Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Astrid Sekar Ayu

SMA KOLESE LOYOLA SEMARANG - belajar menulis

Odong-odong dan Lagu Anak-anak

OPINI | 28 September 2010 | 02:39 Dibaca: 449   Komentar: 12   6

“Anak manis janganlah dicium sayang …”

“Kalau dicium merahlah pipinya.” begitu sambung saya setelah mendengar lagu Soleram berkumandang dari luar rumah. Rupanya kereta mini warna-warni yang dikayuh oleh seorang bapak muda sedang lewat di depan rumah saya. Kereta mini itu bisa kita sebut dengan nama odong-odong.

Ketika sampai di ujung jalan, odong-odong berhenti. Rupanya serombongan ibu-ibu tengah memanggilnya. Tak lama kemudian segerombolan bocah bergiliran menaiki odong-odong. Ada yang sambil disuapi ibunya, ada yang bercanda dengan temannya. Berganti-ganti yang menaikinya, berganti-ganti pula lagu yang diputar. Setelah lagu Soleram selesai, giliran lagu Abang Tukang Bakso. Menyusul kemudian hits dari Joshua berkumandang “Diobok-obok airnya diobok-obok ada ikannya kecil-kecil pada mabuk…”

Saya memang tidak naik odong-odong tetapi saya ikut menikmati lagu-lagu yang dilantunkan dari radio tape si bapak odong-odong. Rasanya seperti nostalgia, kmebali ke masa SD dan TK. Masa-masa yang menyenangkan, penyanyi anak-anak masih sering muncul di televisi dan hits nya selalu menemani hari-hari saya. Mulai dari Trio Kwek-kwek, Joshua, Cindy Senora, Tina toon, Chikita Meidi, Meysi, hinggak Sherina dan Agnes Monica. Saya masih ingat betul setiap hari Minggu dulu selalu ada chart musik lagu anak-anak, yang menjadi pembawa acaranya Agnes Monica.

Masa sudah berganti rupanya, kini tidak ada lagi Enno Lerian dan Kebun Binatang-nya, tidak ada lagi Chikita dengan Kuku Kakiku. Sekarang anak-anak yang biasa bermain di jalan depan rumah sudah fasih menyanyikan lagu grup band seperti Ungu dan The Virgin. Yang lebih miris mereka sudah bisa dengan lancar melantunkan lagu Keong Racun. Dalam hati saya bertanya apa mereka tahu arti lirik lagu tersebut? Bukankah itu sama sekali bukan lagu yang cocok untuk dinyanyikan oleh anak-anak. Apa di sekolah mereka tidak diajarkan lagu Kemarin Paman Datang, Ruri adalah Abangku, atau Layang-layang?

Saya menjadi bersyukur sekali karena telah menjalani masa kecil yang diwarnai dengan lagu anak-anak yang menyenangkan dan bisa mengenal penyanyi cilik yang bisa dibilang generasi terakhir yang booming. Saya sungguh berterimakasih kepada odong-odong yang hampir setiap hari melewati depan rumah karena telah mengingatkan saya akan memori musikal masa kecil saya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 10 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 11 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 11 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 11 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: