Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Bawa (Bowo) Tembang Jawa Mulai Luntur

OPINI | 07 March 2013 | 00:06 Dibaca: 850   Komentar: 0   1

Duh wong ayu…
pepujaning ati…
koyo ngene…
wong nandang asmara…

Apa mung awakku dhewe
Duh Dewo Jawata keng welas
welas sono
mring wak mami

mBesok kapan-kapan
pangkon lan sliramu
tak umpamano nakhoda
tanpa prau
sasat darat den pepetri
Nyidam Sari asmara

(Manthous Bawa Nyidam sari)

Meskipun kini lagu jawa banyak berkembang, apalagi setelah berakulturasi dengan musik-musik modern sehingga menghasilkan campursari, popdut jawa, campursari koplo, dan sebagainya, ada satu pakem yang mulai banyak ditinggalkan oleh lagu-lagu jawa saat ini yakni bawa (bowo:jawa). Bawa adalah vokal sebagai pembuka sebelum suatu gendhing atau irama musik dimainkan. Biasanya bentuk bawa mengambil bentuk macapat yang memiliki struktur guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Justru di sinilah letak keindahan sebenarnya keindahan lagu kesenian jawa. Jadi, setiap tembang memiliki aturan dan hitungan sesuai dengan hitungan macapat yang telah dibakukan oleh para wali zaman dahulu. sebagai contoh sekar gambuh berikut:

sekar gambuh ping catur                      (7u)

kang cinatur, polah kang kalantur   (10u)

katulo-tulo katali                                     (8i)

kadaluarsa kapatuh                                (8u)

kapatuh kang dadi awon                       (8o)

Lihat pasangan angka huruf yang dibelakang, 7 (tujuh) itu berarti 7 suku kata (guru wilangan), dan huruf “u” adalah bunyi vokal yang jatuh diakhir kalimat (guru lagu) sedangkan terdapat 5 baris dalam 1 bait (guru gatra). Dan sekarang saya tantang para pembaca untuk searching di mana saja cari tembang gambuh pasti seluruhnya menggunakan pola tersebut meskipun dengan lirik yang berbeda. Disinilah letak keunikan bawa macapat dengan susunan yang kompleks.

Tidak hanya hal-hal diatas, untuk menyanyikannya pun memerlukan teknik vokal yang mumpuni agar bisa pas ketukannya diakhir. Setiap naik turunnya suara pun diatur dan menimbulkan suara cengkok khas jawa yang eksotis dan nyaman ditelinga. Masih ingatkah dengan Ibu Waldjinah yang suaranya mampu mencapai 12 oktaf? dan di dalam bawa juga terdapat petuah lagu yang akan disampaikan dengan gaya bahasa yang puitis.

Akan tetapi, sayang beribu sayang. Meskipun masih banyak yang mencintai lagu jawa, Bawa khas ini sudah ditinggalkan bahkan cenderung mengarah ke koplo. Keindahan lagu jawa sekarang lebih banyak dinilai dari sisi lenggak-lenggok goyangan penyanyi koplo tanpa peduli vokalnya. Ditambah lagi untuk anak muda sekarang jika ada yang mendengarkan lagu jawa langsung dicap kuno, ndeso, katrok. Lantas jika suatu saat bawa lagu Jawa ternyata diklaim Malaysia baru semuanya tidak terima. Padahal mendengarkan saja tidak mau, giliran ada yang mau merawat dan ingin meng-klaimnya semua pusing. Maka, Rawatlah baik-baik sebelum ada yang klaim.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 2 jam lalu

PDI P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 5 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 16 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 17 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: