Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Shelly Lansritan

Kenali saya melalui buah pikir dalam tulisan-tulisan di Kompasiana & celoteh lainnya di Facebook saya selengkapnya

X-Factor yang Kehilangan Faktor-X

OPINI | 13 April 2013 | 15:05 Dibaca: 2981   Komentar: 48   1

Anda salah satu permirsa Indonesia yang gemar nonton acara X-Factor di RCTI? Menurut Anda apa sih perbedaan acara ini dengan ajang pencarian bakat menyanyi lainnya? Menurut saya pribadi, dari judul acaranya maka seharusnya ajang ini bukan sekedar mencari mereka-mereka yang bersuara bagus dan bisa bernyanyi saja. Sebab kalau sekedar bisa menyanyi dan bersuara bagus, maka mereka tidak berbeda dengan kontestan di ajang seperti Indonesian Idol (II), Akademi Fantasi Indosiar (AFI) maupun The Voice. This is X-Factor!! Idealnya ke-13 kontestan yang berhasil masuk ke Gala Show adalah mereka yang memiliki faktor X selain hanya bersuara bagus dan bisa menyanyi saja. Nah, menurut pembaca di antara ke-13 kontestan tersebut, siapa saja yang terlihat memiliki faktor X?

Saya memang fans setia acara X-Factor mulai dari babak awal penyisihan ribuan kontestan. Tapi sayangnya di antara ke-13 kontestan yang berhasil masuk ke Gala Show, belum ada satu pun yang saya idolakan secara sungguh-sungguh. Di antara banyaknya ajang pencarian bakat menyanyi, saya hanya memiliki satu idola yang sungguh-sungguh membuat saya terpukau sehingga rela ikut mengirimkan sms, dialah Regina. Namun walaupun begitu, menurut saya, versi saya dan pendapat pribadi saya, kontestan yang paling kuat faktor Xnya adalah Isa Raja, Dicky Adam, Shena Malsiana, Yohana dan Fatin Shidqia. Kemudian Novita Dewi, Alex Rudiart dan Agus Hafiluddin walau tidak terlihat faktor Xnya, namun memiliki karakter suara yang layak diperdengarkan di panggung semegah dan semewah X-Factor. Sedangkan kontestan lainnya hanya bagus saja, tidak ada yang istimewa dan terlalu standard. Jika di luar sana banyak sekali orang-orang yang bersuara bagus dan bisa menyanyi, maka mereka-mereka yang berada dalam konteks standard akan sangat mudah dilupakan masyarakat ketika bermunculan pendatang-pendatang baru di ajang serupa.


Menyaksikan tingkah polah para juri yang semakin nyeleneh (menurut saya) membuat saya setiap minggunya semakin kehilangan gairah terhadap acara yang saya gandrungi di awal-awal ini. Ya saya setuju bahwa ini adalah kompetisi dan acara ini pada akhirnya memang hanya akan mengantarkan satu orang jawara saja. Namun bagaimana proses mengeliminasi kontestan tentu akan menjadi perhatian masyarakat. Proses mengeliminasi yang nyeleneh inilah yang akhirnya membuat saya menilai bahwa acara X-Factor sudah benar-benar kehilangan faktor Xnya. Saya tidak bisa lagi melihat acara ini adalah sebagai ajang pencarian pribadi yang unik, yang bukan hanya sekedar bersuara bagus dan bisa menyanyi.


Kekecewaan pertama bermula dari Gala Show yang ke-1 ketika posisi bottom two harus diisi oleh Dicky Adam Vs Ilusia Girl. Heeeiiii…saya kira masyarakat bisa melihat bahwa seorang Dicky Adam sangat unik. Walau dengan keunikannya ini masyarakat kita cenderung tidak bisa menerima dan lebih suka yang standard-standard saja. Anggun & Dhani wajar memilih anak didiknya sendiri. Kemudian ketika Bebi memilih Dicky Adam, Rosa malah memilih menyelamatkan Ilusia Girl sehingga harus deadlock dan Dicky pun pulang karena kalah sms. Ooh come on Rosa, please tell me berapa banyak penyanyi yang mampu bernyanyi seperti Dicky Adam di Indonesia ini dan berapa banyak yang serupa dengan Ilusia Girl??? Where is your sense of judges?

Kekecewaan kedua kembali terjadi di Gala Show ke-6 ketika posisi bottom two harus diisi oleh Alex Rudiart Vs Gede Bagus. Okelah jika mereka berdua tidak terlihat faktor Xnya, maka evaluasilah dari kualitas suara dan performance mereka dari awal audisi. Yang lebih menonjollah yang seharusnya masih diberikan kesempatan untuk bertarung di Gala Show selanjutnya. Tapi ternyata juri berselera lain. Wajar jika Anggun & Bebi menyelamatkan anak didiknya masing-masing. Nah apa pertimbangan Dhani & Rosa menyelamatkan Gede Bagus??? Apa kelebihan yang dimiliki Gede Bagus sehingga bisa mengalahkan Alex Rudiart? Apakah skenario ini dibuat hanya untuk menyingkirkan Alex sebagai salah satu kontestan yang cukup tangguh sehingga mengamankan anak didik Dhani & Rosa masing-masing? Atau mungkin juga skenario ini telah disusun management X-Factor untuk mengurangi anak didik Bebi Romeo yang masih tersisa 3 sedangkan anak didik Anggun sudah tersisa 2? Dengan begitu tidak terjadi ketimpangan jumlah anak didik di setiap mentor. Jika skenario inilah alasannya, maka what the h*ll to this program!

Kekecewaan ke-3 dan ini adalah puncak kekecewaan saya atas Gala Show ke-8 kemarin malam. Posisi bottom two diisi oleh Isa Raja Vs Nu Dimension (Nudi). Sekali lagi saya bilang wajar jika Bebi & Dhani masing-masing menyelamatkan anak didiknya. Anggun yang sedari awal kurang suka dengan group sejenis boy band, lebih memilih Isa Raja. Naaaaaah…Rosa what’s wrong with you??? Kenapa memilih untuk menyelamatkan NuDi sehingga berujung pada deadlock dan Isa Raja harus pulang karena kalah sms. Please…please tell me ada berapa banyak penyanyi yang bisa seperti Isa Raja di Indonesia??? Dan berapa banyak group-group boyband sejenis NuDi yang berkiprah di musik tanah air? Keraguan saya terhadap kapabilitas Rosa sebagai penyanyi yang bisa memegang amanah menjadi juri mulai terlihat dari isi komentar-komentar yang dia berikan kepada kontestan, kopong!! Ditambah lagi dengan bagaimana dia memilih kontestan yang layak diselamatkan di acara X-Factor yang mestinya punya faktor X, saya benar-benar mempertanyakan sense of judges dari seorang Rosa.

Entahlah jika alasan Rosa untuk memilih Nudi agar terjadi deadlock dan Isa Raja harus pulang adalah karena skenario team management X-Factor agar anak didik Dhani tidak habis sama sekali, maka sesungguhnya acara X-Factor Indonesia sudah bertransformasi menjadi sinetron drama penuh rekayasa. Mari kita lihat bagaimana nanti drama untuk menyingkirkan anak didik Rosa yang masih tersisa 2 orang ;)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 5 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 6 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 7 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Film Hollywood Terbaru ‘ Interstellar …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Selfie Produk: Narsisme membangun Branding …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Masa Kecil yang Berkesan di Lingkungan …

Amirsyah | 8 jam lalu

Kisruh Parlemen, Presiden Perlu Segera …

Stephanus Jakaria | 8 jam lalu

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: