Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Ken Hirai

Bukan writer, bukan trainer juga bukan public speaker, hanya seorang petualang yang sedang mencari jalan selengkapnya

Fatin dan Fatinistic Memilih Setia Bagaimana Dengan Simpatisan PKS?

OPINI | 18 May 2013 | 15:16 Dibaca: 1334   Komentar: 21   5

FATIN

Ajang pencarian bakat X Factor Indonesia (XFI) hampir memasuki babak akhir. Kini tinggal tersisa 2 finalis dari 100 ribu lebih yang mendaftarkan diri di ajang kompetisi menyanyi ini. Meskipun baru pertama kali diluncurkan di Indonesia, tapi respon masyarakat sangat luar biasa yang ditunjukkan oleh tingginya rating acara XFI ini. Dan diantara semua peserta XFI ada seorang yang sangat fenomenal dan mampu menyedot perhatian masyarakat Indonesia karena memiliki suara yang unik, imut, lucu dan kesederhanaannya ketika tampil di audisi XFI. Ya, dialah “Si Anak Sekolah” Fatin Shidqia Lubis (FSL).

Lagu Grenade milik Bruno Mars dibuatnya lebih bernyawa dan seakan-akan menjadi lagu miliknya. Video Fatin yang berdedar di Youtube saat tampil di audisi dengan seragam SMA nya pun mampu menembus angka 2 juta lebih. Bahkan seorang Fatinistic rela meluangkan waktunya untuk mengupload video Fatin “Grenade” tersebut ke website resmiĀ  Bruno Mars. Ditampilkannya video Fatin yang sangat fenomenal tersebut untuk mengisi halaman utama website Bruno Mars pun banyak mendapat tangggapn positif dari fans Bruno Mars. Dalam waktu singkat popularitas Fatin mampu mengalahkan para artis ternama Indonesia yang hampir setiap hari menghiasi layar kaca.

Fatin yang tampil jujur, imut, lucu, sederhana dan apa adanya mampu membuat banyak orang jatuh cinta dan rela menjadi fatinistic.

Ketika Fatin membuat kesalahan karena lupa lirik saat membawakan lagunya Lenka “Everything At Once” tentu membuat kecewa Fatinistic. Tapi permohonan maaf Fatin dan bulir-bulir air matanya menunjukkan penyesalan yang mendalam karena telah mengecewakan Fatinistic. Fatin telah menunjukkan sisi manusiawinya, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Selalu ada kelebihan dan kelemahan layaknya siang dan malam yang silih berganti. Salah adalah manusiawi, akan tetapi berani meminta maaf atas kesalahan adalah sifat yang terpuji dan menunjukkan kerendahan hati.

Permohonan maaf Fatin yang menunjukkan kerendahan hatinya dan janjinya untuk tampil lebih baik lagi membuat Fatinistic lebih memilih setia. Dan kesetiaan Fatinistic pun telah menghantarkan Fatin menjadi salah satu finalis XFI mendampingi Novita Dewi.

PKS

Fenomena munculnya Fatin diajang XFI pun mengingatkan saya pada fenomena munculnya Partai Keadilan di jagad perpolitikan Indonesia. Saya masih ingat betul, ketika partai ini masih bernama PK, para politisinya tampil jujur, sederhana dan apa adanya. Saat masih bernama PK, ketika politisi dari partai lain berlomba-lomba pamer kemewahan, politisi PK lebih memilih mencontohkan ketegasan dan kesederhanaan. Ketika pejabat dari politisi lain tak ragu dan tak malu-malu menggunakan mobil-mobil mewah untuk mengantarnya bertugas, para pejabat dari PK lebih memilih menggunakan mobil paling sederhana atau kendaraan rakyat seperti ojek dan mikrolet.

Keberanian, ketegasan, kejujuran dan kesederhanaan para politisi PK mampu membuat orang simpati dan jatuh cinta pada PK. Banyak orang yang rela menjadi simpatisan PK, karena melihat ada secercah harapan yang ditunjukkan oleh para politisi PK.

Para politisi PK yang tampil jujur, tegas, berani, sederhana dan tampil apa adanya mampu membuat banyak orang menjatuhkan pilihannya untuk memilih partai ini di Pemilu 2004. Hasilnya, PK yang kemudian berganti nama menjadi PKS mampu meraih lonjakan suara hingga lebih dari 600%.

Kini kenangan tentang politisi PK yang selalu tampil sederhana dan apa adanya telah hilang dimakan waktu. Kemewahan dan hedonisme sepertinya bukan barang asing lagi bagi para politisi PKS. Lihatlah gaya hidup para pimpinan PKS. Mobil mewah siap mengantarkan kemana pun. Rumah-rumah mewah siap memberikan pengayoman disaat tidur lelap. Pakaian bermerk terkenal, aksesoris yang melekat ditubuh pun harganya bisa mencapai puluhan juta.

Jika Fatinistic lebih memilih setia untuk tetap mendukung Fatin yang tampil sederhana dan rendah hati, lantas bagaimana dengan simpatisan PKS ketika melihat adanya perubahan mendasar ditubuh PKS yang kini lebih menonjolkan sisi kemewahan dan hedonisme?

Diakhir tulisan ini saya ingin mengutip kembali nasehat Rossa yang disampaikannya kepada Fatin agar selalu ingat pada dukungan Fatinistic yang telah menjadikan Fatin sebagai calon bintang baru di Indonesia. Tanpa kesetiaan Fatinistic, Fatin bukanlah siapa-siapa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasien BPJS yang Kartunya Tidak Aktif Mulai …

Posma Siahaan | | 21 December 2014 | 06:53

Hollywood Kena Batunya, AS Panik! …

Daniel H.t. | | 21 December 2014 | 10:27

Inilah 5 Strategi Penting Menurunkan Tekanan …

Irsyal Rusad | | 21 December 2014 | 09:22

Tukeran Hadiah, Wichteln …

Gaganawati | | 21 December 2014 | 05:29

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 7 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 8 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: