Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Widi Kurniawan

"Aku tidak menyebut saya dengan gue" -------------- www.cintalorenz.com --------------Follow @maswidik

Dangdut ‘Panas’ dan Pencekalan Artis

OPINI | 03 October 2011 | 19:29 Dibaca: 1046   Komentar: 7   0

“Dangdut is the music of my country,” kata Project Pop. Lagu yang cukup beken beberapa waktu lalu itu seolah menegaskan bahwa musik dangdut adalah asli milik Indonesia, kebanggaan negeri ini. Dan memang alunan dangdut telah menembus sekat-sekat kehidupan masyarakat hingga pelosok Nusantara.

Meski di satu sisi ada yang malu mengakui bahwa dangdut itu nikmat, tapi syair dangdut sungguh dekat merefleksikan kehidupan sehari-hari. Ada lagu tentang seseorang yang merasa menjadi orang termiskin di dunia, hingga bercerita tentang makan sepiring berdua dan tidur setikar berdua. Tengok juga lagu-lagu Rhoma Irama, sang raja dangdut, yang bercerita tentang judi, mirasantika (minuman keras dan narkotika), begadang dan lain-lain lagu yang bernafaskan dakwah dalam kehidupan sehari-hari.

Dangdut adalah musik yang bicara jujur tentang realita hidup. Inilah yang sering dipojokkan sebagai hal yang ‘kampungan’. Kalangan yang telah menempatkan selera musik asal luar negeri sebagai panutan, beberapa di antaranya menganggap dangdut sebagai musik pinggiran.

Artis Dicekal

Posisi dangdut semakin dilematis ketika muncul artis-artis dangdut wanita yang mengandalkan goyang ‘panas’ sebagai suguhan utama. Baru-baru ini MUI Provinsi Jawa Barat pun bersikap dengan merilis daftar cekal kepada delapan artis dangdut yang dinilai berpenampilan seronok.

Seperti yang tengah hangat di Kompas Forum, kedelapan artis tersebut adalah:

1. Dewi Perssik,
2. Annisa Bahar,
3. Julia Perez,
4. Inul Daratista,
5. Uut Permatasari,
6. Ira Swara,
7. Nita Thalia dan
8. Trio Macan

Sebelumnya delapan artis itu juga dicekal MUI Sumatera Selatan. Mereka dinilai masuk kategori meresahkan masyarakat dan dapat berpotensi merusak moral generasi muda, demikian tribunnews memberitakan.

Saat kedelapan artis dangdut papan atas dicekal, ternyata masih banyak artis dangdut yang eksis di dunia maya lewat penampilan di youtube. Mereka tidaklah setenar kedelapan artis di atas, tapi penampilan pedangdut panggung yang kerap identik dengan artis Pantura dan aliran dangdut koplo (mengandalkan hentakan kendang yang rancak), sebenarnya lebih membuat gerah penontonnya.

Dangdut ‘Panas’ Merebak via Youtube

Ketika saya mencoba search di situs youtube dengan kata kunci ‘dangdut koplo’, muncul 5.950 hasil dan sebagian besar adalah video penampilan panggung artis dangdut dengan goyangan ‘maut’. Artis berinisial SD bahkan memperoleh jumlah views hingga 1,3 juta lebih, dengan tontonan goyang dangdut yang bikin mata (khusunya mata keranjang) hampir tak berkedip.

Hasil pencarian dengan kata kunci ‘dangdut pantura’ juga menghasilkan jumlah yang tak sedikit, sejumlah 1.280 video. Isinya pun setali tiga uang, tontonan dangdut dengan goyang aduhai dan pakaian minim.

Dari hasil pengamatan video dangdut di youtube, yang mayoritas adalah rekaman penampilan live di panggung, bisa ditarik kesimpulan bahwa pertunjukan dangdut semacam itu telah merebak di mana-mana, di berbagai daerah di negeri ini. Mereka ada karena digemari.

Pedangdut berpenampilan sopan bisa jadi akan kesulitan meraih penggemar kecuali dia adalah seorang legenda macam Rhoma Irama atau pedangdut lainnya, Rhido Rhoma, Evi Tamala dan pedangdut-pedangdut senior yang telah punya nama.

Kini, ketika MUI turun tangan, lalu bagaimanakah nasib dangdut selanjutnya? MUI memang tidak melarang musiknya, hanya segelintir artisnya saja. Pencekalan oleh MUI secara tidak langsung akan berdampak pada cap dangdut yang semakin terpisahkan dari kasta musik lainnya. Namun, penampilan ‘berani’ cenderung porno oleh segelintir penampil dangdut memang harus diluruskan tanpa harus mematikan sebuah seni budaya asli Indonesia.

Jadi, mari kita berdangdut…. *nyetel Ayu Tingting dulu ah….*

Tags: dangdut

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 6 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 7 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 8 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Aku Ingin .. …

Gunawan Wibisono | 7 jam lalu

Keasyikan itu Bernama Passion …

Ika Pramono | 7 jam lalu

Sisi Positif dari Perseteruan Politik DPR …

Hts S. | 7 jam lalu

Menyiasati kenaikan harga BBM …

Desak Pusparini | 7 jam lalu

Trah Soekarno, Putra Cendana, dan Penerus …

Service Solahart | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: