Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Irvan Sjafari

Saat ini bekerja di sebuah tabloid komunikasi dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. selengkapnya

Faktor X Fatin di X Factor Indonesia dan Catatan untuk Kontes Pencarian Bakat Lainnya

OPINI | 13 May 2013 | 20:24 Dibaca: 5262   Komentar: 22   12

1368451354597291162

Fatin Shidqia Lubis (kredit foto www.tribunnews.com)

Menonton penampilan Fatin di X Factor Indonesia Jum’at 10 Mei 2013 lalu saya jadi ikut berdebar ketika dara usia 16 tahun itu lupa lirik ketika menyanyikan Everything at Once (yang dipopulerkan Lenka). Saya kagum pada mentornya Rossa yang menghambur ke panggung agar anak didiknya tidak jatuh mentalnya. Begitu juga para juri lainnya Ahmad Dhani, Anggun dan Bebi Romeo bertindak bijaksana. Fatin tampaknya pulih pada penampilan keduanya bersama mentornya menyanyikan Material Girl (dipopulerkan Madonna) dan andalannya Grenade-nya Bruno Mars pada penampilan ketiga.

Jujur saya juga termasuk “golongan fatinistic” dalam ajang ini. Saya cukup puas sebetulnya kalau Fatin tidak sampai menjadi juara, karena masuk tiga besar sudah cukup maksimal mengingat di antara tiga besar dia yang paling muda. Bandingkan dengan Novita Dewi yang lebih mature (kelahiran 1979) dan punya pengalaman ikut berbagai kontes menyanyi. Dewi pernah meraih juara dua pada ajang Cipta Pesona Bintang, Weekly Champion (juara mingguan) Asia Bagus, serta juara pertama Suara Remaja Vinolia RCTI. Prestasi tertinggi Dewi diraihnya saat menjadi juara pertama dalam Astana Song Festival 2005 di Kazakhastan.

Sementara empat penyanyi cowok dari NU Dimension juga punya kematangan mental. Jadi sebetulnya di atas kertas Fatin “nothing to loose” kalau pun hanya posisi ketiga. Berdasarkan hitung-hitungan rasional (meski SMS dari pemirsa bisa menentukan lain), saya kira Novita Dewi wajar bisa meraih juara pertama. Kalau posisi dua besar peluang Fatin dan NU Dimension saya kira sama kuat.

Kalau dari seluruh penampilan Fatin di kontes X Factor Indonesia, saya paling suka ketika dia menyanyikan One Way or Another (yang dipopulerkan Blondie) dan lebih membuat saya merinding ketika dia menyanyikan lagu Tak Ada yang Abadi -nya (Noah) yang keduanya di Gala ke 11, 3 Mei 2013. Pada dua lagu itu saya mendapatkan nuansa yang beda dari penyanyi aslinya. Kontestan lain sebetulnya juga tampil memukau dalam Gala Show ke XI ini, mungkin karena besoknya tiga besar harus tampil dengan Lenka dan seabrek kegiatan cukup memberikan pengaruh bagi Fatin (yang belum punya pengalaman).

Catatan lain untuk Fatin dari saya juga suka ketika dia menyanyikan Pumped Up Kicks dari Foster The People cukup menarik agak serak. Hanya dua penyanyi perempuan Indonesia yang memberikan nuansa feminin pada lagu itu. Yang lain adalah penyanyi favorit saya juga penyanyi jazz Andien di sebuah kafe di Kemang kalau tidak salah Maret 2012. Pada intro jelas Andien (catatan saya Andien muncul sebagai penyanyi jazz berbakat sekitar usia 15 tahun) lebih kuat teknik vokalnya namun pada refrainnya keduanya punya kharakter, Fatin ada seraknya mirip ketika dia menyanyikan Grenade dan Andien kental pop jazz. Saya juga mengapresiasi pilihan seorang juri tepat meminta Fatin menyanyikan lagu Mercy dari Duffy dengan nuansa Blues dan Jalan Cinta yang dipopulerkan Sherina.

1368451423813651502

Fatin duet denagn mentornya Rossa (kredit foto www.tribunnews.com)

Dari segi kharakter vokal yang khas sekalipun Fatin bukan di dua besar, ia tetap punya kans untuk menjadi penjadi penyanyi Indonesia masa depan. Dia punya segmen dan kemungkinan dia akan “sendirian” pada genre tertentu untuk penyanyi perempuan. Sementara Novita Dewi juga saya prediksi melejit jadi penyanyi masa depan hanya saja dari segi kompetitornya di blantika music Indonesia bakal lebih ketat. Saya juga menghitung Sheina sebetulnya juga anak didik Rossa punya kans. Saya justru agak ragu dengan NU Dimension, namun faktor Ahmad Dhani harus dihitung.

X Factor dan Kontes Lain

Di rumah hanya saya yang mengikuti X Factor Indonesia, ibu lebih suka mengikuti Indonesia Mencari Bakat. Ini juga kontes yang lain lagi. Saya nggak ngerti bisa-bisanya mengadu penari tradisional, penari modern, pole dance, penyanyi, pelukis pasir dan aneka bakat lainnya. Kemudian ditentukan oleh pooling SMS dan hasilnya anak umur 11 tahun bernama Sandrina dengan bakat menari luar biasa berhadapan dengan Vina Candrawati, lagi-lagi “mature woman” , dengan bakat pelukis pasir. Sekalipun dalam final ada suara empat juri tetap saja keberadaan mereka sampai final ditentukan SMS.

Sudah saya duga Sandrina keluar sebagai juara. Hitung-hitungan rasional maupun prediksi pooling SMS. Joshua Pangaribuan dengan bakat menyanyinya ada di tempat ketiga, yaw wajar saja menurut saya karena yang punya bakat menyanyi itu banyak dan waktu yang hampir bersamaan ada X-Factor Indonesia dan Voice Indonesia yang penyanyi-penyanyinya lebih menarik.

Yang jadi pertanyaan apakah sesudah kontes pencarian bakat ini mereka ini benar-benar bertahan sebagai bintang? Katakanlah menjadi juara pertama atau menjadi juara kedua. Sejarah membuktikan bahwa dari Indonesia Idol hingga saat ini Citra Scholastika yang menurut saya paling eksis. Dari ajang yang sama Sarah Hadju (Sarah Idol) sempat menjadi vokalis grup Band Cokelat sekalipun dia hanya masuk empat besar pada ajang Indonesia Idol 2007. Kemudian Tika dan Tiwi dari Akademi Fantasi Indosiar 2005 yang keduanya tidak masuk tiga besar justru masuk jajaran blantika music Indonesia yang cukup signifikan. Finalis lainnya?

Saya menduga bahwa Tika dan Tiwi punya “pendukung tetap” –tidak harus banyak namun cukup siginifikan. Mereka pandai memelihara fans-nya dan menjalin komunikasi dengan mereka. Begitu juga Sarah Hadju dan Citra Scholastika juga punya pendukung tetap. Jadi bukan hanya pendukung yang temporer. Habis event selesai, ya dilupakan. Selain itu Citra, Sarah, T2 punya kharakter yang membuat mereka bertahan.

Saya jadi teringat pada Asia Bagus yang merupakan koloborasi TVRI dan beberapa stasiun televisi negara-negara Asia (seperti Fuji dari Jepang ,TV3 Malaysia dan sebagainya) ternyata lebih banyak mengeluarkan alumni penyanyi ternama Indonesia. Sebut saja nama Denada Tambunan menjadi juara olah vokal itu pada 1994 ketika masih berusia 16 tahun, Pada tahun yang sama juga muncul Cynthia Lamusu (juga usianya masih 16 tahun) yang kemudian menjadi salah satu vokalis AB Three kemudian menjadi Be3. Rekan-rekannya Widi dan Nola juga alumni Asia Bagus dan dari Asia Bagus itu lahir AB Three. Diva lain yang lahir dari ajang itu adalah Krisdayanti menjadi pemenang Asia Bagus pada 1992 pada usia 17 tahun dan pada tahun yang sama juga lahir Dewi Gita.

Bintang Radio 1953

Kontes mencari bakat di Indonesia yang pertama diadakan pada 1952 yaitu Pemilihan Bintang Radio. Sayang nggak ketemu informasi lengkap. Tetapi untuk lomba yang kedua kalinya, dalam Majalah Aneka No.21 pada 1953 saya menemukan ulasan Pemilihan 1953: Bintang Radio. Dalam artikel itu disebutkan ada perlombaan pendahuluan yang diikuti 34 penyanyi dari berbagai daerah, kemudian ada babak semi final dan final. Peserta dibagi dua kategori, yaitu peserta laki-laki dan peserta perempuan. Juri-jurinya antara lain Ibu Sud, Ny. Siwabessi, Gito Martojo, A. Simandjuntak, Sudjasmin, Kusbini dan Sabaa.

Dalam artikel itu disebutkan para juri memberikan kesempatan kepada para peserta menyanyikan lagu pilihannya sendiri, di samping lagu wajib Wanita untuk peserta perempuan dan Dahaga untuk peserta laki-laki. Dalam lomba menyanyi ini muncul nama Sam Samiun (dari Bandung) kelahiran 1924 (jadi waktu lomba dia sudah berusia 31 tahun) sebagai juara pertama. Penyanyi ini vibrasinya didengar mirip dengan Nat King Cole, penyanyi Jazz Amerika (salah satu referensi penyanyi masa itu). Sam meraih nilai total 311. Sementara juara ke dua adalah Ping Astono (ejaan lain Pingastono?) dari Jakarta dengan nilai 305 dan juara ke tiga adalah Andi Mulja dengan nilai 298. Pada perkembangannya Sam memang terus menjadi penyanyi, Ping bahkan menjadi pencipta lagu.

Untuk kelompok perempuan juara pertama Ade Ticoalu dari Jakarta dengan nilai 299, Nany Josodiningrat di tempat kedua dengan nilai 287 dan Norma Sanger dari Manado dengan nilai 284 berada di tempat ketiga. Sejarah kemudian membuktikan bahwa di antara ketiganya Norma Sanger paling mendapatkan tempat dengan top hits-nya Gembala Sapi. Pada waktu ikut lomba Norma Sanger berusia 19 tahun (kelahiran 1934).

Para juri menjadikan nilai seni suara sebagai pertimbangannya. Merka menganjurkan peserta untuk lebih intensif mengadakan latihan-latihan seni suara, teknik nafas,vibrasi dan menyanyikan lagu menurut nada dan gayanya. Kepada newcomers juri menyatakan harapannya banyak yang mempunyai bakat menyanyi namun kurang teknik yang bisa memupuk bakat itu. Final Bintang radio 1953 menurut artikel itu diadakan di Gedung Kesenian Jakarta.

Irvan Sjafari

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Generasi ‘Selfie’: Bisakah Diandalkan? …

Fandi Sido | | 17 April 2014 | 11:02

Final BWF World Junior Championship 2014, …

Sahroha Lumbanraja | | 17 April 2014 | 22:38

Di Saat Tidak Ada Lagi yang Peduli dengan …

Thomson Cyrus | | 17 April 2014 | 17:39

Jalur Linggarjati Gunung Ciremai Nan Aduhai …

Agung Sw | | 18 April 2014 | 01:24

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Manuver Amien Rais Menjegal Jokowi? …

Pecel Tempe | 7 jam lalu

Jokowi di Demo di ITB, Wajarkah? …

Gunawan | 16 jam lalu

Pernyataan Pedas Jokowi Selama Nyapres …

Mustafa Kamal | 16 jam lalu

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 17 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 17 April 2014 06:59

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: