Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Djohan Suryana

Hobby : membaca, menulis, nonton bioskop dan DVD, mengisi TTS dan Sudoku. Anggota Paguyuban FEUI Angkatan 1959

Polisi yang Bernyanyi

OPINI | 14 April 2011 | 21:04 Dibaca: 233   Komentar: 0   0

Nama Briptu (Brigadir Satu Polisi) Norman Kamaru (yang benar adalah Noorman Camoro. Kompas 17/4/2011) mendadak terkenal karena pandai bernyanyi dan berjoget. Namanya muncul berbarengan dengan nama lain yang tak kalah terkenalnya yaitu Malinda Dee. keduanya terkenal dalam kasus yang berbeda. Yang satu adalah penegak hukum dan yang lainnya adalah kriminal kerah putih (white collar criminal). Kalau bisa diibaratkan, yang satu berasal dari dunia putih dan yang satu lagi berasal dari dunia hitam.

Norman menjadi selebriti dadakan yang berseragam polisi. Mungkin ia adalah satu-satunya penyanyi di Indonesia yang tampil di panggung dengan baju seragam lengkap. Popularitasnya mampu mengalahkan penyanyi asal bunyi yang berwajah tampan dan klimis.

Popularitasnya demikian menonjol, sehingga menjadikannya lebih dikenal daripada para petinggi Polri. Mungkin kalau sekarang ditanyakan kepada seorang penduduk di Palu, misalnya, ia akan lebih mengenal Norman daripada Timur Pradopo. Hampir semua stasiun TV menayangkan wajahnya yang lugu dan apa adanya.

Sayangnya, lagu yang dilantunkannya, yang membuat ia terkenal, adalah lagu India, bukan lagu ciptaan SBY. Coba kalau yang dinyanyikannya adalah lagu ciptaan SBY maka keduanya bisa bergabung dalam sebuah band yang bernama “Polis” (Polisi dan Istana). Dan keduanya mungkin akan bisa meningkatkan citra Polri dan Partai Demokrat (PD).

Pada awalnya muncul gagasan untuk melarang Norman beraksi di panggung hiburan dengan memakai pakaian seragamnya karena dianggap dapat menjatuhkan citra polisi. Tampaknya gagasan itu hilang karena jika Norman dilarang maka SBY pun akan merasa malu untuk tampil menyanyikan lagu ciptaannya, karena dianggap melecehkan Norman yang hanya berpangkat Briptu saja.

Beruntunglah polisi memiliki Norman yang popularitasnya telah mengendapkan kasus-kasus Susno Duadji, Gayus Tambunan, rekening gendut, mafia hukum yang melibatkan perwira Polri, dan lain-lain sehingga masyarakat ikut hanyut dibawa nyanyian Norman.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Main ke Jogja, Mari Mampir ke Youthphoria …

Widioke | | 01 November 2014 | 13:09

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

DIY = Do It Yourself, Cara Membuat Teh …

Gitanyali Ratitia | | 01 November 2014 | 17:24

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | | 01 November 2014 | 19:54


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 10 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 11 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 12 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inilah 5 Pemenang Voucher Belanja Buku di …

Kompasiana | 8 jam lalu

I Love My Job and I Love My Small Team …

Adolf Isaac Deda | 9 jam lalu

Pemimpin untuk Kepentingan Bersama dan atau …

Adrian Mamahit | 9 jam lalu

Nangkring “Tokoh Bicara”: Bupati …

Kompasiana | 9 jam lalu

Puisi untuk Pergantianmu …

Salimun Abenanza | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: