Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Nina

Masih belajar memaknai kata Sabar dan Syukur. Tetap semangat !!!!

Grand Final XFI: Pertarungan antara Ibu Vs Anak Remaja

OPINI | 18 May 2013 | 01:17 Dibaca: 1449   Komentar: 52   4

Road to Grand Final XFI telah berakhir. Panggung XFI telah ditutup oleh Host XFI, Robbi Purba dengan kalimat penutupnya ’sampai jumpa minggu depan’. Dua besar Grand Final itu bernama Fatin Shidqia Lubis dan Novita Dewi Marpaung. Secara kebetulan, tiga orang yang akan menguasai panggung XFI minggu depan berasal dari salah satu suku di Indonesia, yaitu dua finalis dan Sang Host. Lolosnya kedua kontestan tersebut menuju Grand Final tentu tidak mengejutkan siapapun yang secara sengaja atau tidak sengaja mengikuti ajang kompetisi pencarian bakat ini sejak awal. Kedua finalis memiliki faktor x yang sama-sama luar biasa. Namun ada satu faktor x, yaitu faktor ‘x=u’ yang tidak berimbang jika dibandingkan dan disandingkan.

Finalis Fatin Shidqia Lubis berusia 17 tahun saat ini. Gadis kelahiran tahun 1996 ini merupakan murid kelas 11 SMU ketika ikut audisi bulan Desember tahun lalu. Gala demi Gala dilaluinya dengan baik hingga akhirnya sampai pada puncak gala. Audisi XFI merupakan uji nyali pertamanya dalam ajang pencarian bakat bernyanyi. Pengalaman kursus olah vokal secara formal tidak pernah dilaluinya. Kebutusannya untuk coba-coba ikutan audisi hanya didasarkan pada hobby dalam bernyanyi sejak usia belia. Fatin tidak mewarisi bakat dari orang tuanya dalam ber olah vokal. Saat itu Fatin bisa dikategorikan seorang yang ‘Amateur’ dalam bernyanyi.

Kontestan Novita Dewi Marpaung lahir pada tahun 1979. Saat ini ber usia 34 tahun. Bagi Novita, musik dan bernyanyi adalah darah dagingnya. Bapaknya merupakan penyanyi besar di masanya. Kompetisi bernyanyi bukanlah hal yang asing lagi baginya. Jam terbangnya dalam berolah vokal tidak diragukan lagi. Tingkatan Kompetisi  dan Festival nyanyi yang diikutinya termasuk bertaraf ‘Internasional’. Jika Anggun berkomentar bahwa rasa grogi tetap diperlukan sebelum tampil nyanyi, maka bagi Novita rasa grogi tersebut tidak ada lagi untuk ikutan audisi yang hanya berskala ‘Nasional’ ini. Penyanyi adalah profesi nya. Sehingga sah sah saja kalau Novita ini berkategori penyanyi ‘profesional’ sebelum ikut audisi XFI.

Menarik memperbincangkan faktor ‘usia’ ini. Usia Novita saat ini adalah dua kali lipat dari usia Fatin, alias 17 + 17 = 34. Mayoritas perempuan asli Indonesia telah berkeluarga dan menjadi Ibu di usia 34 tahun tersebut. Jika rata-rata lulusan sarjana S1 adalah 22 tahun, maka Novita telah 12 tahun yang lalu lulus dari Sekolah Tinggi. Seseorang yang menekuni profesinya selama 12 tahun kerja kantoran, tentu saat ini  telah menduduki posisi dan jabatan di level ‘middle-management’. Jika seseorang berwiraswasta atau berkarier apapun selama 12 tahun, maka pengalaman kerjanya juga sangat berjibun.

Bagi pembaca yang telah melewati usia 17 tahun, tentu sangat mudah membayangkan bagaimana seorang anak muda ketika berusia belasan. Masa SMA adalah masa yang  paling indah, itu benar adanya. Fase tersebut adalah fase ketika kita merasakan hidup ini selalu indah. Masa depan bagi sweet seventeen ini adalah berkata kunci ‘bersenang-senang’. Tiap week-end diisi dengan good time dan jalan-jalan. Tidak perduli apakah dikantong ada uang atau tidak, yang penting nikmati dan senang. Pengalaman hidup tentu saja minim. Segala sesuatunya masih menjadi tanggungan orang tuanya.

Grand Final nanti akan mepertemukankontestan ber usia 17 tahun melawan kontestan dengan usia 34 tahun. Dari pengalaman hidup, pengalaman kerja, dan pengalaman apapun, tentu usia 17 tahun ini kalah jauh dibandingkan dengan usia 34. Grand final antara Fatin yang berlabel ‘amatir’ melawan Novita Dewi yang bergenre ‘profesional’.  Sangat sulit mencari perbandingan dalam suatu ajang kompetisi dalam bidang apapun dengan perbedaan usia dan hubungan antara ‘pro’ vs ‘amateur’ ini.

Salah satu kompetisi sepak bola jika berdasarkan faktor ‘u’ ini sangatlah ketat. Kelebihan 1 hari saja dari batas usia yang ditentukan bisa didiskualifikasi dan tidak boleh ikut berlaga. Dalam dunia tinju, sesorang yang berminat dan berada pada barisan ‘tinju amatir’, hanya diperbolehkan untuk bertanding dengan sesama petinju amatir. Seorang petinju ‘profesional’ juga hanya bertinju di genre ‘pro’ tersebut. Di dunia fotografi juga berlaku sebutan ‘pro’ dan ‘amatir’ ini. Seorang Darwis Triadi yang Maestro Fotografer Indonesia tentu tidak akan ikutan daftar lomba foto yang hanya melawan fotografer amatiran. Sang Maestro itu malah lebih pantas menjadi juri dan guru bagi fotografer pemula yang ikutan berlaga dilomba tersebut.

Bagaimanakah jika seorang ‘amatir’ melawan ‘professional’ di ajang kompetisi pencarian bakat seperti XFI ini? Apakah sah bin jamak bin biasa-biasa saja? Jawabannya tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Seorang ‘profesional’ dengan jam terbang jutaan kali, lalu memenangkan suatu kompetisi, adalah hal yang biasa dan wajar. Tidak mengejutkan sama sekali. Seorang ‘profesional’ mengalahkan ‘amatiran’ itu lumrah dan sudah menjadi hukum alam. Namun jika seorang ‘amatir’ yang menjadi Kuda Hitam lalu menjadi juara mengalahkan yang ‘profesional’ apakah tidak sah bin jamak? Jawabanya sah sah saja juga, namun dengan tambahan sah dan luar biasa. Pembaca tentu ingat dengan Negara Kamerun seperti menjadi ‘Juara Dunia’ mencapai perempat final di tahun 1990-an. Kemenangan Kuda Hitam tersebut telah mengejutkan rakyat sedunia dan mampu mematahkan teori-teori apapun di dunia persepakbolaan planet bumi. Jika seorang ‘amatir’ mampu mengalahkan ‘pro’, maka perlu dipertanyakan lebih lanjut  bagaimana kualitas sang ‘pro’ tersebut di bidang yang ditekuninya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 5 jam lalu

“Tamatan Malaysia” Rata-rata Sakit Jiwa …

Pietro Netti | 6 jam lalu

“Operasi Intelejen” Berhasil …

Opa Jappy | 6 jam lalu

Golkar Perlu Belajar ke PKS …

Puspita Sari | 6 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Harus Aku? …

Siti Avidatu Chusna... | 8 jam lalu

Riedl: Kekalahan Dari Filipina Buah Dari …

Hery | 8 jam lalu

Hati-hati memilih Baby Sitter …

Wahab Naira Sairun | 8 jam lalu

London yang Ramah dan Hiruk Pikuk …

Pretty Backpacker | 8 jam lalu

Teman Penjara …

Vina Tjandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: