Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Baskoro Endrawan

Like to push the door even when it clearly says to "pull" You could call selengkapnya

Guns N Roses Manggung di Jakarta. Apakah Masih Layak Ditonton?

OPINI | 08 November 2012 | 21:21 Dibaca: 1397   Komentar: 13   1

Bagi yang pernah jadi abege di taun 90′an, Guns N Roses Tentu memainkan sebuah peranan penting di hidupnya.  Album mereka Appetite For Destruction yang dirilis pada tahun 1987 memang jadi teman setia sebelum tidur, berangkat sekolah ,pulang bahkan sampai tidur lagi.

Jujur saja, satu album lagu lagunya memang gak ada yang jelek sama sekali !  Lagu seperti Rocket Queen, Paradise City, Mr.Brownstone, Night Train dan  Welcome to the Jungle sendiri melegenda bahkan sampai ke generasi generasi berikutnya.  Bahkan, lagu mellow mereka Sweet Child Of Mine yang dibawakan secara super apik pun ternyata masih sangat kuat auranya sampai sekarang.

Dua minggu yang lalu saya dan beberapa teman terlibat sebuah diskusi asik di sebuah pojok kota di Jawa Timur dengan beberapa orang yang baru  saja dikenal disana hanya gara gara mendengarkan lagu ini.

Kita tidak saling mengenal, hanya mungkin sempat besar di era yang sama.  Bagi si teman baru ini, lagu “Sweet Child Of Mine” sangat dalam maknanya, khususnya karena pesan religius yang dalam dan ‘pas’ menurut sebuah pengalaman spiritual dari keyakinan yang dipeluknya.

13523828871988155471Note : GnR Classic Formation ; heavymetalhistory.com

Kekuatan sentimentil akan sebuah lyric lagu terhadap kehidupan seseorang memang seperti mantra yang mampu merasuk.  Magis.

Saat itu, Guns n Roses memang masih berada pada formasi Klasik nya. Klasik dalam kata lain, melegenda. Masih ada Izzy Stradlin dengan rhythm guitarnya dan perkusi yang kuat yang bisa kita dengar di single Paradise City,  cabikan bass yang dahsyat dari Duff “Rose” Mc Kagan, Gebukan  drum yang ‘ngisi’ dari Steve Adler dan tentu saja dynamite duo mereka yang melegenda Slash dan Axl Rose sendiri.

Diluar formasi klasik tersebut, jujur saja hanya Matt Sorum yang masih layak disebut  berkontribusi sebagai “the real ” Guns N Roses.   Matt Sorum menggantikan posisi Steve Adler yang saat itu sedang terpuruk dengan cengkraman kuat ketergantungan kokain.  Bahkan aroma kental khas heavy metal di musik Guns N Roses pun terdongkrak berkat kehadiran Matt. Masih kita ingat kerasnya gebukan drum Matt Sorum di single You Could Be Mine yang pada saat itu juga menjadi soundtrack sebuah filem box office “Terminator, The Judgement Day” yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenneger.

Sebuah soundtrack yang keras untuk filem yang keras pula. Sadis.

Double album Guns N Roses yang cantik, Use Your Illusion I dan Use Your Illusion II tampaknya menjadi sebuah ‘pamungkas’ dari mereka.  Di kedua album ini tampaknya mereka  benar habis habisan. “Civil War”, “Don’t Cry” , “November Rain” , “The Garden “ yang membawa tamu spesial seorang legenda rockAlice Cooper,  “Shotgun Blues” , “Yesterday” dan sebuah lagu covers dari original yang terkenal    Knocking On Heaven Doors. Saking ngetopnya lagu Knocking On Heaven Doors ini, bahkan tak banyak generasi sekarang yang mengetahui penyanyi aslinya , Bob Dylan.

Disini, m ereka bukan lagi sekedar sebuah rock band. Mereka sudah menjadi Mega Star Rock Band.

Dan setelah tur yang panjang dan melelahkan , lengkap dengan  kontroversi seputar pertengkaran antar personil, gaya hidup hedonis ala rockstar dan ketergantungan narkoba maupun alkohol, tampaknya Guns N Roses  memang sudah tidak ’solid’ lagi dan mampu menghasilkan sebuah karya yang mantap.  Album mereka The Spaghetti Incident yang dirasakan sebagai upaya untuk menyatukan band tersebut menjadi sangat tidak berwarna.  Satu lagu mellow  di album tersebut yang menurut pribadi saya masuk kategori “forget about it” alias gak penting banget memang  sempat ngetop. Namun buat saya single  “Since I Don’t Have You” terkesan sangat dipaksakan dan karbitan ngetopnya.  Kalau mau dengerin lagu cengeng, mending saya dengerin Peter Cetera sekalian, bukan Guns N Roses ! Hanya kepopuleran mereka dan gencarnya marketing effort lah yang sukses membuat lagu ini cukup diterima dipasar. Bukan lagunya sendiri atau bahkan lupakan tentang kekuatan liriknya.

Di album itu,  single “Ain’t it Fun” tampaknya jadi titik nadir yang merepresentasikan kehancuran Guns N Roses.  Yang ironinya, lagu Ain’t it Fun itupun bukan karya asli dari mereka.

Guns N Roses mulai ‘hancur’ . Album “Chinese Democracy” yang ditunggu tunggu para fans pun tak kunjung liris. Slash mulai sibuk dengan album album solo-nya dan tetap berusaha eksis berkarya dan juga mencari makan di sana. Sementara Axl Rose ?  Ketergantungannya pada narkoba dan juga alkohol berperan kuat menenggelamkan dirinya. Tak jelas , dia dimana pada saat itu.

Sementara, fans terus berteriak. Menanti liris dari album mereka. Menunggu dan menunggu. Ok, mungkin seperti yang disebut dalam lirik lagu mereka Patience, bahwa kita memang harus bersabar untuk menunggu.  ”Just a little patience”, katanya. Tapi kali ini, you’ve gone too far ,Axl !  Dan bahasa prancis saya pun mengalir ” Patience, patience mbahmu kuiii ! Ngongkon wong sabar kok sak enak udele wae !

Para fans pun tampaknya berhenti menunggu.

Tak ada yang harus ditunggu lagi dari Guns N Roses.  Saatnya menggantung T-Shirt berlogo mu yang sudah mulai kumal.

Setelah beberapa tahun kosong, akhirnya, Guns N Roses dengan formasi baru yang hanya menyisakan Axl Rose disana pun memutuskan untuk merilis album “Chinese Democracy”.  Walaupun sedikit gengsi namun juga rindu, akhirnya pun memutuskan untuk membeli CD album keluaran terbaru mereka ini.

Sesuai dengan ekspektasi, yang memang tidak berharap banyak. Vokal Axl yang khas terdengar sangat buruk. Seperti flashback dan mengingatkan  saat melihat betapa buruknya tampilan live performance dan suara Axl pada saat tampil di konser “A Tribute to Queen ” di lagu We Will Rock You. Tak perlu juga cape menjelaskan siapakah formasi baru Guns N Roses, di album terbaru mereka,  karena memang  tidak ada pentingnya sama sekali.

Buat saya, Guns N Roses sudah lama mati.

Buat para fans, mungkin banyak yang sudah mengetahui bahwa Guns N Roses akan tampil di Jakarta pada tanggal 15 Desember 2012 ini. Di satu sisi, kenangan historis tentang mereka rasanya gatal untuk menggerakkan kaki untuk nanti melangkah kesana. Disisi lain,  apa lagi yang mau dicari dari mereka? Apa arti Guns N Roses tanpa Slash? Tanpa Duffy, Matt, Izzi atau bahkan Reed?

Bagaimana dengan anda?

Sumber :

Self Discography

Wikipedia

Heavymetal History.Com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: