Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Adrian Rosadi

semua keburukan pasti asalnya dari saya, semua kebaikan pasti asalnya dari Allah swt.

Dangdut Jaman Sekarang Tidak Berkualitas!

OPINI | 06 May 2013 | 16:08 Dibaca: 1151   Komentar: 11   1

Apa genre musik yang Anda sukai? kalau pertanyaan itu diberikan kepada saya, mungkin saya akan menjawab musik pop, jazz, blues, country, ataupun rock. Bagaimana dengan dangdut? Suka? Hmm… ini bingung juga jawabnya.

Saya sendiri bukan penggemar berat dangdut. Tapi kalau dibilang suka, ya kadang-kadang suka dengar juga sih lagu-lagu dangdut jaman dulu seperti karya-karyanya Rhoma Irama. Meskipun gak suka-suka amat, saya cukup miris dengan keadaan musik dangdut di tanah air belakangan ini. Genre musik yang bisa dibilang khas Indonesia ini (walau sebenarnya merupakan campuran musik melayu, India, dan Arab) mulai tidak digemari oleh anak-anak jaman sekarang.

Alasannya mugkin banyak, mulai dari dicap kampungan, norak, atau juga vulgar. Pokoknya, dangdut itu gak keren! Ya, suka tidak suka seperti itulah citra dangdut sekarang ini. Berbeda dengan periode awal munculnya aliran ini di Indonesia di tahun 70-an.

Saat itu dangdut adalah salah satu genre yang paling digemari kawula muda. Salah satu lagu terpopuler waktu itu adalah “Boneka dari India” (pasti pada tau semua kan lagunya yang mana, hehe). Kemudian muncul juga Rhoma Irama. Sosok yang kita kenal sebagai raja dangdut itu begitu fenomenal dengan karya-karyanya yang begitu digemari oleh masyarakat. Singkatnya, dulu musik dangdut adalah salah satu musik yang dianggap “berkelas”.

Dangdut dan Country

Hal tersebut kontras dengan kondisi saat ini. Dangdut dianggap sebagai musik “pinggiran”. Gak percaya? Sebagai bukti, coba saja kita lihat di X-Factor Indonesia, kompetisi menyanyi yang cukup digemari saat ini. Dari awal hingga minggu terakhir kemarin, tidak ada satupun kontestan yang menyanyikan lagu dangdut. Kalaupun ada itu hanya sebatas satu-dua bait sebagai pengantar ataupun lagu dangdut tapi diubah menjadi genre lain.

Sebagai musik yang “merakyat” di Indonesia, hal ini berbeda apabila kita bandingkan dengan X-Factor Amerika misalnya, dimana pemenang musim terakhir X-Factor Amerika adalah penyanyi country. Musik country dapat dibilang adalah musik dangdut-nya Amerika karena sifatnya yang tradisional dan “merakyat” di Amerika sana.

Ketika country masih bisa bertahan dan digemari di Amerika, lantas kenapa tidak demikian dengan dangdut di Indonesia? Persoalan utamanya mungkin satu: kualitas! Ya, disaat country terus digemari dan bahkan menyebar ke berbagai belahan dunia, dangdut seperti mati suri.

Mungkin masih banyak lagu-lagu dangdut yang diciptakan saat ini, tapi kalau bicara tentang kualitas, mungkin masih kalah kualitasnya dengan dangdut di jaman Rhoma Irama, Evie tamala, Cici Paramida, dsb. Miris sekali karena banyak lagu-lagu dangdut yang saat ini muncul adalah lagu-lagu yang sifatnya tidak mendidik dan kurang berkualitas. Kesannya pokoknya asal jadi, dapet uang, bereslah. Bahkan cenderung vulgar. Beberapa mungkin memperlihatkan kemalasannya dengan hanya me-remix lagu pop menjadi dangdut, ataupun menggabungkan beberapa lagu luar (yang entah apakah mereka sudah izin ke penciptnya) menjadi satu lagu.

Membaca judul lagunya saja mungkin sudah membuat kita geleng-geleng kepala. Mulai dari “cinta satu malam”, “belah duren”, “satu jam saja”, “jablay” sampai “berondong tua”. Itu baru dari segi karya. Belum lagi ke penyanyinya. Berbeda dengan jaman dulu yang sifatnya begitu santun, lirik yang punya makna mendalam, dengan aksi panggung yang kreatif seperti ditunjukkan Bang Rhoma dan Band Soneta-nya. Bagaimana dengan sekarang? Coba Anda cek saja ke Youtube, ketik kata “dangdut”. Jangan kaget kalau video-video yang muncul mungkin tidak terlalu pantas untuk ditonton karena hanya menonjolkan sensualitas belaka.

Jadi, kalau sudah seperti ini, jangan heran kalau dangdut makin tidak digemari di masa yang akan datang. Mungkin dangdut membutuhkan sosok yang bisa menjadi “the next Rhoma Irama” untuk memulihkan kembali citranya dan kembali menjadi musik papan atas di Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kang Pepih, Hasan Tiro, dan Gerakan Literasi …

Risman Rachman | | 26 April 2015 | 21:16

Di Pantai Mertasari Banyak PSK …

Hadisang | | 26 April 2015 | 15:54

Gebyar Lomba Blog dan Hadiah di Bulan April …

Kompasiana | | 17 April 2015 | 12:34

Hari Minggu dan Surat dari Tuhan …

Andi Wi | | 26 April 2015 | 11:54

Ramaikan “Festival Pasar Rakyat” …

Kompasiana | | 15 April 2015 | 16:19


TRENDING ARTICLES

Edan! Tarian Bugil Jadi Pengiring Pemakaman …

Abd. Ghofar Al Amin | 6 jam lalu

Gagasan Tommy Soeharto Ditolak, Ini …

Mbah Mupeang | 7 jam lalu

Kabinet Jokowi: Siapa Saja yang di Resuffle? …

Imam Kodri | 7 jam lalu

Ketika Bung Karno Bilang:” …. …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Selasa Malam 10 Gembong Narkoba Dieksekusi …

Bambang Setyawan | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: