Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Agung Hariyadi

http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1212722/xixi_diary_sang_rising_star/12074304/agung_masopu —http://agunghariyadi37.blogspot.com/ —————- selengkapnya

Kendang Kempul, Musik Asli Banyuwangi dan Dinamikanya

REP | 21 January 2011 | 08:36 Dibaca: 3641   Komentar: 29   4

Banyuwangi, nama kabupaten di ujung timur pulau Jawa. Nama yang mungkin bagi beberapa orang masih asing. Atau mungkin orang mengenalnya karena tragedi berdarah di tahun 1999 lalu yang menewaskan ratusan orang yang kebanyakan tak bersalah yaitu tragedi dukun santet. Bahkan tragedi ini pernah difilmkan segala. Tidak salah jika orang mengingat Banyuwangi karena tragedi tersebut.

Banyuwangi sebenarnya adalah  kabupaten dengan  wilayah paling luas di provinsi Jawa Timur.  Kabupaten ini berbatasan dengan Situbondo di utara, Jember dan Bondowoso di sebelah barat, Samudra hindia di sebelah selatan dan Selat Bali di sebelah timur. Di kabupaten ini ada pelabuhan ikan Muncar yang konon merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia.

Banyuwangi meski terletak  di pulau Jawa, tapi mereka di diami oleh suku lain. Mereka menamakan diri sebagai suku Osing dan bukan bagian dari suku Jawa. Bahasa yang mereka gunakan pun bukanlah bahasa Jawa seperti umumnya orang yang tinggal di daerah Jawa Timur, Jawa tengah, Jogja. Bahasa Oseng merupakan bahasa turunan langsung dari Bahasa  jawa kuno  seperti halnya bahasa Bali. Memang ada beberapa kosakata dari bahasa Oseng yang mirip dengan bahasa Jawa ataupun bahasa Bali, tapi dengan arti yang berbeda.

Sementara untuk budaya, Banyuwangi memiliki budaya yang berbeda dengan kebudayaan daerah lain baik Jawa ataupun Bali sebagai daerah yang bisa dibilang bersentuhan langsung dengan Banyuwangi. Banyuwangi memeliki seni budaya yang unik. Seni budaya itu antara lain  Gandrung, Patrol, Seblang, Tari barong, Kuntulan, Janger, Jaranan ( Kuda Lumping ) Jedor dan Angklung Caruk ( adu angklung ) serta Kendang Kempul.

Saat ini saya hanya akan membahas mengenai kesenian Kendang Kempul. Kendang kempul merupakan musik etnik yang berkembang di Banyuwangi. Lagu-lagu dari musik gandrung menjadi cikal bakal lahirnya musik kendang kempul. Beberapa seniman gandrung pertama kali menyanyikan lagu-lagu gandrung tanpa menggunakan reffrain. Lagu-lagu yang pertama kali diciptakan oleh para seniman waktu itu adalah lagu dengan judul “keriping sawi” dan “keok-keok”. Musik ini semakin berkembang dengan lahirnya alat musik angklung sekitar tahun 1920-an.

Musik  Banyuwangi  berkembang semakin dinamis di tahun 1955 dengan berdirinya sanggar-sanggar kesenian yang didukung oleh LEKRA ( LEmbaga Kesenian Rakyat ) yang merupakan oraganisasi seni dibawah/underbow Partai Komunis Indonesia. Bahkan lagu “genjer-genjer”  yang identik dengan gerakan PKI 1965 adalah ciptaan seniman Banyuwangi bernama  Mohammad Arief yang syairnya bercerita tentang penderitaan warga sekitar saat dijajah oleh pasukan Jepang.

Pada periode 1966-1973 musik Banyuwangi sempat mati suri, karena adanya anggapan bahwa kesenian ini berbau PKI. Pada tahun 1973 musik Banyuwangi  kembali muncul dan sejak itu lebih dikenal dengan nama musik Kendang Kempul. Penyebutan musik kendang kempul karena waktu itu alat musik yang menonjol saat digunakan untuk mengiring penyanyinya bernyanyi adalah alat musik kendang, Kempul dan suling. Tokoh yang kembali memperkenalkan/mempopulerkan kendang kempul adalah Sutrisno.

Seiring dengan bergulirnya waktu, maka perkembangan musik kendang kempul makin pesat. Jika disekitar tahun 1990-an para penikmat lagu Banyuwangi hanya mengenal nama Sumiati, Cahyono ( pelawak jayakarta grup), Suliana dan Alif S sebagai penyanyi kendang kempul, maka di penghujung akhir 1990-an mulai muncul nama-nama penyanyi baru dengan inovasi musik yang semakin memperkaya khasanah musik kendang kempul itu sendiri.

Generasi 1990-an akhir itu antara lain ada nama Niken Arisandy, Reny Farida, Adestya Mayasari, Ratna Antika, Dian Ratih dan masih banyak lagi. Sedang di jajaran pencipta lagu ada nama Hawadin, Yon’s DD, serta penyanyi sekaligus pencipta lagu serta pendiri grup seni kendang kempul POB ( Patrol Orchestra Banyuwangi ) Catur Arum. Bahkan penyanyi Nini Karlina sebelum jadi penyanyi dangdut dan hijrah ke Jakarta dulunya adalah penyanyi Kendang Kempul. Lagu Gelang Alit versi dangdut yang dinyanyikan oleh Ikke Nurjanah aslinya adalah lagu kendang kempul dengan judul yang sama.

Seiring semakin banyaknya referensi musik yang masuk dan mempengaruhi lagu kendang kempul, dengan sendirinya lagu ini semakin dinamis. Jika dulu di awal kemunculannya alat musik kebanyakan alat tradisional, maka sekarang mulai ditambahkanlah alat musik modern seperti gitar, keyboard dan drum untuk membuat musik ini semakin dinamis. Bahkan sejak sekitar 4 tahunan terakhir unsur musik dangdut koplo serat rock juga ikut menambah khasanah musik asli banyuwangi ini.

Beberapa waktu yang lalu juga ada nama wisatawan asal belanda yang datang kusus ke Banyuwangi untuk belajar bahasa oseng sekalian belajar menyanyikan lagu kendang kempul. Bahkan bule bernama Richardo Benito tersebut sempat ikut bernyanyi dalam beberpa pertunjukan musik kendang kempul di Banyuwangi. Benito juga dengan percaya dirinya mengupload lagu yang dia nyanyikan di situs youtube meski musik yang dia nyanyikan sudah bukan kendang kempul asli seperti pertama kali muncul sampai di akhir 1990-an. Untuk melihat videonya silahkan ( CHECK ) atau ( THIS ).

Sekarang begitu banyak lagu kendang kempul yang dinyanyikan dan dibawakan oleh artis penyanyi dangdut yang ada di daerah Jawa Timur. Sebut saja orkes dangdut Monata dan Palapa yang merupakan orkes dangdut terbesar di Jawa Timur dalam tiap penampilannya pasti membawakan lagu kendang kempul yang telah diarnsemen ulang dalam versi dangdut koplo. Lagu-lagu yang sering dibawakan antara lain lagu ” Bokong Semok, Dicokot-nyokot, Semebyar, Semende nang Dadane, Bojoku Nakal dan masih banyak lagi. Hal ini menandakan jika musik kendang kempul juga sudah mulai merambah daerah di luar Banyuwangi dan diterima dengan baik oleh warga daerah lain. Bahkan radio muara FM, radio dangdutnya Jakarta setidaknya seminggu sekali menyediakan segmen khusus untuk memutar lagu kendang kempul Banyuwangi seperti halnya mereka memberi segmen khusus untuk lagu campursari.

Saya sebagai anak yang lahir dan besar di Banyuwangi, meski dari suku jawa sangat mengapresiasi perkembangan kesenian tradisional asli Banyuwangi dan berharap pemerintah memberi wadah untuk para senimannya mengapresiasi seni mereka. Secara pribadi saya tidak ingin suatu saat kesenian ini juga diklaim oleh negara lain dengan mengaku sebagai kesenian asli mereka. Hidup kesenian asli Indonesia.

Denpasar, 21012011.0214

Masopu.

salah satu contoh lagu kendang kempul yang masih belum terkena pengaruh dangdut koplo/ rock dangdut.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

PKS Pecundang Menolak Pilkada Langsung …

Damang Averroes Al-... | 6 jam lalu

Jusuf Kalla Sebaiknya Belajar dari Ahok …

Relly Jehato | 8 jam lalu

Wanda Hamidah Bukan Ahok …

Mawalu | 10 jam lalu

Ini Kepemimpinan Ala Jokowi …

Sjahrir Hannanu | 10 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Oh…Tidak, Gas Pertamina Non-Subsidi …

Ronald Haloho | 8 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 8 jam lalu

Gol Pinalti Gerrard di Injury Time Bawa …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Mengapa Nama Tegar …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: