Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Willian Zach

Ketua Lembaga Kebudayaan Mahasiswa (LKM) Rumba Grage Institut Studi Islam Fahmina (ISIF)Cirebon

Workshop LARASAN AGENG Handoyo MY

OPINI | 29 November 2012 | 01:23 Dibaca: 153   Komentar: 0   0

Workshop LARASAN AGENG Handoyo MY

Workshop LARASAN AGENG Handoyo MY Akan Menggemparkan Dunia Musik Sebuah temuan rumusan dan teori dari seorang seniman Cirebon, Handoyo MY yang dalam dunia seni tari kita kenal lewat karya-karyanya bersama sanggar Pringgadhing kini setelah sekian lama tak terdengar namanya, tiba-tiba muncul dengan suatu terobosan dalam bidang seni musik dan telah melahirkan rumusan dan teori dalam sebuah Workshop Larasan Ageng yang digelar dua hari dari tanggal 19 - 20 Nopember kemarin bertempat di sanggar Pringgadhing Plumbon Cirebon. Acara workshop ini dihadiri oleh tokoh-tokoh seniman, budayawan,pemda, pelajar dan masyarakat seni  se wilayah III Cirebon. Diantaranya ada Dalang H. Mansyur dari Gegesik, Dalang Sukarta dari Majalengka, Sunarto MA tokoh tarling Cirebon, Sinden Sidem dan Wangi dari Indramayu dan lain-lain. Sebagai pembicara di acara tersebut antara lain Embi C. Noor, Suhendi, S.Kar, MM (Dekan STSI Bandung), R.A. Opan Safari (Budayawan Cirebon) dengan nara sumber langsung Handoyo MY. Workshop Larasan Ageng di fasilitasi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dirjen Pembinaan Kesenian dan Perfilman.

Workshop Larasan Ageng ini adalah sebuah diskusi dan uji praktek dari penemuan Handoyo MY tentang rumusan dan teori karawitan yang ditulis dalam buku ” Rumusan Patut dan Pathet, Laras Gamelan Pelog - karawitan Cirebon, Jawa dan Sunda “. Para peserta/ undangan mendapatkan buku dan makalah tentang rumusan dan teori-teori tersebut, dengan harapan agar para peserta workshop dapat langsung mempelajari sekaligus bisa memahami apa yang disampaikan oleh nara sumber.

Teori dan rumusan yang Handoyo MY tawarkan adalah, bagaimana kita melahirkan atau membuat larasan/nada-nada baru yang belum terwujud atau belum ada dalam dunia musik. Dalam teorinya dia memaparkan bahwa dengan rumusan tersebut kita dapat mengaplikasikan nada-nada yang sesuai keinginan kita untuk keperluan explorasi musik dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang musik. Dikatakan pula bahwa nada-nada atau laras-laras itu jumlahnya tak terhingga, nada-nada yang sudah ada dalam dunia musik tradisional atau musik barat itu hanya beberapa pokoknya saja. Sebetulnya masih sangat banyak lagi nada-nada yang perlu kita gali lagi. Lewat penemuannya ini Handoyo MY mencoba mengenalkan beberapa teori dan rumusan yang telah ia aplikasikan ke dalam Per Mobil seperti yang kita lihat dalam foto diatas. Logam besi atau pipa aluminium juga di aplikasikan oleh Handoyo MY menjadi sebuah perangkat alat musik/gamelan, disampinga itu dia mencoba mengaplikasikan ke alat musik modern seperti gitar dengan fretbord yang tidak sama dengan gitar-gitar pada umumnya. Gitar tersebut di beri nama Gitar Pelog, rasa dari nada yang dikeluarkan oleh gitar ini terasa sangat Pelog, sehingga pendengaran kita dibawa ke nuansa karawitan Cirebon. Sungguh sebuah penemuan yang luar biasa dalam dunia musik.   Gitar yang dibuat dari bahan kayu pinus dengan motif ukiran Cirebonan yang diukir dengan tembus membuat gitar ini secara penampilan sungguh unik dan mengaggumkan. Untuk para Gitaris mungkin akan penasaran dengan aplikasi yang satu ini.

Akan Menggemparkan Dunia Musik

Sebuah temuan rumusan dan teori dari seorang seniman Cirebon, Handoyo MY yang dalam dunia seni tari kita kenal lewat karya-karyanya bersama sanggar Pringgadhing kini setelah sekian lama tak terdengar namanya, tiba-tiba muncul dengan suatu terobosan dalam bidang seni musik dan telah melahirkan rumusan dan teori dalam sebuah Workshop Larasan Ageng yang digelar dua hari dari tanggal 19 – 20 Nopember kemarin bertempat di sanggar Pringgadhing Plumbon Cirebon.

Acara workshop ini dihadiri oleh tokoh-tokoh seniman, budayawan,pemda, pelajar dan masyarakat seni se wilayah III Cirebon. Diantaranya ada Dalang H. Mansyur dari Gegesik, Dalang Sukarta dari Majalengka, Sunarto MA tokoh tarling Cirebon, Sinden Sidem dan Wangi dari Indramayu dan lain-lain. Sebagai pembicara di acara tersebut antara lain Embi C. Noor, Suhendi, S.Kar, MM (Dekan STSI Bandung), R.A. Opan Safari (Budayawan Cirebon) dengan nara sumber langsung Handoyo MY. Workshop Larasan Ageng di fasilitasi oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dirjen Pembinaan Kesenian dan Perfilman.

DSCN7066.JPG

Workshop Larasan Ageng ini adalah sebuah diskusi dan uji praktek dari penemuan Handoyo MY tentang rumusan dan teori karawitan yang ditulis dalam buku “ Rumusan Patut dan Pathet, Laras Gamelan Pelog – karawitan Cirebon, Jawa dan Sunda “. Para peserta/ undangan mendapatkan buku dan makalah tentang rumusan dan teori-teori tersebut, dengan harapan agar para peserta workshop dapat langsung mempelajari sekaligus bisa memahami apa yang disampaikan oleh nara sumber.

IMG_0049.JPG DSCN7077.JPG

Teori dan rumusan yang Handoyo MY tawarkan adalah, bagaimana kita melahirkan atau membuat larasan/nada-nada baru yang belum terwujud atau belum ada dalam dunia musik. Dalam teorinya dia memaparkan bahwa dengan rumusan tersebut kita dapat mengaplikasikan nada-nada yang sesuai keinginan kita untuk keperluan explorasi musik dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang musik. Dikatakan pula bahwa nada-nada atau laras-laras itu jumlahnya tak terhingga, nada-nada yang sudah ada dalam dunia musik tradisional atau musik barat itu hanya beberapa pokoknya saja. Sebetulnya masih sangat banyak lagi nada-nada yang perlu kita gali lagi. Lewat penemuannya ini Handoyo MY mencoba mengenalkan beberapa teori dan rumusan yang telah ia aplikasikan ke dalam Per Mobil seperti yang kita lihat dalam foto diatas. Logam besi atau pipa aluminium juga di aplikasikan oleh Handoyo MY menjadi sebuah perangkat alat musik/gamelan, disampinga itu dia mencoba mengaplikasikan ke alat musik modern seperti gitar dengan fretbord yang tidak sama dengan gitar-gitar pada umumnya. Gitar tersebut di beri nama Gitar Pelog, rasa dari nada yang dikeluarkan oleh gitar ini terasa sangat Pelog, sehingga pendengaran kita dibawa ke nuansa karawitan Cirebon. Sungguh sebuah penemuan yang luar biasa dalam dunia musik.

IMG_2749.JPG

Gitar yang dibuat dari bahan kayu pinus dengan motif ukiran Cirebonan yang diukir dengan tembus membuat gitar ini secara penampilan sungguh unik dan mengaggumkan. Untuk para Gitaris mungkin akan penasaran dengan aplikasi yang satu ini.

Selain itu, komputer adalah tehnologi yang akan menjadi lahan aplikasi dari teori rumusan tersebut. Kita bisa membuat suatu orkestra dengan beberapa komputer atau laptop dengan software musik yang sudah disesuaikan dengan rumusan dan teori Handoyo MY. Sehingga kita akan bisa langsung bermain musik/karawitan secara bersamaan dengan alat musik yang berbeda-beda dalam sebuah pementasan secara LIVE nantinya. Luar biasa…..!

Tunggu apalagi, kembalilah ke negeri kita yang kaya akan budaya. Berpikirlah untuk terus membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan bumi Nusantara. Selamat kepada Handoyo MY yang telah mencetak sejarah baru dalam dunia musik, khususnya dalam dunia karawitan Nusantara.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

“Telitinya” Petugas PT KAI dalam …

Iskandar Indra | | 24 July 2014 | 16:25

Catatan dari Batam …

Farchan Noor Rachma... | | 24 July 2014 | 17:46

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: