Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Ashwin Pulungan

Semoga negara Indonesia tetap dalam format NKRI menjadi negara makmur, adil dan rakyatnya sejahtera selaras selengkapnya

Lagu Dangdut Mesum Perusak Moral Bangsa

REP | 19 April 2012 | 18:16 Dibaca: 2043   Komentar: 25   1

Renungan : Ashwin Pulungan

Menyedihkan, anak-anak berumur 5 s/d 16 Tahun berjubel didepan panggung hiburan sebuah acara perkawinan mendengarkan hentakan irama lagu dangdut dengan penyanyi yang bergoyang ala gerakan erotis mesum dengan busana yang sangat minim transparan dengan lirik lagu “Paling Suka 69″ (Yupe). Kemudian sang pembawa acara ingin melanjutkan acara dengan “Inilah para hadirin-hadirat sekalian, lagu yang ditunggu-tunggu, “Mooobiill Beeeerrrgoooyaaaang “(Lia MJ feat Asep Rumpi) maka tampillah seorang penyanyi lain dengan busana lebih minim lagi sambil meliuk-liuk erotis mesum pada siang menjelang sholat Dzhuhur yang disaksikan para anak-anak yang kebanyakan belum mengerti arti goyangannya dan liriknya. Saat itu kami sekeluarga cepat-cepat pulang saja, karena akan dilajutkan dengan lagu yang lebih parah lagi : “Apa Aja Boleh” (Della Puspita). Padahal sebelum acara dangdutan, baru saja ada do’a yang dilantunkan seorang ustadz, semoga menjadi pasangan yang mawaddah warahmah. Bagaimana bisa menjadi pasangan yang sesuai dengan do’a tadi atau menjadi anak yang sholeh bila dilajutkan dengan acara bermisi perusak akhlak melalui lagu goyangan dan lirik yang mesum dan maksiat.

13368776711080508657

Monyet Sedang Menyanyi. Bandingkan dengan Penyanyi Dangdut Mesum Maksiat. Pakaian si Monyet masih jauh lebih sopan dari penyanyi dangdut maksiat benaran (manusia berpakaian minim sambil nyanyi didepan khalayak ramai)

Acara seperti diatas, sering terjadi juga pada saat ada acara sunatan anak lalu keluarga yang melaksanakan hajatan mengundang Band Dangdut - Organ Tunggal maksudnya untuk menghibur para undangan yang hadir. Kebanyakan keluarga yang melaksanakan hajatan tidak mengerti bahwa hiburan yang dikontrak dan dibayar mahal itu, merupakan missi kelompok hiburan (mereka kelompk Band-pun tidak sadar) yang akan berdampak merusak moral para anak-anak serta tetangga yang menyaksikannya pada saat itu. Saya sering menyaksikan ada banyak tokoh masyarakat seperti lurah, camat, bupati serta tokoh lainnya dan bahkan para ustadz yang turut hadir tidak merasa risih terhadap tampilan gerakan erotis dari sang penyanyi itu dan bahkan sudah dianggap biasa serta lumrah. Para tokoh dan para ustadz serta para orang tua sudah tidak dapat lagi menangkap signal/tanda-tanda dari gerakan dan lirik lagu yang mengarah kepada pengrusakan akhlak para anak-anak dan cucu mereka. Mereka sudah tumpul kemampuan nalar dan wawasannya untuk mengoreksi kenyataan pesan agama dengan kenyataan keseharian yang terjadi dalam masyarakat. Kemampuan dan sensitifitas “Amar Makruf Nahi Munkar” mereka sudah majal dan tak berdaya. Mungkin upaya selemah-lemahnya iman saja yaitu berdo’a yang mungkin mereka lakukan.

Adanya Kekuatan Tertentu Membudayakan Kerusakan Moral.

Seperti penolakan banyak masyarakat terhadap berbagai acara TV bernuansa mesum yang telah disampaikan kepada para pejabat terkait (pemerintah) dan sampai saat ini belum ditindak lanjuti. Dugaan kuat kita adanya kekuatan missi tertentu untuk melakukan pengrusakan akhlak anak bangsa semakin terbukti dan mereka berada pada tokoh-tokoh produser acara, tokoh-tokoh design grafis dan Koreografis acara serta hampir menguasai pada semua acara TV swasta. Badingkan dengan acara hiburan TV  Internasional dalam versi video klip mesum.   Acara-acara TV inilah yang menjadi barometer serta rujukan para pedangdut mesum untuk menyajikan acara bagaimana bisa lebih heboh mesum dari acara TV.

Alasan Klasik Para Produser Acara.

Pelarangan yang disampaikan oleh masyarakat yang masih sadar akhlak selama ini, dikatakan oleh para seniman dan produser acara mesum adalah merupakan pembunuhan kreatifitas seni. Apakah dengan mengatas namakan seni dan kreatifitas bisa bebas merusak akhlak ?   Tidakkah berkreatifitas dan berseni itu juga harus menjunjung aspek moralitas ? Fungsi dan peran nyata Pemerintah dalam hal ini sangat diperlukan untuk memberi rasa aman ber akhlak, rasa aman berkreasi, rasa aman berproduksi, tidak seperti selama ini orang yang berahklak baik diteror dengan tampilan budaya erotis dan mesum.

Sebagai Bahan Pembanding, inilah Sebagian lirik mesum dari lagu dangdut :

Yupe Paling Suka 69 (Yupe) : “kau elus-elus tubuhku, kau belai-belai rambutku, terpejam-pejam mataku, aduh aduh aduh nikmatnya, duh aduh aduh asiknya, desah indahmu menusuk kalbu ; suka suka jupe paling suka, kau buat aku tak berdaya, gairah cinta pun membara, halus halus halusnya selembut sutra, irama gaya kamasutra ala india.”

Mobil Bergoyang ( Lia MJ feat Asep Rumpi) : “ada yang genit ada yang centil ada yang nakal, dan ada pula kaum wanita penjaja cinta, cari yang enak tak perlu mahal di hotel-hotel, biar di pantai di setiap mobil nikmat bercinta ; yang penting senang bergoyang bergoyang, di setiap mobil digoyang digoyang, dipeluk cium merangsang merangsang, biarkan orang ah tegang ah tegang.”

Apa Aja Boleh (Della Puspita) : “ku cinta kamu, ku sayang kamu, apa maumu bilang padaku, aku kabulkan permintaanmu, yang penting kamu jadi pacarku ;  minta cium boleh, minta peluk boleh, apa aja boleh, semuanya boleh, minta ini boleh, minta itu boleh, apa aja boleh, semuanya boleh.”

Membaca saja lirik diatas, kita semua merasa sangat malu, apalagi menyanyikannya. Mungkin para pencipta lagu dan liriknya serta penyanyinya sudah tidak memiliki hati-nurani. Mereka menjadi kuda binal dari missi kekuatan tertentu untuk perusak budaya dan moral bangsa.

Salut Kepada KPID Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pantaslah KPID NTB gerah dan telah menyatakan pelarangan didaerahnya terhadap 10 buah lagu dangdut yang tidak boleh disiarkan melalui Radio maupun TV daerah lagu dangdut tersebut adalah :

Jupe Paling Suka 69 (Julia Perez)

Mobil Bergoyang (Lia MJ feat Asep Rumpi)

Apa Aja Boleh (Della Puspita)

Hamil Duluan (Tuty Wibowo)

Maaf Kamu Hamil Duluan (Ageng Kiwi)

Satu Jam Saja (Saskia)

Mucikari Cinta (Rimba Mustika)

Melanggar Hukum (Mozza Kirana)

Wanita Lubang Buaya (Minawati Dewi)

Ada Yang Panjang (Rya Sakila)

Sebenarnya, masih banyak lagu dangdut mesum lainnya seperti lagu “Cinta Satu Malam” (cinta satu malam oh indahnya, cinta satu malam buatku melayang, walau satu malam akan, selalu ku kenang, dalam hidupku) yang juga harus masuk dalam pelarangan tersebut. Anehnya KPI Pusat yang posisinya dekat dengan pusat penyiaran Radio dan TV serta berada pada wilayah Pemerintah Pusat, tidak berupaya kuat melakukan pelarang terhadap lagu-lagu dangdut mesum ini sebagai siperusak akhlak bangsa. (Ashwin Pulungan)

Salam selamatkan Anak Bangsa Dari Proses Pengrusakan Akhlak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HIGHLIGHT

Humor Pengantin Antar Negara (Bagian-1) …

Lin Halimah | 8 jam lalu

Solusi Kenaikan BBM …

A. Jauhar Fuad | 8 jam lalu

Mari Menulis… …

Nazarnurdin | 8 jam lalu

Agung Laksono Peduli Peningkatan SDM …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

BBM Menguji Dua Kapasitas Kepemimpinan …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Kurikulum 2013, …

Iefa Waisaleh | 8 jam lalu

Charity “Care to Share” - Aiesec …

Lidya Charolina | 8 jam lalu

Pro Duta, Persikabo & Psis Pertarungan …

Pallas Athena | 8 jam lalu

Kebijakan Yang Tidak Cantik, Tapi Menarik …

Ratusiti | 8 jam lalu

Dunia adalah Halaman Terakhir Doaku …

Abdee As | 8 jam lalu

Menjaga Nyala Api Harapan Rakyat …

Ferlando Jubelito S... | 8 jam lalu

Si Cantik di Pulau Seram - Teluk Sawai …

Elvi Bandanaku | 8 jam lalu

Membumikan Fungsi Ke(polisi)an Dalam …

Muhammad Nasir | 8 jam lalu

Wacana Partai Lokal di Papua: Demokrasi atau …

Hamid Ramli | 8 jam lalu

Keterbukaan Informasi Publik di Aceh Masih …

Baihaqi | 8 jam lalu

Siapapun Presidennya, Semoga Yang …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: