Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Wahyu Wiyatni

Tetap Tenang Demi sebuah Harapan, walau dihadang beRbagai g0ncangan.

Musik Religi, Turut Meramaikan Pasar Industri

REP | 07 February 2013 | 23:30 Dibaca: 225   Komentar: 0   0

Kehidupan seni pertunjukan di Tanah Air sudah mulai berkembang pesat, meliputi segala aspek dan bentuk. Khususnya seni musik, yang kini sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat. Berbagai macam karya musik dengan aneka warna, bentuk, jenis serta gaya mulai bermunculan satu persatu. Disusul lagi dengan munculnya band-band baru dengan berbagai aliran, grup-grup campursari dengan berbagai bentuk dan susunan, karawitan, perkusi, dan lain-lain yang masih banyak lagi. Bahkan musik religi pun tak kalah ketinggalan. Di samping itu, lahir juga musisi-musisi baru yang tak terbendung lagi alirannya. Ibarat semut yang keluar dari sarangnya, mereka selalu antusias menjadi idola untuk semua.

Kalau musik-musik yang lain, mungkin itu sudah hal biasa. Akan tetapi bila musik religi turut serta, bagaimana selanjutnya?

Sebatas yang kita ketahui tentang musik religi, khususnya Rebana, merupakan kesenian tradisi dan khas umat muslim di seluruh penjuru dunia. Berdasarkan sejarahnya, sejak abad ke-6, masyarakat Madinah telah menggunakan rebana sebagai musik pengiring dalam acara penyambutan, atas kedatangan Baginda Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari Makkah. Masyarakat Madinah pada kala itu menyambut kedatangan Beliau dengan qasidah Thaala’al Badru yang diiringi dengan rebana. Hal itu sebagai ungkapan rasa bahagia atas kehadiran seorang Rasul ke bumi.

Musik rebana yang asli hanya terdiri dari instrumen terbang dengan lagu-lagu qasidahan. Ia difungsikan sebagai sarana dakwah oleh para penyebar Islam. Dengan melantunkan syair-syair indah yang diiringi rebana, pesan-pesan mulia tentang agama Islam mampu disampaikan. Lebih indah lagi, karena dikemas dan disajikan lewat sentuhan seni artistik musik Islami yang khas.

Di wilayah Surakarta saja, sudah lahir puluhan grup rebana, baik yang masih alami maupun yang sudah termodifikasi. Modifikasi yang terjadi yaitu dikolaborasikannya musik tradidi Islam/rebana dengan musik-musik modern. Grup-grup yang termodifikasi tersebut, di antaranya yaitu grup Rebana Walisongo, Dukasya, Sekar Jagad, El Tama, Darussalam dan lain-lain yang masih banyak lagi.

Ada hal menarik yang saya amati pada grup Rebana Darussalam. Sebagai grup rebana yang sudah ada bertahun-tahun, Darussalam tetap menjaga kualitas sebagai identitas grupnya. Identitas yang selalu dijaga dan dipegang olehnya yaitu adanya penyajian langgam Jawa. Dimana tidak dijumpai pada grup-grup rebana yang lain.

Disamping sebagai musik Islami yang berpedoman pada kitab suci, Darussalam juga menjadi hiburan Islam yang menyejukkan. Kata demi kata, untai demi untai syair yang dilantunkan serasa membius jiwa untuk terlena di dalamnya. Syair yang sederhana, namun begitu kuat untuk membius jiwa. Semua karena makna yang terkandung di dalamnya. Banyak ungkapan yang terkesan menyindir, karena umat muslim tidak patuh pada ajaran agama.

Syair-syair indah itu merupakan kreatifitas seorang tokoh agama yang cukup terkenal di Sukoharjo, yaitu Pak Firdaus. Pak Fir, sebutannya, secara sengaja melakukan renovasi ulang akan bangunan lagu campursari, pop, dangdut bahkan langgam yang ada saat ini. Menurutnya, Lagu-lagu tersebut apabila tidak segera direnovasi, akan banyak menghancurkan mental generasi penerus bangsa.Karena susunan teks syairnya tidak sesuai dengan kehidupan anak-anak serta remaja.

Mengapa demikian?

Secara umum, dan kasat mata, tidak mungkin lagu-lagu tersebut disajikan jauh dari jangkauan anak-anak. Dimanapun berada, mayoritas anak pasti dengan jelas mendengarkannya. Beratnya lagi, anak-anak tidak bisa ditipu sedikit pun. Apa yang mereka dengar, apa yang mereka lihat, pasti akan langsung ditirunya.

Untuk menyikapi hal tersebut, maka Pak Fir turun tangan untuk menyelamatkannya. Usahanya ditempuh dengan jalan merubah syair lagu tersebut dengan suatu pitutur, tuntunan serta ajakan untuk berbuat kebaikan. Tujuannya agar mampu dinikmati masyarakat di segala lapisan.

Dengan teks yang sederhana, unik dan menarik ternyata juga mampu menarik perhatian seorang seniman Sukoharjo Ki Sabar Sabdo. Beliau langsung terkesima dengan karya Pak Fir. Dan karya Pak Fir ini mendapat acungan jempol dari beliau.

Bila dikaitkan dengan suatu kegiatan plagiat, beliau menjawab dengan santai “Saya berusaha meluruskan lagu ini mbak, kalau tidak demikian bisa-bisa rusak semua anak-anak muda sekarang. Kalau ada yang mau nuntut saya ya silakan. Saya cuma berusaha menyiarkan lagu-lagu tersebut dengan versi Islami. Agar semuanya tidak salah jalan.”

Ternyata lewat karya-karyanya tersebut, grup-grup rebana yang diikutinya juga turut naik daun, Rebana Darussalam misalnya. Job-job yang diterimanya pun tak kalah ramainya dengan grup-grup campursari. Segala acara hajatan ia terima dengan senang hati, baik yang ada di wilayah Surakarta maupun di luarnya.

Yang membuat saya terkejut, ketika saya naik Bus Jurusan Solo-Tawangmangu. Didalamnya diputarkan CD yang berisi sajian musik dari Darussalam ketika pentas. Di situ tampak, wilayah tempat mainnya. Dan setelah saya klarifikasi pada Ketua Kelompoknya, “Memang benar kami telah melakukan pentas di berbagai daerah baik di area Surakarta, maupun luar area” .

Ini terbukti bahwa Darussalam, sebagai salah satu kesenian Islam mampu menembus batas, tidak hanya di lingkungan asalnya, karesidenan Surakarta saja tapi juga meliputi daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Dengan demikian, ternyata Rebana yang dianggap sebagai musik religi, juga mampu menembus pasar industri, khususnya musik. Apalagi kini, ia telah masuk pada dapur rekaman. Suatu hal yang menggembirakan, untuk kaum muslim khususnya. Sebuah seni tradisi yang lahir dari percampuran budaya Arab dan Jawa, kini telah turut meramaikan pasar hiburan Tanah Air, yang tergolong ketat persaingaannya. Nyatanya, walaupun religi, seni musik Islam ini juga mampu berdiri tegak di samping seni-seni musik yang lainnya. Satu hal yang menarik lagi yaitu, bahwa kesenian Rebana ini menjadi sebuah sajian hiburan, yang mampu mengungkap persoalan rohani.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 6 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 7 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 8 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Aku Ingin .. …

Gunawan Wibisono | 7 jam lalu

Keasyikan itu Bernama Passion …

Ika Pramono | 7 jam lalu

Sisi Positif dari Perseteruan Politik DPR …

Hts S. | 7 jam lalu

Menyiasati kenaikan harga BBM …

Desak Pusparini | 7 jam lalu

Trah Soekarno, Putra Cendana, dan Penerus …

Service Solahart | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: