Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Terlalu.., Lagu2 Dangdut Norak !!!

REP | 09 January 2013 | 21:08 Dibaca: 1127   Komentar: 0   0

13577491221656258819

Musik ” dangdut” yang dulunya lahir dan hidup kurang jelas di atas panggung rendah didalam kampungibukota (Jakarta), kini menjadi salah satu jenis musik yang digemari di Indonesia. Hampirdiseluruh tanah air kita sekarang musik dangdut bisa didengar dan disukai. Padahal dulu musik ini awal-awalnya hidup hanya didalam acara hajatan-hajatan orang-orang kampung diJakarta (dalam hal ini orang-orang Betawi), dengan penyanyi (biduan) yang latar belakang sederhana, dengan lagu-lagu yang sederhana.

Pada tahun 70an sa’at dunia musik Indonesia mengalami zaman keemasan, semua jenis musik ditanah air,  pop, rock, gambang kromong, dsb.nya, termasuk jenis musik dangdut   ikut mendapat berkah dari lahirnya era orde baru.

Namun dalam perkembangan selanjutnya jenis musik dangdut ini masih menampilkan atau tidak bisa membuang sifat kekampungannya, terutama dalam lagu-lagu norak (tidak berbobot) yang dihasilkannya. Walaupun sa’at itu Oma Irama sudah mendapatkan momentum perkembangan dan melahirkan jenis musik dangdut ini.

Musik ” Dangdut” yang menurut saya adalah mutlak milik Rhoma. Jelas dilahirkan, atau diramu/diaduk oleh Rhoma Irama dalam hidup dan perkembangannya yang lancar (karena hidup dikampung-kampung ibukota, strategis untuk dikenal dan disebarkan keseluruh Indonesia), sampai di era kemajuannya dari zaman Mansyur S. sampai Trio Macan dll.. tetap tidak meninggalkan lagu-lagu kekampungannya. Bahkan lebih ” Norak !”.

Sifat kampungan yang melekat pada jenis musik Dangdut ini bisa terlihat pada penyanyi dan pencipta lagu. Pada sifat fanatisme penggemarnya yang berlebihan, yang justru menyebabkan timbulnya sikap kekampungan. Menyebabkan ketidak tahuan mana lagu yang berbobot mana lagu yang buruk, dan mana lagu yang memalukan ! Dan, selain Rhoma Irama, saya melihat, “dangdut” tidak punya siapa-siapa lagi..,  Teer..lam..paauuu !!!

Contoh lagu dangdut Norak, al:

- SMS (Trio macan).
- Malam bulan purnama (Rhoma).
- Khana (MansyurS).
- Penantian (Muksin).
- Nelangsa (  ? )
- dsb..nya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: