Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Zuragan Qripix™

Setiap ketikan yg dibuat kelak menjadi prasasti saat kita wafat.. So, tuliskan hal2 yg baik selengkapnya

Jika Fatin Melepas Jilbab

OPINI | 22 May 2013 | 18:48 Dibaca: 2812   Komentar: 38   3

13692231421777341435

Fatin sang fenomenal

Saya bukanlah penggemar tayangan X-Factor. Jujur nih, saya malah lebih menyukai The Voice Indonesia yang tayang di Indosiar tiap minggu jam 20.00 WIB. Namun pemberitaan terus menerus oleh media –khususnya socmed- mengenai Fatin membuat saya jadi ‘tau sedikit’ acara tadi. Opini nyeleneh, tanpa Fatin mungkin X-Factor kurang ngejreng. :D

Jumat 24 Mei nanti adalah penentuan akhir siapa gerangan juara dalam kompetisi menyanyi tersebut. Saya sendiri tidak mempermasalahkan Fatin atau Novita Dewi yang bakal menjadi pemenangnya. Toh kalau pun misalnya Fatin kalah, sejatinya dia dengan penampilan polos, lugu nan imut itu SUDAH memenangi banyak hati pemirsa yang mengikuti tontonan ini sejak awal.

Oke! Saya tertarik membahas issue SARA yang kerap dilontarkan di berbagai socmed termasuk Kompasiana. Sebenarnya hal basi, tetapi entah mengapa tetap laku dihembuskan, mungkin maksud si pelaku untuk menjatuhkan citra lawan idolanya.

Ada yang bilang kalau seandainya Fatin tak berjilbab, belum tentu dia akan se-fenomenal sekarang. Apalagi kalau dia sampai melepas jilbabnya. Ah, betulkah begitu?

Jika mau fair mengakui, suara Fatin yang masih belia ini sangat khas dan berkarakter. Ibaratnya kita sudah tau siapa yang sedang bernyanyi walau tak melihat wujudnya. Padahal dulu dia belum pernah ikutan les vokal, panggungnya sekelas kamar mandi, dan hobby nya juga hanya nge-band bersama teman-teman sebayanya.

So, meski tak memakai jilbab sekalipun kualitas dia terbukti dan teruji karena hakekatnya jilbab adalah IDENTITAS. Musik tetap musik, ia tidak mengenal apa dan bagaimana latar seseorang.

Sebagai pengamat amatir, saya berani menilai bahwa Fatin sukses begini karena memang TAKDIR-Nya demikian. Barangkali 1;1000 bisa bernasib sama seperti Fatin. Coba saja bandingkan dengan sebagian orang yang mati-matian melakukan berbagai upaya –bahkan menghalalkan segala cara- demi meraih SETITIK popularitas pada akhirnya kandas.

Kesimpulan, hilangkan budaya iri dan dengki atas kelebihan seseorang. Jangan malu untuk belajar menata diri agar lebih baik, minimal bermanfaat pada lingkungan sekitar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Anthony Agustiawan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: