Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Imi Suryaputera™

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit)

Lagu Anak-anak dan Tukang Odong-odong

REP | 21 May 2013 | 15:58 Dibaca: 508   Komentar: 5   3

Gelang sipatu gelang, gelang, gelang…..
Gelang siramai-ramai…..
Mari pulang, marilah pulang……
Marilah pulang beramai-ramai…….

Usai lagu tersebut, odong-odong berhenti, menurunkan anak-anak yang menjadi penumpangnya. Anak-anak lain yang sedang tadi sudah menunggu antusias bersama para orangtuanya, berganti dinaikkan sebagai penumpang baru odong-odong.

Pemilik odong-odong pun memutar lagu baru lainnya. Begitu seterusnya; ganti penumpang, ganti lagu anak-anak yang diputar, antara lain; Lihat Kebunku, Ambilkan Bulan Bu, Balonku Ada 5, Naik-naik ke Puncak Gunung, Bintang Kecil, dan sejumlah lagu anak-anak lainnya yang memang dipersiapkan untuk mengiringi jalan odong-odong.

Tukang Odong-odong Pelestari Lagu Anak-anak.

Beberapa lokasi dimana tukang odong-odong mangkal, yang terdengar diputar adalah lagu anak-anak yang tidak saja akrab di telinga mereka, tapi juga di telinga para orangtua. Memang yang diputar itu lagu anak-anak jaman dulu, bukan lagu anak-anak yang dibawakan oleh para penyanyi cilik yang kini sudah jadi orangtua.

Di tengah gencarnya industri musik di negeri ini, lagu yang bertema dan sesuai dengan konsumsi anak-anak semakin dilupakan. Jangankan untuk menciptakan lagu-lagu baru, bahkan untuk mencari kaset, CD dan sejenisnya yang memuat lagu anak-anak; sudah tergolong sulit.

Para anak sekarang lebih banyak mengenal dan menyanyikan lagu-lagu para orang dewasa. Mereka lebih suka menyanyikan lagu “Bang Toyib” yang lama tak pulang-pulang itu. Bahkan tak sedikit para anak yang menyanyikan lagu bertema cinta dengan ekspresi tak bersalah khas anak-anak.

Diantara sekian ajang pencarian bakat di bidang musik, tampaknya belum ada yang benar-benar khusus dan serius memperlombakan menyanyi lagu anak-anak yang memang sesuai dengan konsumsi mereka.

Kita patut mengapresiasi yang dilakukan oleh para tukang odong-odong, yang mungkin tanpa sengaja ikut melestarikan keberadaan lagu anak-anak agar terus diingat sepanjang masa. Bisa saja para tukang odong-odong itu tidak memutar lagu anak-anak; memutar lagu-lagu yang sekarang sedang hit, misalnya lagu-lagu yang dibawakan oleh si pengamen cilik, Tegar.

Selain yang dilakukan oleh Sekolah TK, palygroup dan sejenisnya, tukang odong-odong ikut andil melestarikan keberadaan lagu anak-anak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penjelajah Kuburan, Mencintai Indonesia …

Olive Bendon | | 23 October 2014 | 03:53

Batik Tanpa Pakem …

Agung Han | | 23 October 2014 | 07:31

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Putri Presiden Jokowi Ikut Tes CPNS, Salah …

Djarwopapua | | 23 October 2014 | 14:08

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Presiden, Kok Sederhana Banget, Sih! …

Fitri Restiana | 4 jam lalu

Acara Soimah Menelan Korban …

Dean Ridone | 10 jam lalu

Dua Cewek Kakak-Adik Pengidap HIV/AIDS di …

Syaiful W. Harahap | 10 jam lalu

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 12 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gesture …

Pm Susbandono | 7 jam lalu

Cerpen Hensa : Reuni Bersama Intan …

Hendro | 7 jam lalu

Yogyakarta, Mengapa Panas? …

Sayid Jumianto | 7 jam lalu

Geng ( Group Endel Nantang Gue ) …

Nurin Nazlah Maulid... | 7 jam lalu

(38) Skedul Kurikulum [2], Penerapan Sistem …

Tommy Junus Sarwan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: