Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Iksan Mahar

Pecinta musik dan bola | Pelancong | Pemimpi | iksanmahar@live.com | @I_Mahar

Review Album “Di atas Rata-rata”: Proyek Monumental Cilik

HL | 15 April 2013 | 20:39 Dibaca: 1964   Komentar: 15   1

1366033073888716283

kidnesia.com

Memasuki medio 2000, industri musik Indonesia dibanjiri beragam aneka jenis musik yang silih berganti menguasai pasar. Serta, hadir pula macam-macam acara musik yang menjadi wadah untuk lahir dan terkenalnya musisi-musisi baru. Tapi, di tengah situasi itu disadari atau tidak musikalitas musisi di Tanah Air hanya berkutat pada genre-genre yang saat itu dianggap disukai pasaran. Berbeda dengan apa yang hadir di dekade 1990-an saat pemusik Pop, Rock, Metal berbagi kue industri dengan pemusik cilik, yang menyanyikan lagu-lagu tentang keseharian mereka sebagai makhluk suci yang polos dan tak berdosa.

Hadirnya anak-anak Di Atas Rata-Rata (DARR), yang merupakan proyek Erwin Gutawa dan Gita Gutawa, bisa menjawab kegalauan penikmat musik Indonesia yang merindukan kehadiran anak-anak menampilkan suguhan musik berkualitas dengan ciri khas keluguan dan kepolosan mereka.

DARR terdiri dari 13 anak yang berusia sekitar 9-14 tahun yang berasal dari tiga kota besar Indonesia; Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Mereka bukanlah sembarang anak kecil, tapi mereka merupakan musisi-musisi cilik nomor wahid yang berhasil lolos dari audisi yang dilakukan Erwin Gutawa dan Gita Gutawa.

Perpaduan antara aransemen musik berkelas Erwin Gutawa dan kepekaan musik masa kini Gita Gutawa menjadi ramuan ajib untuk menyuguhkan 10 track dengan warna musik berbeda nan apik, namun tak sedikitpun meninggalkan sisi kekanakan mereka.

Sensen ditampuk sebagai pembuka album DAAR dengan lagu legendaris dari Titiek Puspa, “Apanya Dong”. Nuansa rock membalut lagu ini. Suara renyah dan melengking dengan cengkok blues yang kental menjadi ciri khas anak asal Surabaya dengan rambut gondrong dan berkacamata ini. Usai dihentak oleh Sensen, di track 2 Ari membawa kita untuk menjadi sendu dengan lagu “Ayah”. Suara Ari yang jernih dengan nuansa soul ampuh membuat pendengar untuk tersentuh dengan lagu ini. Kanya menjadi perempuan pertama yang melatunkan suaranya di album DARR dengan lagu monumental ciptaan Guruh Soekarno Putra. “Melati Suci”. Dengan suara Kanya, lagu ini dibawa dalam rasa jazz yang manis dan lembut. Selain solois DAAR juga menampilkan dua trio, salah satunya Aeroa. Diambil dari nama ketiga personilnya, Naomi, Rara, dan Dea, Aorea menyanyikan lagu fenomenal dari Samsons yang berjudul “Kenangan Terindah”. Ketiga dara ini memiliki kualitas vokal mengagumkan, sehingga ketika dipadukan dalam trio mereka berhasil menyajikan harmonisasi vokal yang luar biasa, tanpa menghilangkan kekhasan masing-masing. Kalau sebelumnya ada Kanya dengan ballad jazz, di track 5 ada Rafi yang juga jazzy dengan insting improvasisi vokal yang mengagumkan. Menyanyikan lagu “Do Be Do”, Rafi memberikan warna tersendiri yang mampu menghilangkan sosok Gita Gutawa yang pertama kali mempopulerkan lagu ini.

Suara sopran Dian yang menyanyikan lagu “Kupu-kupu” karya klasik Melly Goeslow. Dengan ornament orchestra melatari lagu dengan sentuhan musik klasik, sekali lagi menyadarkan pendengar bahwa mereka bukan sekedar penyanyi ingusan. Track 7, ada Noni yang memiliki musikalitas tingkat tinggi dengan suara yang flesksibel untuk berbagai genre musik. Membuat Erwin Gutawa dan Gita Gutawa menciptakan satu lagu khusus untuknya, “Di Duniaku”. Tidak lengkap rasanya, bila album yang menampilkan anak-anak luar biasa ini tidak menampilkan musik etnik tanah air. Oleh sebab itu, hadirlah Woro. Menyanyikan “Walang Kekek” menjadi pembuktian keorisinilan Woro sebagai pemusik cilik yang bergelut dalam musik tradisional Jawa. Trio terakhir di album DARR ialah Boy Sopranos. Beranggotakan Sabian, Moses, dan Christo, ketiga bocah ini layaknya Il Divo cilik dari Indonesia, yang menyanyikan lagu “Damai Bersamamu”. Suara soprano ketiganya membuat lagu ini terdengar sangat mendalam dan menyentuh. Seperti laiknya album-album tematik kompilasi, pasti disisipi juga anthem. DARR juga memiliki itu. Lagu berjudul “Jangan Remehkan” memberikan pesan bahwa mereka adalah 13 anak Indonesia yang nyaris memiliki segalanya untuk menjadi besar dan melegenda di masa depan.

Dengan proyek DARR, Erwin Gutawa dan Gita Gutawa seakan ingin menampilkan penyanyi-penyanyi cilik ini bukan hanya sekedar sebagai idola cilik, yang akan timbul sesaat lalu tenggelam ketika tumbuh dewasa. Melainkan mereka ingin mempersiapkan anak-anak itu memasuki industri musik Indonesia yang terkenal keras dan serba instan. Yang patut dibanggakan dari album ini ialah komposisi lagu yang semuanya berbahasa Indonesia. Selain itu, penyesuaian tema lagu juga sangat diperhatikan dalam konsep album ini. Meskipun ada lagu yang sebelumnya bercerita tentang cinta muda-mudi, demi menyesuaikan konten anak-anak, lagu-lagu itu lebih bersifat cinta secara universal.

Pula, DARR menunjukkan bahwa Indonesia punya bakat-bakat musik yang luar biasa di masa depan, bukan hanya musisi aji mumpung yang mendewakan lipsync saat tampil di atas panggung. Dengan anak-anak DARR, kita bisa berharap masa depan yang mendunia bagi musik Indonesia. Semoga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

BBM Naik Kenapa Takut? …

Mike Reyssent | | 30 August 2014 | 00:43

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | | 30 August 2014 | 04:53

Jokowi-JK Berhentilah Berharap Tambahan …

Win Winarto | | 29 August 2014 | 22:16

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 11 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 11 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 16 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 18 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 22 jam lalu


HIGHLIGHT

London in a Day on Foot …

Fillia Damai R | 10 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 10 jam lalu

Mengintip Sekelumit Catatan Umar Kayam …

G | 11 jam lalu

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 12 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: