Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Nurul

The land before time cartoon lover!

Cicit…Cicit… Cuiit…

OPINI | 08 April 2010 | 13:02 Dibaca: 591   Komentar: 15   1

Gara-gara nonton perempat final liga Champion, Kamis dinihari (8/4) antara Manchester United vs Bayern Munchen, yang berakhir 3-2 untuk kemenangan MU—namun gagal melaju ke semi final—, saya pun telat pula nonton berita pagi karena kesiangan. Biasanya kalau bangun pagi, sebelum keluar kamar, saya selalu sempatkan nonton berita di stasiun tv yang menghidangkan berita-berita di pagi hari, sebagai bekal untuk menyongsong hidup di negara ini.

Akhirnya, saya hanya membaca buku yang menjadi rutinitas saya di pagi hari selain baca koran. Tiba-tiba saya mendengar suara lagu-lagu anak dari rumah tetangga saya yang diiringi suara anak kecil yang ternyata anak tetangga saya yang sedang asyik berkaraoke-an mengikuti irama lagu “soleram” yang merupakan lagu tradisional Indonesia yang dibawa oleh penyanyi cilik—kira-kira begini liriknya: Sorelam…sooorelam, sorelam anak yang manis……

Anak itu semangat sekali seakan sangat haus menyanyi lagu anak yang saat ini sudah hampir punah. Beda halnya dulu ketika saya kecil, lagu-lagu dan nyanyian anak mudah dilihat di tv-tv dan didengarkan melalui melalui radio dan kaset atau cd yang harganya masih lumayan mahal kala itu.

Joshua Suherman (oktavita.com)

Joshua Suherman, penyanyi cilik (oktavita.com)

Jika mengingat nyanyian anak dikala saya kecil dulu, pasti lagu yang pertama terlintas dipikaran saya adalah lagu “Cicit…cicit..Cuit” yang didendangkan oleh Joshua. Lagu itu sangat familiar ditelinga saya waktu dulu dan sekarang—jika mengingat masa dulu.

Selain Joshua yang menjadi penyanyi cilik yang terkenal, masih ada lagi penyanyi lainnya seperti Enno Lerian yang dikenal dengan lagunya yang berjudul “nyamuk-nyamuk nakal”, ada pula bondan prakoso yang melompat-lompat menyanyikan lagu “si Lumba-lumba”, Trio Kwek-Kwek yang digawangi oleh tiga bocah—Leony , Dhea Ananda (artis sinetron sekarang) dan Fandy (mudah-mudahan betul namanya :-) ).

Agnes Monica juga sempat booming saat itu ketika menjadi penyanyi cilik dan Tina Toon yang nyentrik dan lucu dengan lagunya yang terkenal, “Bolo-Bolo”. Sebenarnya masih banyak lagi penyanyi cilik diwaktu saya kecil—Era 90-an— yang memiliki karekater masing-masing sesuai lagu yang dibawakannya, seperti kak Ria Enes dan bonekanya, Susan.

Kini, apa yang saya alami dan nikmati dulu—tentunya tentang nyanyian anak— sangat langka diperoleh anak-anak era sekarangyang  kebanyakan menyanyikan lagu-lagu orang dewasa atau band-band dewasa seperti band Kuburan yang terkenal dengan lagunya, “Lupa” dan juga Kangen Band, yang hapir seluruh lagunya dihapal oleh anak-anak sekarang.

Peran media juga menjadi hal yang krusial disini. Sekarang media khusunya media elektronik—tv dan radio— sudah tak melirik program-program acara bertemakan nyanyian anak, karena mungkin kurang menjual.

Namun, jika dibiarkan dan ditelantarkan seperti ini, nantinya akan berimbas dan berpengaruh pada psikologis anak. Mereka akan dengan cepat berpikir hal-hal dewasa diwaktu yang belum pantas dan sangat prematur. Seperti, jika seorang anak mendengarkan lagu-lagu atau nyanyian orang dewasa yang bertemakan cinta maka si anak pasti akan bertanya-tanya dan akan juga berpikir tentang kata-kata romantis yang sering terdapat dalam lirik. Selain itu, si anak dapat menggunakan kata-kata dan mengimplementasikan kata-kata yang terdapat pada lirik sebuah lagu dalam pergaulannya di sekolah atau taman kanak-kanak.

Harusnya ini menjadi perhatian kita bersama, bukan hanya mengandalkan media yang biasanya menyediakan dan memfasilitasi hal semacam ini. Jika sebagai orang tua, layaknya dan sudah seharusnya, kita memberikan pendidikan yang sifatnya menghibur namun layak dikonsumsi mereka—sesuai usia dan pemikiran mereka.

Semoga nantinya kita akan semakin jarang anak balita atau anak-anak kecil yang menyanyikan lagu dari band seperti Kangen band ataupun band Kuburan dan band Radja (hehe), “Jujurlah padakuuuu…”.

NuruL

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 12 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

“Jangan Terbius dengan Kata …

Patra Rina Dewi | 8 jam lalu

BPJS Gunakan Sistem yang Gagal …

Indarwati Hikmawan | 8 jam lalu

Buruh DKI Kecam Survei KHL Cacat Proses Dan …

Rastra Sewakitiara | 8 jam lalu

SDM Kesehatan, From Bad To Good? …

Helmi Raisialangi | 8 jam lalu

Latah Politisi Senayan …

Pical Gadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: