Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Halina Said

Mahasiswa semester akhir yang sibuk skripsi, tapi masih sempet ngompasiana

Mengendapkan Hati dan Bernyanyi (Cak Nun - Album “Kado Muhammad”)

REP | 11 May 2013 | 12:57 Dibaca: 623   Komentar: 1   1

Suatu hari ketika saya kelas lima SD (sekitar tahun 1999), Bapak membeli sebuah kaset berjudul “Kado Muhammad”. Isinya adalah lagu dan syair yang ditulis oleh Emha Ainun Nadjib diiringi oleh gamelan Kiyai Kanjeng. Sebagai anak yang beranjak besar, sebetulnya saya kuper saat itu (setidaknya kakak saya selalu berkata begitu). Saya tidak begitu mengenal boyband yang tenar di zaman itu seperti Westlife, A1, Backstreet Boys, The Moffat, Boyzone. Saya justru mengenal mereka hari ini (entah kenapa saya selalu telat soal kultur pop). Ketika itu saya lebih banyak mendegar kaset apapun yang dibeli oleh Bapak, seperti Iwan Fals, Cak Nun, Wafiq Azizah, Opick sampai kaset ceramah.

“Kado Muhammad” berisi beberapa lagu yang begitu saya kenal hingga hari ini. Untuk ukuran anak kelas 5 SD, saya kira terlalu berat mencerna berbagai syair yang dalam milik Cak Nun. Tapi saya betah mendengar gamelannya. Saya putar berulang kali, side A side B (anak sekarang pasti tidak mengenal istilah ini). SMP, saya masih rajin memutar kaset ini (saat teman lain gandrung Sheila On 7 dan Cokelat). Saya yakin saat itu saya juga belum paham makna semua syairnya, tapi saya masih rajin mendegar sambil sesekali sok sok menulis yang mirip dengan itu. Hingga akhirnya, teknologi telah banyak bergerak maju. Orang orang mulai meninggalkan kaset dan beralih pada MP3. Mulai saat itu saya terlena dengan benda yang bisa digantung di leher, berisi ratusan lagu, yang bernama mp3 player. Kaset “Kado Muhammad” entah dimana beradanya kini.

Saya bingung dengan apa yang mau saya ceritakan. hehehe. Intinya begini, saya senang sekali dengan karya karya Cak Nun. Syair dan lagunya membawa saya pada perenungan yang dalam. Cak Nun dengan cara yang tidak menggurui mengajak saya untuk memutar kepala, membuka mata, melihat sekeliling. Lewat gamelan dan syairnya Cak Nun mengajak saya mengendap hati dan bernyanyi.

Tombo Ati -  Emha Ainun Nadjin (Salah satu lagu di Kado Muhammad)

“kepada engkau yang menyimpan kesengsaraan dalam kebisuan,

kepada engkau yang menangis dalam batin karena dikalahkan disingkirkan diusir ditinggalkan, atau sangat sangat susah ketemu yang namanya keadilan;

aku ingin bertamu ke lubuk hatimu saudara-saudaraku untuk mengajakmu istirah sejenak, mengendapkan hati dan bernyanyi, mengendapkan hati dan bernyanyi;

saudara-saudaraku sesama orang kecil di pinggir jalan, sedulur-sedulurku di dusun-dusun, kampung-kampung perkotaan, karib-karibku di gang-gang kotor, di gubuk-gubuk tepi sungai yang darurat, atau mungkin saudara-saudaraku di rumah-rumah besar dikantor mewah namun memendam kepedihan diam-diam;

aku ajak engkau semua sahabat-sahabat saudaraku untuk menarik nafas sejenak, duduk bersandar atau membaringkan badan,

kuajak engkau menjernihkan pikiran, untuk menata hati menemukan kesalahan-kesalahan kita semua untuk tidak kita ulangi lagi, atau meneguhkan kebenaran-kebenaran untuk kita perjuangkan kembali.

ayolah saudara-saudaraku, rileks!

Tombo ati iku ono limang perkoro

Kaping pisan moco Qur’an sakmaknaneKaping pindo Sholat wengi lakononoKaping telu wong kang sholeh kumpulonoKaping papat weteng iro engkang luweKaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sakwijine sopo biso ngelakoniInsya Allah Gusti Pangeran ngijabahi”

Beruntung, teknologi telah semakin canggih. Walau kaset Kado Muhammad telah raib, banyak orang yang mengunggah lagu lagu Cak Nun di Youtube atau dalam bentuk mp3. Saya bisa menyimpannya di memori ponsel, mendengarkannya kembali berulang ulang. Tidak peduli apakah saya telat nonton Winter Sonata atau ketinggalan berita tentang Lady Gaga. Bersama Cak Nun saya istirah sejenak, mengendapkan hati dan bernyayi, untuk menata hati menemukan kesalahan-kesalahan untuk tidak diulangi lagi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menyelamatkan 500 Generasi Muda dari Dampak …

Thamrin Dahlan | | 19 September 2014 | 20:47

Dangdut Koplo Pengusir Jenuh, Siapa Mau? …

Gunawan Setyono | | 20 September 2014 | 08:45

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | | 19 September 2014 | 14:10

Saya, Istri dan Kompasiana …

Tubagus Encep | | 20 September 2014 | 08:00

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 2 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 3 jam lalu

Beda Kondisi Psikologis Pemilih Jokowi …

Rahmad Agus Koto | 3 jam lalu

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 11 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Agar Tak Lagi Impor LPG …

Agung Wredho | 7 jam lalu

Puluhan Kompasianer Tanggapi Ulah Florence …

Kompasiana | 8 jam lalu

Inilah yang Khas di Jalan Juanda Bogor …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Sate Khas Semarang yang ada Di Jakarta …

Kornelius Ginting | 8 jam lalu

Browser Chrome Tidak Cocok Untuk Membuka …

Ruslan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: