Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Ama Kaka

Mundur dari hiruk-pikuk Kompasiana untuk menenangkan diri.

Menunggu Album Baru Nike Ardilla

REP | 16 May 2013 | 09:33 Dibaca: 1508   Komentar: 9   0

13686717821156987477

Nike Astrina/Ardilla (foto Jekamania).

Pernah dengan penyanyi bernama Nike Astrina? Pasti jarang yang dengar. Kalau Nike Ardilla? Nah, orang-orang lama hampir pasti pernah mendengar. Bahkan, pernah bersenandung lagu-lagunya seperti Bintang Kehidupan atau Seberkas Sinar. Artis Nike Ardilla tak pernah lepas dari Deddy Dores, komposer sekaligus penata musiknya.

Nike yang lahir di Bandung, 27 Desember 1975, meninggal dunia di kota asalnya pada 19 Maret 1995 pada umur 19 tahun. Saat itu mobil Honda Civic yang dikendarainya menghantam beton di Jalan RE Martadinata Bandung. Meski karier keartisannya sangat pendek, Nike punya penggemar yang sangat banyak. Bahkan, saat ini Nike Ardilla Fans Club (NAFC) masih eksis. Mereka sering berziarah ke makam artis idolanya itu.

Lantas, mengapa nama Nike Astrina belakangan ini sering muncul di internet?

“Saya berencana merilis album Nike yang tidak pernah dirilis sebelumnya. Proses produksi sudah dilakukan, tinggal menunggu timing yang tepat saja,” kata Leonard Kristianto, produser sekaligus arranger JK Records, Jakarta.

Alkisah, pada 1980-an Denny Sabri (almarhum), pencari bakat artis baru, membawa gadis remaja bernama Nike Ratnadilla kepada Judhi Kristianto, ayah Leonard, yang saat itu produser dan pemilik JK Records. Maklum, saat itu JK Records sangat sukses memproduksi album artis-artis pop manis seperti Dian Piesesha, Meriam Bellina, Ria Angelina, Lydia Natalia, Chintami Atmanegara, Annie Ibon, dan sebagainya.

Judhi Kristianto pun tertarik untuk mengoribitkan Nike yang saat itu berusia 12 tahun. Nah, Nike kemudian diganti namanya oleh Judhi menjadi Nike Astrina. Sengaja dibuat mirip Nicky Astria yang ketika itu berjaya sebagai penyanyi rock wanita di tanah air.

“Jadi, kami di JK Records mengenal Nike sebagai Nike Astrina,” tutur Leonard kepada saya di Hotel Santika, Pandegiling, Surabaya, belum lama ini.

Sempat ikut tur bersama artis-artis JK, Nike kemudian masuk studio rekaman. Gitaris band D’LLoyd, Bartje Van Houten, yang menangani aransemen musik Nike. Album Nike pun tuntas. “Tapi belum sempat diedarkan karena usianya terlalu muda. Lagi pula, Papa (Judhi Kristianto) masih menunggu momentum yang tepat. Sebab, gaya musik Nike Astrina berbeda dengan kebanyakan artis-artis JK,” kata Leonard.

Tak tahan menunggu terlalu lama, Nike pindah ke label yang lain. Setelah membuat dua album dengan nama Nike Astrina, Nike kemudian mengganti namanya menjadi Nike AR (singkatan Astrina dan Ratnadilla). Tapi nama ini pun kurang hoki. Pada 1990-an dia merilis album pertama Seberkas Sinar dengan nama Nike Ardilla. Nama yang bertahan dan dikenal penggemar musik pop hingga kini.

Apa boleh buat, album yang sudah diproduksi di JK Records dengan nama Nike Astrina, judulnya Hanya Kamu, tak pernah beredar di pasar. Belakangan muncul desakan dari fans Nike Ardilla agar album super perdana itu segera dirilis. Leonard tak langsung setuju. Sebab, dia melihat kondisi musik tanah air tidak lagi seperti era kaset dulu.

Di era digital dan internet ini pembajakan merajalela. Orang bisa dengan mudah mengunduh lagu-lagu di internet. Ini pula yang membuat sebagian besar perusahaan rekaman di Indonesia senen-kemis, bahkan bangkrut.

“Tapi fans Nike terus saja mendesak agar kami segera merilis album yang masternya di papa saya (Judhi Kristianto),” tutur Leonard yang biasa disapa Bang Nyo.

Pikir punya pikir, Leonard pun mengiayak. Syaratnya, para penggemar Nike yang tergabung dalam NAFC harus melakukan pre order minimal 3.000 CD. Bila perlu 6.000 CD. Mana ada produser yang mau rugi, bukan?

Leonard juga mensyaratkan satu orang hanya boleh mengorder satu CD. Nama-nama pemesan itu akan menjadi database bagi JK Records sekaligus NAFC. “Soalnya, sampai sekarang kita tidak punya database penggemar artis.”

Apakah sudah tercapai kuota minimal itu?

“Masih dalam proses. Sudah mulai mendekati, tapi belum terpenuhi. Tapi saya yakin dalam beberapa minggu ke depan sudah bisa tercapai,” kata Leonard. “Itu juga tergantung NAFC.”

Nah, di saat NAFC masih sibuk mencari para calon pembeli CD Nike Astrina, Leonard dan manajemen JK Records menemui keluarga mendiang Nike di Bandung. Menyampaikan rencana merilis album Nike yang ngendon di dapur JK selama hampir 30 tahun.

“Keluarga Nike menyambut baik. Bahkan, mereka ingin agar hasil dari album itu bisa dipakai untuk membantu yayasan sosial yang dibentuk oleh almarhumah Nike di Bandung,” kata pria yang menempuh pendidikan musik di Amerika Serikat ini.

Yah… kita tunggu saja!

Bikin album di masa sekarang sangat mudah, studio banyak, pemusik berjibun, tapi siapa yang bakal membeli? Produser mana yang mau rugi ratusan juta?

MORE INFORMATION:

http://www.facebook.com/JK4NikeArdilla

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Peternakan Nyamuk di Loka Litbang …

Nurlaila Yusuf | | 18 December 2014 | 14:47

Bunga KPR Turun, Saatnya Beli Rumah? …

Rizky Febriana | | 18 December 2014 | 11:44

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 9 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 11 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: