Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Bawa (Bowo) Tembang Jawa Mulai Luntur

OPINI | 07 March 2013 | 00:06 Dibaca: 996   Komentar: 0   1

Duh wong ayu…
pepujaning ati…
koyo ngene…
wong nandang asmara…

Apa mung awakku dhewe
Duh Dewo Jawata keng welas
welas sono
mring wak mami

mBesok kapan-kapan
pangkon lan sliramu
tak umpamano nakhoda
tanpa prau
sasat darat den pepetri
Nyidam Sari asmara

(Manthous Bawa Nyidam sari)

Meskipun kini lagu jawa banyak berkembang, apalagi setelah berakulturasi dengan musik-musik modern sehingga menghasilkan campursari, popdut jawa, campursari koplo, dan sebagainya, ada satu pakem yang mulai banyak ditinggalkan oleh lagu-lagu jawa saat ini yakni bawa (bowo:jawa). Bawa adalah vokal sebagai pembuka sebelum suatu gendhing atau irama musik dimainkan. Biasanya bentuk bawa mengambil bentuk macapat yang memiliki struktur guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan. Justru di sinilah letak keindahan sebenarnya keindahan lagu kesenian jawa. Jadi, setiap tembang memiliki aturan dan hitungan sesuai dengan hitungan macapat yang telah dibakukan oleh para wali zaman dahulu. sebagai contoh sekar gambuh berikut:

sekar gambuh ping catur                      (7u)

kang cinatur, polah kang kalantur   (10u)

katulo-tulo katali                                     (8i)

kadaluarsa kapatuh                                (8u)

kapatuh kang dadi awon                       (8o)

Lihat pasangan angka huruf yang dibelakang, 7 (tujuh) itu berarti 7 suku kata (guru wilangan), dan huruf “u” adalah bunyi vokal yang jatuh diakhir kalimat (guru lagu) sedangkan terdapat 5 baris dalam 1 bait (guru gatra). Dan sekarang saya tantang para pembaca untuk searching di mana saja cari tembang gambuh pasti seluruhnya menggunakan pola tersebut meskipun dengan lirik yang berbeda. Disinilah letak keunikan bawa macapat dengan susunan yang kompleks.

Tidak hanya hal-hal diatas, untuk menyanyikannya pun memerlukan teknik vokal yang mumpuni agar bisa pas ketukannya diakhir. Setiap naik turunnya suara pun diatur dan menimbulkan suara cengkok khas jawa yang eksotis dan nyaman ditelinga. Masih ingatkah dengan Ibu Waldjinah yang suaranya mampu mencapai 12 oktaf? dan di dalam bawa juga terdapat petuah lagu yang akan disampaikan dengan gaya bahasa yang puitis.

Akan tetapi, sayang beribu sayang. Meskipun masih banyak yang mencintai lagu jawa, Bawa khas ini sudah ditinggalkan bahkan cenderung mengarah ke koplo. Keindahan lagu jawa sekarang lebih banyak dinilai dari sisi lenggak-lenggok goyangan penyanyi koplo tanpa peduli vokalnya. Ditambah lagi untuk anak muda sekarang jika ada yang mendengarkan lagu jawa langsung dicap kuno, ndeso, katrok. Lantas jika suatu saat bawa lagu Jawa ternyata diklaim Malaysia baru semuanya tidak terima. Padahal mendengarkan saja tidak mau, giliran ada yang mau merawat dan ingin meng-klaimnya semua pusing. Maka, Rawatlah baik-baik sebelum ada yang klaim.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Jangan Kacaukan Indonesiaku! …

Eki P. Sidik | 8 jam lalu

Jersey Baru, Semoga Ada Juga Prestasi Baru …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Perpuskota Jogja Menjadi Wahana Wisata …

Iis Ernawati | 9 jam lalu

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 9 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: