Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Hendra Wardhana

menyukai Anggrek Alam Indonesia | tidak suka rokok dan masakan pedas | @_hendrawardhana | wardhanahendra.blogspot.com

Live Show 1 The Voice Indonesia: Tim Glenn & Armand Unggul, Tim Sherina Kompetitif

REP | 29 April 2013 | 16:18 Dibaca: 2362   Komentar: 13   0

Persaingan meraih gelar juara The Voice Indonesia memasuki babak utamanya semalam. Panggung Live Show menjadi ajang bagi 24 finalis untuk membuktikan talenta sekaligus merebut hati penonton dan coach mereka. Dan 12 di antaranya telah bernyanyi, sayangnya 4 di antara mereka harus tereliminasi. Beberapa mungkin tersisih terlalu dini.

Sedikit uraian ini mungkin bisa meringkas penampilan mereka meski kesan dan penilaian berbeda boleh dimiliki oleh yang lainnya.

Tim Sherina
Agseisa : Menyanyikan lagu Pupus milik grup Dewa, penampilannya mungkin tak segarang saat battle show atau blind audition. Tapi suara khasnya jelas menjadikannya istimewa di atas panggung. Meski kostum yang dikenakannya kurang asyik untuk dinikmati, aksen suara rock-nya juga tak sekencang biasanya karena lagunya yang bertempo medium, tapi penampilannya semalam menunjukkan kualitasnya sebagai unggulan dari Tim Sherina.

Santi : Membawakan lagu “If I Were a Boy”, Santi boleh dibilang kurang berhasil. Satu yang tak bisa dinikmati dari penampilannya semalam adalah dinamika. Bukan penampilan yang spesial tapi untungnya ia memiliki warna suara yang enak dan mampu melengkapi nilai kompetitif Tim Sherina meski mungkin bukan dia yang akan jadi pemenangnya nanti.

Fredy : Bermain di genre yang berbeda dengan Agseisa, ia mejadikan Tim Sherina sangat lengkap bahkan secara kolektif seimbang dengan Tim Armand atau Glenn. Penampilannya termasuk pada level yang asyik untuk dinikmati. Suaranya yang berat dan warnanya yang berada di antara pop dan jazz, serta pembawaannya yang tenang membuat Fredy termasuk salah satu penampil terbaik kemarin malam.

Tim Armand
Alf : Penyanyi rock ini semalam dipaksa lebih kalem dengan membawakan lagu melankolis milik Geisha. Satu yang menjadi kelebihannya semalam adalah bisa menyelesaikan tantangan lagu yang dikenal sulit itu. Selebihnya ia tampil biasa saja dan saya kurang menikmatinya semalam.

Arro : Membawakan hits milik Peterpan-Ada Apa Denganmu dalam gaya swing-jazz, ia mendapat pujian dari 4 coach. Penampilannya yang santai ditambah warna suaranya yang mendukung, membuatnya berhasil meniupkan ruh baru pada lagu yang terlanjur identik dengan Ariel tersebut. Tim Armand menjadi paket yang lengkap dengan adanya Arro.

Dita : Nyatanya dia tampil memukau dengan membawakan lagu legendaris Kompor Mledug dalam aransemen blues. Penampilan istimewa, penuh dinamika serta suara yang asyik ditambah permainan harmonika yang cantik, sulit untuk mengatakan Dita akan tereliminasi. Di antara Tim Armand semalam, dialah bintangnya dan di antara 12 finalis yang tampil semalam, Dita ada di empat besar terbaik.

Tim Glenn
Dessy : Dia adalah salah satu yang membuat Tim Glenn menjadi istimewa dan sering dipandang setingkat lebih unggul di banding 3 tim lainnya. Dan penampilannya semalam dengan lagu Tak Kuduga milik Ruth Sahanaya membuktikan itu semua. Kematangan dalam bernyanyi adalah kelebihan paling menonjol dari Dessy di atas panggung. Sayangnya dia bukan tipe favorit penonton muda Indonesia yang mendominasi ajang pencarian bakat seperti The Voice.

Gilbert : Ketika dia baru memulai lagunya, saya merasa dia tidak akan mulus membawakan lagu milik Chrisye. Meski warna suaraya unik, aksinya pada battle show juga menarik, tapi kualitas penampilannya semalam adalah yang terbawah di antara Tim Glenn dan mungkin salah satu kandidat out dari 12 finalis.

Tiara : Tiara adalah alasan mengapa banyak yang menjagokan Tim Glenn. Dan aksinya semalam menjadi alasan untuk banyak orang menjagokannya sebagai calon juara. Membawakan tembang populer milik Agnes Monica-Tak Ada Logika, ia tak hanya tampil memukau melalui suara dan aksinya. Tapi ia juga berhasil memancing penonton untuk melihat kelebihannya dibanding kontestan lainnya dengan merombak lagu yang dibawakannya menjadi tembang yang jauh berbeda dari versi aslinya. Telinga saya mungkin tak terlalu menerima versi Tiara semalam. Tapi penampilannya memang istimewa.

Tim Giring
Arden : Tampil membawakan lagu berbahasa Inggris, ia dipuji para coach. Meski pelafalannya kurang nyaman untuk dinikmati tapi secara kemasan dan warna suara, Arden cukup bisa mewarnai panggung The Voice dengan baik.

Ayu : Sebagai salah satu kontestan termuda, dia membuat panggung The Voice menjadi sangat bervariasi meski warna suaranya termasuk biasa dan sudah banyak dijumpai di panggung musik industri saat ini. Membawakan lagu Mencintaimu milik Krisdayanti, ia dengan lancar menyelesaikannya. Tipe lagu ballad mungkin akan selalu bisa membuatnya aman. Ayu juga memiliki keuntungan besar karena dia mewakili generasi penonton Indonesia yang menggemari ajang pencarian bakat.

Billy : Hingga saat ini dia jelas kompetitor utama untuk Tiara, Agseisa dan beberapa nama lain yang baru akan tampil minggu depan. Billy memiliki kelebihan karena penonton akan selalu berteriak bahkan ketika namanya baru akan disebutkan. Ia juga memiliki modal popularitas karena sudah dikenal lebih dulu oleh sejumlah selebritis. Dan penampilannya semalam merangkum semua kelebihannya itu. Dengan eksplorasi dan penghayatan yang baik, Billy berhasil membuat lagu Cherrybelle-Beautiful naik kelas meski menurut saya penampilannya tidak lebih baik dibanding Tiara atau Agseisa. Selebihnya, tanpa mengesampingkan nama-nama lain di dalam Tim Giring, Billy mungkin satu-satunya alasan mengapa Tim Giring menjadi memiliki modal untuk bersaing dengan kolektivitas 3 tim lainnya.

Sebagai sebuah kompetisi bernyanyi, The Voice Indonesia masih menunjukkan sebagian wajah yang sama dengan ajang-ajang serupa. Tapi sikap yang diambil The Voice memang berbeda. Sejauh ini The Voice bisa lebih dinikmati sebagai panggung para penyanyi dan tidak menyajikan tontonan yang melelahkan, mengursa waktu dan perasaan. Setidaknya berdasarkan pengalaman menonton sejumlah konser penyanyi dan band Indonesia, suguhan The Voice Indonesia cukup pas untuk dinikmati mendekati pertunjukkan musik.

Namun demikian The Voice Indonesia tak lepas dari beberapa kelemahan yang membuatnya kurang maksimal sebagai acara TV. Kelemahan-kelemahan Live Show The Voice Indonesia bisa disimak di sini.

Sebelum menyaksikan Live Show semalam, saya masih berfikir juara The Voice Indonesia yang pertama ini mungkin akan datang dari tim Sherina atau Armand. Alasannya kedua tim itu menawarkan banyak pilihan dan secara kolektif sangat kompetitif dan seimbang. Apalagi selama battle show mereka tampil baik. Tapi ketika Live Show usai saya tersadar lagi setelah hampir lupa bahwa The Voice juga memiliki penguasa bernama polling sms.

Seperti yang sudah-sudah, pada akhirnya kekuatan sms memang sangat menentukan. Hasilnya terbukti semalam. Beberapa nama dianggap tersisih terlalu dini. Pilihan 4 coach untuk memilih finalis tersisa untuk diloloskan pun menjadi tak semudah menilai penampilan mereka di atas panggung. Alf dan Ayu yang tampil tak istimewa nyatanya mendapat sms tertinggi. Akhirnya Arro, Desy, Fredy dan Arden tak bisa melanjutkan penampilan mereka di Live Show karena pilihan para coach menjadi lebih sulit.

Tapi hal itu justru menjadi unik dan membuat panggung The Voice menjadi lebih berimbang karena ke-4 tim sama-sama kehilangan seorang finalis yang mungkin masih lebih baik dibanding yang mendapatkan sms tertinggi.

Sejauh ini Tim Armand dan Glenn boleh dianggap lebih unggul. Tapi Sherina juga memiliki nama-nama yang kompetitif. Sementara Tim Giring beruntung memiliki seorang Billy di dalamnya.

Siapa juara The Voice Indonesia ?. Jelas masih terlalu dini. Tapi bersiaplah menerima kejutan dari “juri yang tak terlihat” bernama polling sms.

Sebagai penggemar musik Indonesia, saya hanya menikmati. Beginilah kompetisi, tak perlu kesal apalagi terbawa perasaan. Menyalahkan keputusan juri ?.  Nyatanya merekalah yang lebih tahu tentang musik. Saya tak ingin mengatakan musik adalah demokrasi karena demokrasi kadang lebih tidak jelas dan debatable. Yang pasti musik adalah selera dan kebutuhan yang  dinikmati dengan hati. Dan itu semua tak mungkin seragam, apalagi dipaksakan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Agnezmo Masuk Final Nominasi MTV EMA 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 16 September 2014 | 19:37

60 Penyelam Ikut Menanam Terumbu Karang di …

Kompas Video | | 16 September 2014 | 19:56

“Penjual” Perdamaian Aceh …

Ruslan Jusuf | | 16 September 2014 | 17:33

Musim Semi di Australia Ular Berkeliaran …

Tjiptadinata Effend... | | 16 September 2014 | 15:54

Ibu Rumah Tangga, Profesi atau Bukan? …

Mauliah Mulkin | | 16 September 2014 | 13:13


TRENDING ARTICLES

Ahokrasi, Tepat dan Harus untuk Jakarta …

Felix | 12 jam lalu

Norman K Jualan Bubur, Tampangnya Lebih Hepi …

Ilyani Sudardjat | 12 jam lalu

Suparto, Penjahit Langganan Jokowi …

Niken Satyawati | 15 jam lalu

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 16 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kalah 4-2, Persipura Masih Bisa Balas di …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Bahasa Menunjukkan Bangsa …

Alfarizi | 8 jam lalu

Hysteria …

Moch. Mishbachuddin | 8 jam lalu

Harga LPG 12Kg (NonSubsidi) Mencapai Harga …

Yulian Amalia | 8 jam lalu

Cesky Krumlov, Kota Cantik di Republik Ceko …

Mentari_elart | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: