Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Tatang Amirin

Saya, Tatang M. Amirin. Lahir di Majalengka. Sekarang staf pengajar di UNY Yogyakarta.

Belajar dari Fatin X-Factor

REP | 09 March 2013 | 14:05 Dibaca: 5561   Komentar: 0   10

Ketika anak sekolahan yang masih berseragam sekolah ini ikut pertama kali audisi the X-Factor, semua orang terhenyak, kaget, ada suara yang demikian memukau, amazing. Lagu yang dibawakannya amat sangat pas sekali dengan nada suaranya. Itulah mengapa menjadi indah. Fatin, si gadis anak sekolahan itu meniti riak-riak ombak, meliuk, melenggok-lenggok kecil, membuai riakan ombak kecil dengan nyaman. Fatin memang anak riak ombak.

Dua tiga tampilan berikut, Fatin masih anak sekolahan yang meniti riak-riak ombak, walaupun kadang-kadang agak sedikit keluar jalur, ke gelombang pasang yang meninggi, tapi masih bisa kembali ke riak-riak ombak lagi. Itulah makanya Fatin masih tetap memuaku.

Kesalahan fatal dilakukan Fatin ketika ia memaksa diri, atu dipaksa, mengarungi gelombang tinggi yang memecah angin. Fatin sudah bukan Fatin lagi si anak riak-riak ombak. Fatin dipaksa menjadi peselancar yang menaik menukik mengikuti gelombang pasang.  Fatin dipaksa berteriak menentang angin, lalu suaranya menjadi suara burung camar mengejar deru angin, bukan lagi suara dan juga gaya pinguin yang berenang mengikuti riak-riak ombak. The F-factor Fatin hilanglah sudah musnah, berubah frontal menjadi the R-factor. Akibatnya tiada lagi tepuk tangan membahana menyambut kehadirannya, tampilannya, dan penghujung  tampilannya yang biasanya meriak ombak menepi pantai, me-”ngeseh” lembut.

Dani menekankan bahwa dari tampilan Fatin (walau disebutnya secara meneyluruh dari tampilan the X-Factor) kita bisa belajar, seluruh bangsa Indonesia bisa belajar, semua calon peserta the X-Factor bisa belajar. Belajar bahwa menyanyi yang memuaku itu bukan sekedar menyanyi, melainkan menyanyi yang sesuai dengan sifat karakter sendiri-sendiri. Ahmad Dani selalu mengingatkan agar Fatin jangan sampai meninggalkan the F-factornya sendiri, the Fatin-factor. Bebi Romeo selalu mengingatkan bahwa apabila Fatin salah memilih lagu, maka ia akan gagal!

Ternyata kita semua bisa belajar. Hanya sekedar ahli bidang studi tidaklah serta merta bisa menjadi guru bidang studi yang baik. Pernah bersekolah tidaklah serta merta bisa menjadi guru yang baik di sekolah. Bisa, bahkan ahli, menyanyi tidaklah serta merta bisa mengajari orang menyanyi, dengan baik tentu. Perlu lebih dari sekedar bisa dan berpengalaman.

Dalil itu mungkin cocok diterapkan untuk Rossa dan Fatin si mungil pemilik F-factor yang suaranya disukai Ahmad Dani. Rossa tidak diragukan kemampuannya menyanyi. Akan tetapi sebagai mentor, ternyata tidak sepenuhnya ia mampu membawa Fatin terampil menyanyi dengan karakter Fatin sendiri (F-factor, kata Dani).

Menurut “selera” saya, karena saya awam dengan nyanyi-menyanyi,  setidaknya sudah dua kali Fatin “gagal” menyanyi sebagai Fatin. Pertama, saat setelah ditunggu-tunggu sangat lama, karena sengaja dipasang paling akhir tampil berkat kepopulerannya yang menaikkan rating X-Factor, Fatin “gagal” menyanyikan lagu Rossa, Rindu.  Kedua, Jumat malam terakhir ini, 8 Maret 2013, ketika “memilih” lagu Girl on Fire.  Biasanya ketika dan setelah menyanyi, Fatin mendapatkan tepuk tangan dan teriakan gegap gempita, ketika itu boleh dibilang sepi tepuk tangan.

Bebi Romeo, salah satu juri, sekali lagi mengingatkan Fatin, bahwa Fatin pasti akan “habis” manakala salah memilih lagu, dan, walau tak langsung dinyatakan, yang dipilih Fatin itu lagu yang salah. Itu yang mau dikatakan Bebi, hanya tentu tak mau menyinggung sesama mentor. Dani juga mengingatkan agar Fatin tetaplah Fatin, sesuai dengan ke-Fatin-annya (the F-fator).  Pertanyaan Dani sangat amat  sederhana, tapi mgnhunjam, “Siapa yang memilih Grenade waktu tampil pertama kali?” “Aku,” jawab Fatin. Itu pilihan yang pas, pas dengan Fatin. Maksudnya Dani juga lagu yang dibawakan kali itu bukan lagu “pilihan” Fatin.

Itulah makna slogan “tut wuri handayani” (standing behind empowering) yang bahkan para guru sekalipun kerap tak paham maknanya. Tiap “anak didik” punya daya (power, potensi) sendiri. Tugas pendidik adalah mengikuti (tut wuri) power si anak didik itu, membantunya untuk meningkat. Pendidik tidak berdiri di muka (ing ngarso) menentukan mengarahkan. Berdiri di muka hanya jika diperlukan, ketika anak didik tak tahu apa-apa. Itu makna hakiki “student centered education.” Ikuti daya anak, biarkan dia berjalan sesuai dengan daya potensinya, pendidik hanya mengikuti saja, sekali-sekali memberi arahan kalau-kalau sesat jalan.

Pada ketika Fatin tak tahu benar “gaya panggung,” pada ketika itu pendidik berdiri di depan (ing ngarso) memberi contoh (sung tulodo). Memberi contoh bagaimana bergaya sederhana (karena Fatin suka yang sederhana, dan lebih pas yang sederhana), tentu diperlukan. Tetapi memberi contoh (menentukan) lagu menurut selera guru, itu kesalahan besar. Fatin bukan Rosa. Mungkin Fatin lebih cocok dengan Anggun, ada kemiripan nada suara. Rosa itu nadanya meninggi, seperti burung camar menyeruak langit, sementara Fatin itu burung pinguin, suaranya meriak ombak. Jangan ajak Fatin menguikuti Rossa. Fatin tetap Fatin, bukan Rossa.

Mohon maaf untuk Rossa. Saya suka Rossa, tapi saya lebih suka jika Rossa “tut wuri handayani” Fatin!

Kasihan Fatin telah kehilangan her own F-factor!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Bahaya Susu …

Hikmawati . | 8 jam lalu

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Remang-remang Kunang-kunang …

Harry Ramdhani | 9 jam lalu

Panggung Rising Star Indonesia Gagal …

Pietro Netti | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: