Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Wustuk

http://wustuk.com https://soundcloud.com/rakjat-ketjil-music

Musik 2010: Storm Report - Day Three “Inspirasi”

REP | 01 May 2011 | 05:50 Dibaca: 55   Komentar: 0   0

13042218141803914519

Setlist Navicula di JFCC

Mahatma Gandhi, di mata saya, adalah bapak moyangnya gerakan indie. Gerakan memerdekakan diri sendiri dari penjajahan fisik, ekonomi, maupun pikiran. Dalam kelembutan tindakan dia menunjukkan kekerasan hati yang luar biasa. Keteguhan dan keyakinannya pada apa yang disampaikan menjadi inspirasi bagi banyak orang India. Bagi India itu sendiri.

Maka tak heran jika akhirnya mereka mengikuti Gandhi melakukan long march selama 23 hari, menempuh jarak 240 mil dari Sabarmati menuju Dandi, sebagai sebuah bentuk protes tanpa kekerasan atas pajak garam yang ditetapkan pemerintah Inggris pada rakyat India kala itu. Sebuah wujud nyata dari gerakan yang bersumber pada inspirasi, yang kini kita kenal sebagai legenda Salt March.

Dan semalam, di tengah keramaian audiens dari berbagai bangsa, saya menyaksikan bagaimana musik melompat keluar dari kotak bunyi. Berubah wujud menjadi komunikasi. Hingga akhirnya menetes ke hati sebagai inspirasi.

TIKA and The Dissidents didaulat untuk membuka malam yang panas…

Musiknya yang seolah berasal dari dunia lain, setidaknya bagi saya yang memang tidak kaya akan referensi bunyi-bunyian, mengetuk pintu hati audiens dan membuat mereka merangsek ke bibir panggung. Tidak heran jika akhirnya dengan bersemangat mereka bersama meneriakkan: “Oi! Oi! Oi!” di nomor provokatif, Mayday.

Kid Immigrant membuat semua yang hadir berpesta. Selama lebih dari setengah jam mereka menembakkan rangkaian lagu yang bertempo cepat seperti peluru. Kepala, kaki, dan tubuh bergerak ceria. Tawa mengalir bersama alkohol. Maka layak kiranya jika akhirnya audiens meneriakkan encore ketika Kid Immigrant menyelesaikan lagu terakhir mereka malam itu.

Dan jadilah, mereka mempersembahkan sebuah lagu cover kepada audiens yang memang patut mendapatkannya. “You are beautiful… No matter what they say… Words can’t bring you down…”

Asap rokok menggantung pekat di langit-langit, keringat sudah menetes deras, dan alkohol menderu dalam darah ketika akhirnya Jason Tedjasukmana memanggil Navicula ke panggung untuk menuntaskan malam…

Satu nomor instrumental pembuka langsung dilanjutkan dengan nomor menghentak berjudul Like A Motorbike. Di mata saya, ini adalah cara mereka menyapa audiens yang berasal dari berbagai bangsa, yang tentunya menggunakan satu bahasa acuan untuk berkumpul di sini. Bahasa Inggris. Saya rasa cara itu cukup berhasil!

Irama lagu yang menghentak, bahasa yang dipahami, dan tentu saja kemasan aransemen lagu yang memang enak untuk dinikmati, membuat malam semakin panas. Dan setelah Kali Mati, Menghitung Mundur, Everyone Goes to Heaven, Over Konsumsi, Televishit, serta Aku Bukan Mesin, pesta yang dibangun Kid Immigrant sebelumnya berubah menjadi konser rock!

Tidak banyak yang mengenal Navicula malam itu. Dan kemungkinan besar juga tidak banyak yang menyukai grunge. Namun, dengan sihirnya, Navicula seolah berbicara dengan fasih kepada semua yang hadir. Eropa, Amerika, India, Jepang, dan China, semua seolah memahami apa yang disampaikan dari panggung.

Bersama mereka mengayunkan bahu dan kepala layaknya metal militia. Bersama mereka menghitung mundur dari 10 hingga 1, mengikuti apa yang disebut Robi sebagai “Ujian kemampuan bahasa asing bagi kalian!”

Jason, yang ternyata adalah penggemar Mark Lanegan, rupanya belum puas dengan Butterfly yang dipersembahkan khusus untuk dirinya. Dibawah pimpinannya, akhirnya audiens meneriakkan encore ketika Navicula menyelesaikan setlist malam itu dengan Mawar dan Melati. Dan akhirnya hanya batas waktu yang membuat dia membatalkan tuntutan akan encore kedua setelah usainya gemuruh Abdi Negeri.

Di tengah himpitan postur-postur menjulang dari bangsa Eropa dan Amerika saya merasa kecil. Bahkan perempuan-perempuan cantik yang berkeliaran pun harus saya lihat dengan sedikit mendongak.

Namun dalam hati, ketika Navicula memainkan sihirnya, saya merasa besar. Saya merasa bangga. Karena saya satu bangsa dengan mereka!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 6 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 7 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 10 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Usia 30 Batas Terbaik Untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 7 jam lalu

Sepenggal Cerita dari Takabonerate Islands …

Hakim Makassar | 7 jam lalu

Demokrat Dukung Pilkadasung, PKS Kebakaran …

Revaputra Sugito | 7 jam lalu

4,6 Juta Balita Gizi Buruk-Kurang di …

Didik Budijanto | 7 jam lalu

‘Belgian Waffles’, Menggoyang …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: