diiringi suara anak kecil yang ternyata anak tetangga saya yang sedang asyik berkaraoke-an mengikuti irama lagu “soleram” yang merupakan lagu tradisional Indonesia yang dibawa oleh penyanyi cilik—kira-kira begini liriknya: Sorelam…sooorelam, sorelam anak yang manis……

Anak itu semangat sekali seakan sangat haus menyanyi lagu anak yang saat ini sudah hampir punah. Beda halnya dulu ketika saya kecil, lagu-lagu dan nyanyian anak mudah dilihat di tv-tv dan didengarkan melalui melalui radio dan kaset atau cd yang harganya masih lumayan mahal kala itu.

Joshua Suherman (oktavita.com)

Joshua Suherman, penyanyi cilik (oktavita.com)

Jika mengingat nyanyian anak dikala saya kecil dulu, pasti lagu yang pertama terlintas dipikaran saya adalah lagu “Cicit…cicit..Cuit” yang didendangkan oleh Joshua. Lagu itu sangat familiar ditelinga saya waktu dulu dan sekarang—jika mengingat masa dulu.

Selain Joshua yang menjadi penyanyi cilik yang terkenal, masih ada lagi penyanyi lainnya seperti Enno Lerian yang dikenal dengan lagunya yang berjudul “nyamuk-nyamuk nakal”, ada pula bondan prakoso yang melompat-lompat menyanyikan lagu “si Lumba-lumba”, Trio Kwek-Kwek yang digawangi oleh tiga bocah—Leony , Dhea Ananda (artis sinetron sekarang) dan Fandy (mudah-mudahan betul namanya :-) ).

Agnes Monica juga sempat booming saat itu ketika menjadi penyanyi cilik dan Tina Toon yang nyentrik dan lucu dengan lagunya yang terkenal, “Bolo-Bolo”. Sebenarnya masih banyak lagi penyanyi cilik diwaktu saya kecil—Era 90-an— yang memiliki karekater masing-masing sesuai lagu yang dibawakannya, seperti kak Ria Enes dan bonekanya, Susan.

Kini, apa yang saya alami dan nikmati dulu—tentunya tentang nyanyian anak— sangat langka diperoleh anak-anak era sekarangyang  kebanyakan menyanyikan lagu-lagu orang dewasa atau band-band dewasa seperti band Kuburan yang terkenal dengan lagunya, “Lupa” dan juga Kangen Band, yang hapir seluruh lagunya dihapal oleh anak-anak sekarang.

Peran media juga menjadi hal yang krusial disini. Sekarang media khusunya media elektronik—tv dan radio— sudah tak melirik program-program acara bertemakan nyanyian anak, karena mungkin kurang menjual.

Namun, jika dibiarkan dan ditelantarkan seperti ini, nantinya akan berimbas dan berpengaruh pada psikologis anak. Mereka akan dengan cepat berpikir hal-hal dewasa diwaktu yang belum pantas dan sangat prematur. Seperti, jika seorang anak mendengarkan lagu-lagu atau nyanyian orang dewasa yang bertemakan cinta maka si anak pasti akan bertanya-tanya dan akan juga berpikir tentang kata-kata romantis yang sering terdapat dalam lirik. Selain itu, si anak dapat menggunakan kata-kata dan mengimplementasikan kata-kata yang terdapat pada lirik sebuah lagu dalam pergaulannya di sekolah atau taman kanak-kanak.

Harusnya ini menjadi perhatian kita bersama, bukan hanya mengandalkan media yang biasanya menyediakan dan memfasilitasi hal semacam ini. Jika sebagai orang tua, layaknya dan sudah seharusnya, kita memberikan pendidikan yang sifatnya menghibur namun layak dikonsumsi mereka—sesuai usia dan pemikiran mereka.

Semoga nantinya kita akan semakin jarang anak balita atau anak-anak kecil yang menyanyikan lagu dari band seperti Kangen band ataupun band Kuburan dan band Radja (hehe), “Jujurlah padakuuuu…”.

NuruL

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Emak, Emang Enak Nunggu Kereta Sambil …

Masluh Jamil | | 27 November 2014 | 05:41

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | | 27 November 2014 | 01:16

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Oleh-oleh dari Pak Jonan di Kompasianival …

Sang Nanang | | 27 November 2014 | 08:46

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 2 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 3 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 4 jam lalu

Menteri Dalam Negeri dan Menko Polhukam …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

Menguji Kesaktian Jokowi Menjadi Presiden RI …

Abdul Adzim | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Salam Rindu Buat Ayah, Ibu Saat Rinduku …

Petrus Kanisius | 7 jam lalu

Tips dan Trik Cara Mengerjakan Limit …

Muhammad Iqbal | 7 jam lalu

UMGH (Upah Minimum Guru Honorer) …

Riyadi Hidayat | 7 jam lalu

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 8 jam lalu

Pembantu Rumah Tangga Multi-Talenta …

Smiling Ajah | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: