
linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.
Dibaca: 297
Komentar: 12
1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Menaiki tangga kafe Rolling Stone di Kemang Rabu siang tadi, hati saya sudah kecut. Duh, ini acara anak muda, gitaris hebat-hebat seumuran anak saya, dan saya harus berada di tengah mereka. Ngapain juga lageeee…! Benar saja. Sampai di ujung tangga terakhir dan memasuki ruangan, sekelompok pemuda asyik mengobrol. Antara lain Baim, Dewa Budjana, Piyu, Pongky, dan pemred Majalah Rolling Stone Adib yang sudah saya cukup kenal.
“Kok numben mbak Linda ada di acara kami?”, begitu nyerocos Budjana sambil nyengir lebar. “Iya yaaa.., udah tuir ikut-ikutan ya?”, jawab saya sambil tertawa. Tuuu kaaan…. malu kan gue belum apa-apa sudah dikomentari Budjana seperti itu. “Pokoknya lihat saja ntar, kenapa saya ada di sini”, timpal saya lagi. Lalu saya duduk di tengah wartawan muda. Di depan saya ada Rania, penyiar Delta Fm yang juga Kompasianer meski jarang menulis. Yang lain, di ruangan itu, saya tebak seumuran semua dengan anak saya…hahahahaa…!
Rolling Stone siang tadi meluncurkan album ‘1000 Gitar Untuk Anak Indonesia’ hasil karya 60 gitaris beken dan berbagai musisi pendukung. Dijual di toko-toko musik dan toko buku mulai besok dengan harga Rp 50 ribu, diharapkan CD berisi 22 lagu dengan sampul berwarna merah putih itu akan banyak diminati orang. “Seluruh hasil penjualan CD akan dipakai untuk membeli gitar-gitar bagi anak-anak Indonesia tidak mampu,” ujar Adib pemred majalah ini. Saat ini sudah 250 gitar yang tersebar ke pelosok Indonesia, untuk anak-anak Indonesia. Semua adalah sumbangan masyarakat yang berminat pada program ‘1000 Gitar Untuk Anak Indonesia’. Saat Andy Noya mengumumkan pada acara Kick Andy di Metro TV beberapa bulan lalu, peminat memberikan sumbangan gitar maupun mengirimkan uang ke beberapa bank, dengan jumlah yang tidak ditentukan. Yang juga mengharukan, kelak anak-anak panti asuhan atau yang berada di penjara Tangerang yang sudah diberi gitar, akan ditinjau kembali sejauh mana kemajuan mereka bergitar. Lalu, kembali para gitaris terkenal itu akan mengeluarkan album bersama mereka. Dengan cuma-cuma tanpa berharap honor! Luar biasa!
Bulan Mei lalu majalah ini berulang tahun yang ke 6. Monika, presiden direkturnya memiliki gagasan ke depan, untuk tidak menghamburkan uang berpesta, tetapi mencanangkan program mengumpulkan gitar untuk anak-anak jalanan, serta anak-anak dari panti asuhan. “Kami tidak membedakan suku ras agama,” ujarnya tegas. Monika sambil duduk di sebelah kursi saya tadi juga bercerita, beberapa bulan lalu suaminya, Edi Sobari dan Adib pemrednya berangkat ke Amerika untuk mengikuti konferensi majalah Rolling Stone sedunia. Saat dipertontonkan presentasi program 1000 gitar ini, salah satu pejabat tinggi Rolling Stone berkedudukan di Brazil tidak mampu menahan harunya. Ada anak-anak kecil pengamen di bis, membuat ia teringat nasibnya dulu. “Saya dulu anak tidak mampu, ingin bermusik, punya gitar, tapi tidak bisa beli. Lalu saya dibantu orang, sehingga akhirnya mencapai hidup seperti ini,” ujar si Brazil seperti yang ditiru Monika.
Baim, Piyu, Dewa Budjana, Pongky dan yang lainnya lagi berdiri di panggung. Mereka tidak bernyanyi sama sekali, namun menjawab pertanyaan wartawan. Video klip garapan sutradara Eman Pradipta dibentang. Hasil karya mereka bersama, lagu ‘Satu Gitar Seribu Nada’ yang diinspirasikan Baim, begitu indah. “Bayangkan, mereka bikin video klip ini di kafe ini waktu bulan puasa hari pertama. Sukarela, tidak dibayar satu rupiahpun. Semua untuk dana gitar dan sumbangsih kepada anak-anak tidak mampu..”, kata Monika lagi sambil berbisik-bisik kepada saya, saat jumpa pers digelar. Monika, yang suaminya adalah pemilik Rolling Stone, adalah teman saya sejak lama. Monika pernah bekerja di Majalah MATRA ’saudaranya’ TEMPO. Ulet, bergaya santai namun pekerja keras, dan memiliki visi yang tajam. Setelah sukses sedemikian besar seperti sekarang ini (kantornya buagus buanget! kafenya juga keren sekali!), ia tetap rendah hati, ramah. Pokoknya tidak berubah.
Lalu saya dipanggil ke depan oleh Adib. Saya katakan bahwa jujur saja saya minder juga berada di antara pemuda pemudi ini. Tapi apa mau dikata, undangan Monika lewat Dandi kepala HRD adalah sebuah komando bagi saya. Harus datang! Lalu saya mencoba jelaskan kepada pengunjung tadi, bahwa Mei lalu saya meluncurkan buku puisi jurnalistik “Cintaku Lewat Kripik Blado” di Taman Ismail Marzuki. Sudah menjadi niat saya, sebagian dari hasil penjualan buku, sedikit demi sedikit akan saya belikan gitar bagi anak jalanan/ anak Indonesia yang diprogramkan oleh Rolling Stone. “Suatu sore saya ke ruangan Monika di kantor ini, saya tenteng gitar sebagai sumbangan untuk anak Indonesia. Jangan tanya ada berapa gitar yaaa…, baru sedikiiiit, malu aaaah…!”, ujar saya di depan para musisi hebat itu. Lalu tepuk tangan terdengar seru dengan gelak tawa memenuhi ruangan.
Lalu, tidak hanya itu. Kalau tidak membacakan puisi, rugi rasanya. Kebetulan sebelum berangkat ke Rolling Stone, saya posting puisi di Kompasiana tentang Seribu Gitar itu. Buru-buru saya print, dan saya bacakan dalam salah satu bagian acara tadi. Tepuk tangan lagi. Waaaaah… lumayan grogi pun lenyap gara-gara baca puisi. Buku “Cintaku Lewat Kripik Blado” digenggam di depan dada Budjana, bersama Piyu dan Baim mereka berfoto. Dengan ‘Kripik Blado’. Yeeess….!!
Lalu kami makan mie kangkung yang amat lezat sekali. Di teras luar lantai atas. Angin semilir dari awan mendung. Di sebelah kursi saya, Budjana kejap-kejap pedas. “Kamu tau nggak, mie kangkung yang asli ya rasanya seperti ini. Zaman baheula adanya di Pinangsia, kuahnya kental begini bukan encer seperti mie kangkung zaman sekarang,” kata saya kepada gitaris ini. Budjana mengangguk-anggukkan kepalanya, sembari kejap-kejap pedas lagi. Kami menyeruput Ice Lemon Tea khas Rolling Stone, untuk mengobati rasa sambel yang nyelekit itu. Pulang termasuk yang paling akhir, karena ngobrol sana-sini soal musik dan sedikit gosip (hahaha…!), dan…. berulangkali kami mengagumi itikad baik jajaran yang ada di majalah Rolling Stone. Sesungguhnya, saya juga angkat topi kepada para musisi ini. Jiwa sosial yang tinggi terasa spontan sekali. Semoga manfaatnya dengan segera dirasakan oleh anak-anak Indonesia yang lain.