Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Bai Ruindra

Saya seorang yang senang mendengar musik dan memainkan kata-kata hingga jadi tulisan berharga! –> Bai selengkapnya

Fatin; Menciptakan Standar Tinggi Ajang Pencarian Bakat

OPINI | 30 May 2013 | 20:25 Dibaca: 5444   Komentar: 77   31

Tidak bisa dipungkiri, Fenomena Fatin memang sangat fenomenal. Akhirnya, saya yang sangat “malas” menulis tentang isu entertaiment terpicut juga karena gadis bersuara khas ini. Bukan karena dipaksa oleh siapapun, bukan juga karena sangat ikut-ikutan orang lain. Saya hanya menulis apa yang saya rasa dan apa yang menjadi sesuatu yang luar biasa sampai kini.

Sosok Fatin yang dibalut jilbab putih, sweater, dan rok abu-abu lalu menyanyingkan Grenade dari Bruno Mars kian di rindu setelah tayangan X Factor Indonesia berakhir. Gadis imut ini mungkin tidak akan menarik perhatian begitu audisi, jika orang lain datang ke tempat audisi dengan berbagai style yang megah Fatin hanya tampil apa adanya. Memperlihatkan kesederhanaan dan kemampuan penyanyi kamar mandi. “Ingin belajar vokal,” begitu katanya. Dan ternyata bukan Cuma vokal yang semakin memukau dengan teknik menyanyi luar biasa yang didapat tapi fans yang disebut Fatinistic. Penampilan sederhana telah membuat jutaan mata memandang padanya. Hanya karena karakter vokal yang kuat, bukan teknik yang siapa saja bisa mempelajarinya. Karakter vokal itulah identitas, layaknya nama, golongan darah, tinggi badan, berat badan, sampai sidik jari – itulah dia. Sedangkan teknik menyanyi bisa didapat dengan mudah bagi siapa saja yang mau belajar dan belajar. Karakter vokal? Tidak demikian, karakter itu tidak akan bisa dipelajari karena dia lahir dari seseorang semenjak dia ada di dunia.

Setelah Fatin menyanyi lagu dengan gayanya sendiri tanpa mengharapkan apa-apa di babak audisi ternyata telah membuatnya sampai juara. Sudah banyak yang menulis tentang Fatin di dunia maya, ada yang mengkritik habis-habisan, ada yang menyanjung setinggi langit, bahkan ada yang menulis tentang Fatin apa adanya dia.

Termasuk saya, tidak hanya menulis tentang fenomena Fatin yang sudah juara. Saya melihat hadirnya Fatin seperti sebuah bom yang meledak dan siap memangsa semua penghuni jagad raya. Fatin membawa sebuah tingkatan yang lebih pada ajang pencarian bakat yang sudah pernah ada di Indonesia. Datang dengan lugu dan malu-malu tapi mampu menghipnotis hampir seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Inilah yang dinamakan menilai orang tidak hanya dari penampilan saja. Karena penampian sangat menipu, Fatin sudah menipu ribuan mata karena auranya yang luar biasa. Dia berjilbab, sudah tentu membawa dampak tidak main-main untuk dunia fashion Indonesia, berbondong-bondong orang akan mengikuti gaya berhijab Fatin. Suaranya berkarakter, dan inilah nilai jual yang sangat tinggi. Jika penyanyi lain pontang-panting jual sensasi dengan goyangan tubuh molek atau menampakkan paha seksi, Fatin tidak perlu itu untuk menarik pendengar. Cukup menyanyi saja dan itu sudah berhasil!

Lalu, alasan yang kuat adalah saat Fatin hadir seakan ajang pencarian bakat lainnya tenggalam entah ke dunia antah berantah. Secara tidak langsung Fatin sudah menciptakan standar yang sangat tinggi untuk sebuah ajang pencarian bakat. Fatin yang diolok-olok lupa lirik, tidak bisa menyanyi dengan bagus, tidak punya teknik, sudah menjadi acuan orang yang ingin ikut kontes yang sama di tahun-tahun mendatang. Karena teknik yang “luar biasa” istimewa tidak akan mampu menghipnotis pendengar untuk terus mendengar lagu dia tanpa adanya karakter kuat.

Fatin tidak bersalah dalam hal lupa lirik. Tidak juga bisa disalahkan karena teknik belum matang. Dia datang bukan karena sudah terlampau sering tampil menyanyi di café-café atau acara hebat lain. Dia hanya tahu dirinya bisa menyanyi. Itu saja modalnya. Begitu sampai di acara besar seperti X Factor yang ditayangkan di seluruh Indonesia dan bisa di streaming di luar negeri, Fatin langsung menanggung beban tidak kecil. Ujung-ujungnya Fatin tidak ingin mengecewakan penggemar yang sudah terlanjur mencintainya. Mental anak SMA ini teruji habis-habisan, dan jika peserta lain tidak perlu belajar dari NOL maka Fatin harus berjuang lebih keras. Belajar mulai dari awal. Rossa sangat berperan penting, bisa dilihat perkembangan Fatin dari hari ke hari kian meningkat. Lagu-lagu yang dinyanyikannya – jika di awal banyak yang tidak tahu – kembali booming dan disukai. Bahkan lebih disukai versi Fatin. Luar biasa!

Sekarang kita bandingkan beberapa acara pencarian bakat yang pernah ada di Indonesia, mulai dari Akademi Fantasi Indosiar, Kontes Dangdut Indonesia, Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat dan The Voice Indonesia. Kelima acara ini siapa yang tidak tahu? Standarnya mereka mencari kontestan dengan teknik menyanyi bagus, bisa menghafal lagu barat dan Indonesia. Bagaimana dengan karakter vocal? Selama saya tahu, tidak ada yang memiliki karakter vocal sekuat Fatin. Semuanya hampir sama, bagus dari segi teknik menyanyi saja tetapi karakter biasa-biasa saja.

Terbukti, berapa banyak alumni dari ajang pencarian bakat itu menjadi penyanyi besar. Hanya beberapa. Dan itu pun tidak cukup menjadi luar biasa, tidak mendapat penghargaan bergensi, tidak sering tampil di TV dan hanya berwara-wiri di TV penyelenggara saja. Yang lebih mencengangkan, belum sampai seminggu Fatin sudah ada di Hitam Putih Trans 7, lalu di 100 % Ampuh Global TV, terus ke mana lagi?

Inilah yang dinamakan fenomena, Fatin bisa diterima di mana saja. Jika kontestan lain hanya tampil di TV penyelenggara saja, Fatin bisa membuktikan bahwa dia tidak hanya “dipakai” oleh TV penyelenggara saja tetapi sudah di antre oleh TV lain untuk menayangkan ini.

Pengaruh media memang sangat besar sekali. Jika alasan dulu belum punya internet, ini bukan jadi takaran untuk menilai. Toh, orang menilai dari tayangan di TV. Tidak menjadi fenomena karena standarnya itu-itu saja, semua sama, tidak bisa dibedakan, cuma modal teknik mumpuni tetapi karakter dan aura tidak membius. Pada masa Nikke Ardila juga tidak belum punya internet kan? Tetapi auranya tetap mempesona, begitulah Fatin!

Belum lagi jika melihat dari hasil penjualan lagu “Aku Memilih Setia” di iTunes Indonesia. Respon masyarakat sangat besar sekali, karena lagu yang bagus dinyanyikan oleh penyanyi berkarakter tentu enak didengar. Semenjak dijual di iTunes belum pernah lagu ini keluar dari #3besar, bahkan hampir selalu duduk di angka #1. Selain iTunes, ternyata Sony Music Indonesia juga membidik, Nada Sambung Pribadi, dan tidak main-main hampir semua operator menempatkan lagu ini berada di tangga puncak.

Inilah yang dinamakan standar tinggi, semua orang suka walau yang namanya haters itu ada. Yang tidak suka itu bukan karena apa-apa, alasannya karena tidak mampu mencapai setingkat Fatin, akhirnya bisa bersuara di belakang atau pengecut. Jika berani ya tampilkan selayaknya Fatin, jika masyarakat suka berarti yang berkoar-koar sampai bawa golok itu menang, jika masyarakat tidak suka berarti kalah. Dam!

Fatin sudah menjadi ikon X Factor Indonesia, bahkan ajang pencarian bakat lain yang ratingnya terlempar ke dataran rendah. Untuk tahun-tahun ke depan, akan sangat sulit menghadirkan sosok seperti Fatin, apapun akan dibandingkan dengan Fatin. Baik dan tidak baik. Jika masih ingin menjadi tontonan yang menarik dan mendapatkan rating tinggi, ajang pencarian bakat mau tidak mau harus bekerja keras untuk mendapatkan selayaknya Fatin.

Tidak perlu jauh-jauh, The Voice Indonesia terlempar ke jurang yang sangat menakutkan. Padahal acara ini menampilkan kontestan dengan teknik vocal di atas rata-rata. Tapi terasa hambar dan tidak menjadi sesuatu yang menarik. Satu sisi, acara ini memiliki kelemahan karena beriringan dengan X Factor Indonesia yang sudah terlebih dahulu terkenal semenjak Fatin audisi. Hasrat hati ingin menampilkan yang lebih megah ternyata tidak bisa naik-naik mencapai angka yang fantastis, ratingnya semakin turun.

Fatin sudah fenomena, lagunya pun sudah didengar di mana-mana. Gayanya juga diikuti oleh banyak remaja putri berjilbab. Kesederhanaannya menjadikan ikon bahwa penyanyi itu tidak harus glamor. Kita tunggu saja, beberapa bulan ke depan bagaimana perubahan pada Fatin. Dan kita tunggu juga ajang pencarian bakat yang akan digelar beberapa stasiun televisi dalam waktu dekat nanti. Bila tidak mampu menghadirkan sosok sefenomenal dan kontroversi seperti Fatin, siap-siap saja tayangan akan garing, dunia maya akan sepi dan rating turun.

Sekali lagi, selamat Fatin! Selamat juga untuk generasi yang ingin perubahan, dunia keartisan itu tidak selamanya mengumbar aurat, bukan?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 13 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 15 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 17 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 19 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: