Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Parlin Nainggolan

Berbagi pengetahuan adalah hal yang memiliki kenikmatan tersendiri.

Lagu Ibu Pertiwi, Ternyata Lagu Jiplakan..

OPINI | 17 December 2010 | 04:24 Dibaca: 1274   Komentar: 8   0

IBU PERTIWI

( by Kamsidi Samsuddin / 1908 )

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Dengar lirik itu, kita sudah pasti tahu bahwa ini adalah sepenggal lirik dari lagu nasional kita yang berjudul “  Ibu Pertiwi “. Waktu saya kecil, saya mendengar lagu ini dinyayikan di sekolah-sekolah dan pada saat hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, sering di perdengarkan. Namun suatu saat saya mendengar nada lagu Ibu Pertiwi, seperti lagu di Gereja, saya kemudian mencari tahu dan ternyata benar, nada lagu tersebut adalah benar-benar jiplakan 100 %.

What A Friend We Have In Jesus

( by Joseph Medlicott Scriven / 1855 )

What a friend we have in Jesus
All our sins and grieves to bear
What a privilege to carry
Everything to God in prayer
Oh what peace we often forfeit
Of what needless pain we bear
All because we do not carry
Everything to God in prayer
Have we trials and temptation
Is there trouble anywhere
We should never be discouraged
Take it to the Lord in prayer
Oh what peace we often forfeit
Of what needless pain we bear
All because we do not carry
Everything to God in prayer

Can we find a friend so faithful
Who will all our sorrow share
Jesus knows our every weakness
Take it to the Lord in prayer

Lagu Ibu Pertiwi nadanya di ambil dari lagu Rohani Kristen yaitu lagu ” What a friend we have in Jesus ” atau lagu di nyanyian Kidung Jemaat Indonesia dengan judul ” Yesus Kawan Yang Sejati ( KJ 453 ) ” yang merupakan terjemahan dari lagu What a friend we have in Jesus.

Yesus kawan sejati ( KJ 453 )

( diterjemahkan oleh C.Chj. Schreuder dan LJM Tumapahu pada awal 1990 )

Yesus Kawan yang sejati
bagi kita yang lemah.
Tiap hal boleh dibawa
dalam doa padaNya.
Oh, betapa kita susah
dan percuma berlelah,
bila kurang pasrah diri
dalam doa padaNya.

Jika oleh pencobaan
kacau balau hidupmu,
jangan kau berputus asa;
pada Tuhan berseru!
Yesus Kawan yang setia,
tidak ada taraNya.
Ia tahu kelemahanmu;
naikkan doa padaNya!

Adakah hatimu sarat,
jiwa-ragamu lelah?
Yesuslah Penolong kita;
naikkan doa padaNya!
Biar kawan lain menghilang,
Yesus Kawan yang baka.
Ia mau menghibur kita
atas doa padaNya

Hal ini menarik perhatian, saya siapa meniru dan siapa yang di tiru, ternyata lagu What a friend we have in Jesus diciptakan oleh Joseph Medlicott Scriven pada tahun 1855 dan terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul ” Yesus Kawan Yang Sejati ” diterjemahkan oleh C.Chj. Schreuder dan LJM Tumapahu pada awal 1990 an. Namun yang mencipta lagu ” Ibu Pertiwi ” adalah komponis asal Solo yang bernama Kamsidi Samsuddin pada tahun 1908. Jadi jelas, bahwa lagu ” Ibu Pertiwi” menjiplak lagu dari lagu ” What a friend we have in Jesus”.  Jadi budaya jiplak menjiplak orang Indonesia, sudah ada sejak dari dahulu kala sebelum Kemerdekaan.

Joseph M. Scriven dilahirkan di negeri Irlandia pada tahun 1819. Keluarganya cukup berada, dan ia pun mendapat pendidikan yang baik. Pada tahun 1842 ia tamat dari universitas. Ia hendak melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis Irlandia yang cantik. Harapan masa depan Joseph Scriven rupa-rupanya cerah sekali. Akan tetapi sehari sebelum hari perkawinan mereka, gadis tunangan Joseph Scriven mengalami kecelakaan dan mati tenggelam. Pemuda yang malang itu tentunya merasa patah hati. Di samping itu, ia pun mulai menghadapi persoalan dengan keluarganya, karena ia ikut golongan agama Kristen yang tidak disetujui oleh mereka.

Akhirnya pada tahun 1844 pemuda yang sedih itu pindah ke negeri Canada. Selama beberapa waktu ia menjadi seorang guru–mula-mula di sekolah, kemudian sebagai pendidik khusus untuk anak-anak dalam sebuah keluarga yang kaya. Sekali lagi Joseph Scriven bertunangan, yaitu dengan saudara dari keluarga kaya tadi. Tetapi sekali lagi maut merenggut sukacita daripadanya. Setelah masa sakit yang pendek saja, kekasihnya itu meninggal dunia, tidak lama sebelum tanggal pernikahan mereka.

Dalam kesedihan yang tak terhiburkan, Joseph Scriven menyingkir dari tempat ramai. Ia tinggal seorang diri dalam sebuah pondok di pinggir danau. Cara hidupnya bersahaja. Uang dan tenaganya ia gunakan demi orang miskin. Ia mencari anak-anak yatim piatu supaya dapat ditolongnya. Ia bekerja sebagai tukang kayu sukarela bagi para janda yang kekurangan. Ia bahkan memberikan pakaiannya sendiri kepada orang-orang yang lebih memerlukannya.

Pernah ada dua orang yang berpapasan di jalan dengan Joseph Scriven. Scriven memakai pakaian sederhana dan sedang menjinjing sebuah gergaji.

Salah seorang dari dua sekawan itu memberi salam kepadanya.

Kemudian yang lainnya bertanya: “Kaukenal orang tadi? Siapa namanya? Di mana tempat tinggalnya? Saya perlu orang untuk memotong kayu bakar.” Orang pertama menjawab: “Itulah Pak Scriven. Tetapi engkau tidak boleh memakai dia. Tentu ia tidak mau memotong kayu untukmu.”  “Mengapa tidak mau?” tanya orang kedua dengan heran. “Sebab engkau dapat mengupah tukang kayu yang bekerja padamu,” temannya menjelaskan. “Ia hanya mau menggergaji kayu untuk para janda miskin dan orang sakit. “

Sepuluh tahun setelah Joseph Scriven pindah ke Canada, ibunya di Irlandia sakit keras dan sangat sedih. Pak Scriven tidak sempat mengarungi samudra dan pulang ke negeri asalnya. Namun ia mendapat akal untuk menghibur ibunya: Seorang diri di kamarnya, ia menuliskan sebuah syair tentang Yesus, Kawan yang sejati bagi orang yang lemah. Satu salinan ia kirimkan kepada ibunya di Irlandia. Satu lagi ia simpan, dan segera melupakannya.

Beberapa tahun kemudian, Joseph Scriven sendiri jatuh sakit. Seorang tetangga yang merawat dia menemukan di kamarnya salinan syair tadi. Ia senang akan isinya, dan bertanya kepada Pak Scriven tentang sumbernya. Joseph Scriven lalu menceritakan asal usul karangannya tersebut.

Pada waktu yang lain, seorang tetangga lain lagi bertanya kepada Joseph Scriven, apakah memang dialah yang mengarang syair itu (yang pada masa itu sudah mulai menjadi terkenal). Jawab Pak Scriven: “Yah…Tuhan dan saya mengerjakannya bersama-sama. “

Menjelang akhir hidupnya, Joseph Scriven tidak lagi memiliki rumah sendiri. Ada kalanya ia menginap dengan satu keluarga, ada kalanya dengan keluarga yang lain.

Pada tahun 1886, dalam usia 67 tahun, ia sedang tinggal di rumah seorang kawan. Lalu ia jatuh sakit keras. Kawannya menunggui dia siang dan malam. Tetapi pada suatu malam kawannya meninggalkan kamar si sakit sebentar. Sekembalinya, ternyata pasiennya itu tidak ada.

Teman dan tetangga segera dipanggil. Mereka mulai mencari orang yang hilang itu. Akhirnya mereka menemukan dia dalam sebuah kali yang tidak jauh dari rumah kawannya: Ia sudah menjadi mayat.

Apakah Joseph Scriven terantuk, disebabkan oleh pikiran dan tubuhnya yang sudah lemah? Apakah ia keluar untuk menikmati kesejukan malam, lalu terpeleset ke dalam kali? Ataukah kesedihannya itulah yang mendorong dia untuk bunuh diri dengan mati tenggelam, sama seperti pengalaman kekasihnya dahulu dalam kecelakaan di Irlandia 40 tahun sebelumnya?

Tak seorang pun yang tahu pasti. Namun para teman dan tetangga Joseph Scriven tahu pasti bahwa dialah seorang yang baik hati. Walau kelakuannya sering aneh, namun ia selalu berusaha menolong rakyat miskin. Maka mereka mendirikan sebuah tugu peringatan baginya di desa Canada tempat tinggalnya itu.

Sedikit sekali orang dari tempat lain yang pernah melihat tugu peringatan Joseph M. Scriven itu. Tetapi berjuta juta orang di seluruh dunia menyanyikan “Lagu Penghiburan Karangan Orang Sedih” yang diciptakannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Merayu Bu Susi …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 9 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 12 jam lalu

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Cerita Ulang …

Nabila Anwar | 8 jam lalu

Di Bawah Ranjang Tidurku …

Lembah Timur | 8 jam lalu

Obat Kuat dan Kehidupan …

Rahmatul Ummah As S... | 9 jam lalu

Insomnia di Usia Lanjut …

Dian Fakhrunnisak | 9 jam lalu

Terima Kasih Guru …

Anugerah Oetsman | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: