Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Tarling Bin Abdul Adjib

REP | 27 February 2011 | 05:11 Dibaca: 685   Komentar: 0   1

1298735872805705360

Foto Ipon Bae

(Kenangan Terakhir Bersama Kang Kaji)


Hari Minggu, tanggal 16 Januari 2011 –  di sebuah ruangan sederhana di balai desa Cisaat  Kecamatan Dukupuntang yang terletak di kabupaten Cirebon, berkumpul puluhan kawula muda mudi yang tekun dan gembira mengikuti paparan maestro musik tarling Cirebon, sang pencipta lagu Warung Pojok, H. Abdul Adjib atau akrab dipanggil Kang Kaji Adjib. Dengan gaya tenang santai dengan sesekali diselingi lelucon dan nyanyi Kang Kaji Adjib mengisahkan  kiprah sang maestro dalam dunia musik tarling.

Sebenarnya tak perlu lagi dijelaskan di sini tentang apa itu musik tarling, tapi tidak ada salahnya sedikit saja setidaknya ini akan membantu bagi yang memang belum tahu apa itu musik tarling. Musik tarling adalah jenis musik rakyat Cirebon yang keberadaannya belum terlalu tua, tarling baru muncul sekitar tahun 40an. Awalnya jenis musik ini di Cirebon disebut sebagai Musik Irama Kota Udang. Kata tarling yang merupakan kependekan dari gitar-suling, pertama kali digunakan oleh seorang direktur RRI Cirebon di tahun 60an ketika pertama kali akan menyiarkan musik khas Cirebon yang syahdu dan melankolis ini.

Kang Kaji Adjib menjelaskan perubahan penyebutan dari Musik Irama Kota Udang menjadi Musik Tarling adalah suatu keumuman  saat itu. Sejak dari presiden, pejabat tinggi sampai masyarakat umum saat itu mulai gandrung dan gemar membuat singkatan atau akronim. Beberapa singkatan yang terkenal ciptaan Bung Karno, misalnya; TAVIP – GANEFO – BERDIKARI.

Gitar dan suling adalah alat musik utama dalam musik tarling yang dimainkan untuk mengiringi tembang (nyanyian) seorang dalang tarling (vocalist). Selain menggunakan instrumen gitar dan suling, musik tarling juga dilengkapi dengan gong, kendang, kecrek, keblukkebluk adalah gamelan sejenis gong ukuran kecil cara menabuhnya dengan meletakannya telungkup di atas sebuah tumpukan kain, sehingga jika ditabuh bunyinya tidak nyaring (berdengung), ini  akibat efek dumper dari kain. Fungsi alat kebluk ini mirip alat gamelan ketuk dalam gamelan Bali.  Oleh Kang Kaji Adjib dijelaskan bahwa salah satu ciri dalam perkembangannya kemudian, dalam pemanggungannya pentas musik tarling memasukan unsur seni tari dan cerita atau sandiwara. Penulis sendiri menganggap musik tarling sebagai ‘musik blues’, khususnya pada tarling klasik.

Diguyur gelak tawa dan sambutan riuh para kawula muda yang hadir, Kang Kaji Adjib dengan penuh semangat memaparkan kiprahnya dalam dunia seni musik tarling secara jelas, segar, akurat dan tentu saja kocak berotak. Tak disangsikan lagi bahwa Kang Kaji Adjib adalah seorang seniman besar, aktor handal, dalang tarling yang terampil yang mampu membuat semua lapisan masyarakat Cirebon terhibur. Sayang kiprah dan kerjakeras Kang Kaji Adjib sebagai seniman kurang menarik hati angkatan seniman muda berikutnya untuk mengikuti jejaknya, hidup sebagai seniman tarling secara secara total dan konsisten. Sikap total dan tetap konsisten Kang Kaji Adjib sejak muda mengikuti jejak sang pelopor tarling, almarhum Djayana alias Kang Djon, adalah memegang teguh sikap, bahwa seniman musik tarling harus memiliki sikap dan wawasan budaya agar tidak cuma bangga menjadi kuli industri hiburan murahan yang nyaris tanpa tujuan selain sekedar hiburan; s e k e d a r.

Jika Hang Tuah terkenal dengan sumpahnya: “Tak Melayu hilang di dunia”, maka penulis sebagai seniman putra Cirebon, tidak akan bersumpah tapi akan menyebarkan satu tekad: “Bengien Ana Tarling, Sekien Ana Tarling, Sampe Kapan Bae Tarling Ana” ( Tarling dulu ada, Tarling sekarang ada, sampai kapan pun Tarling Ada ).

Untuk mewujudkan tekad ini, telah muncul satu langkah nyata dan secara spontan. Spontanitas ini muncul setelah selesai mengikuti paparan Kang Kaji Adjib di acara Workshop Tarling yang di gagas oleh Teater Anyar dengan promotornya Kurnadi dan Sumbadi Sastra Alam ini.

Setelah mengikuti paparan Kang Kaji Adjib dan selesai menikmati hidangan makan siang lengkap ala Cisaat di rumah Kurnadi, penulis bersama beberapa rekan seniman dan pemerhati budaya, menelorkan kata kesepakatan akan membentuk satu forum intensif. Forum akan intensif  ini akan bekerja  membuat suatu sistem yang nyata dan realistis untuk dilaksakan. Sistem ini harus memiliki fungsi utama sebagai wujud budaya yang memiliki ruh dan tenaga dalam menggairahkan seni dan masyarakat, sistem ini juga harus mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya ekonomi, khususnya ekonomi berbasis pariwisata. Sangat melegakan karena gagasan ini secara trengginas ditanggapi dengan antusias oleh Ketua DPRD., H. Algotas.

Semoga sinergi ini kokoh aktif produktif dan berkah. Apa pun rencana yang manusia buat, Tuhan jualah yang kelak akan menentukan karena manusia hanya bisa merencakan, meskipun demikian manusia tidak diperbolehkan menghina dirinya dengan mengabaikan segala kemampuan yang telah diberikan Tuhan.

Sebagaimana alunan tarling dari Kang Kaji Adjib yang hingga kini tetap dan ajeg serta semakin tenang dan terus melangit meski sesekali masih tetap nakal, demikian pulalah hendaknya semua harapan ini dilayarkan. Jika hingga saat ini Kang Kaji Adjib masih tetap merdu melantunkan keindahan maka demikian pulalah hendaknya semangat Cirebon, bahkan tidak hanya Cirebon tapi seluruh jiwa dan raga negeri ini; Terus menyanyikan keindahan dengan kebenaran yang nyata dan berguna secara baik diukur mendekat ke puncak martabat dan kehormatan bangsa dan negara.

Mendengarkan Musik Tarling dari Kang Kaji Adjib sungguh Abdul Adjib karena memang Tarling bin Abdul Adjib. Salam hormat untuk beliau, seorang seniman Cirebon yang komplit dan penuh dengan kreasi kombinasi.

Siang tadi, Sabtu, 26 Februari 2011, dalam perjalanan menuju Serang, Banten; saya mendapat khabar, bahwa Kang Kaji wafat. Innalillahiwainnailaihirojiun. Selamat jalan Kang Kaji.

Embie C Noer

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 9 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 14 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 19 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Kecerdasan Intelektual Tanpa Moral …

Egy Nuralamsyah | 8 jam lalu

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | 8 jam lalu

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | 8 jam lalu

Anaphalis …

Riki Asiansyah | 8 jam lalu

Dan Memang Benar …

Vincensia Enggar | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: