Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Fatin; Menciptakan Standar Tinggi Ajang Pencarian Bakat??

OPINI | 31 May 2013 | 13:04 Dibaca: 2758   Komentar: 62   1

ini merupakan judul yang saya tagline dari salah satu trending articles di kompasiana yang menurut saya sangat jauh dari kondisi empiric di keseluruhan kompetisi.
saya juga sebenarnya sedang tidak ingin menulis tentang fenomena fatin serta kecurangan-kecurangan yang telah dilakukan RCTI selaku pihak penyelenggara, namun saya tersontak ketika melihat judul yang sungguh cetar membahana diatas, dan langsung mentelaah dari perspektif mana penulis merangkum tulisan-tulisannya.

Statement pertama, si penulis mengatakan “Penampilan sederhana telah membuat jutaan mata memandang padanya. Hanya karena karakter vokal yang kuat, bukan teknik yang siapa saja bisa mempelajarinya. Karakter vokal itulah identitas, layaknya nama, golongan darah, tinggi badan, berat badan, sampai sidik jari – itulah dia. Sedangkan teknik menyanyi bisa didapat dengan mudah bagi siapa saja yang mau belajar dan belajar. Karakter vokal? Tidak demikian, karakter itu tidak akan bisa dipelajari karena dia lahir dari seseorang semenjak dia ada di dunia”.

Ingat!!!, dalam industry entertainment saat ini, penampilan (style, fashion) bisa dikategorikan sebagai hal yang pentig namun tidak terpenting, itu sebabnya setelah lolos audisi, penampilan Fatin, hmm mungkin jauh dari kesan sederhana lah ya. Kemudian si penulis secara tersirat mencoba membandingkan fatin yang karakter vocalnya kuat dengan Dewi yang menurut penulis hanya memiliki tekhnik vocal yang bisa dipelajari dengan mudahnya. Ini hal konyol lain yang ditunjukkan oleh si penulis dengan membeberkan ketidaktahuannya mengenai music. Saya bisa menjamin bahwa apabila dilakukan penjurian ulang secara terbuka, yang penarikan keputusannya dilakukan secara obyektif dan oleh juri-juri yang memang berkompeten di bidang music, hal memalukan seperti ini tidak akan terulang.

Kemudian statement berikutnya adalah tentang kebimbangan penulis yang pada pernyataan sebelumnya mengatakan bahwa penampilan fatin sederhana kemudian di paragraph berikutnya beliau mengatakan bahwa, fatin menjadi trendsetter dalam gaya busana muslim di Indonesia, apakah bangsa se alay Indonesia mau mengikuti gaya orang yang sederhana?

Tapi saya tidak perlu membahas hal tersebut lebih jauh karena bukan kapasitas saya untuk menilai gaya penyanyi yang bernuansa religi.

Yang hendak saya bahas adalah pernyataan berikut, “Lalu, alasan yang kuat adalah saat Fatin hadir seakan ajang pencarian bakat lainnya tenggalam entah ke dunia antah berantah. Secara tidak langsung Fatin sudah menciptakan standar yang sangat tinggi untuk sebuah ajang pencarian bakat. Fatin yang diolok-olok lupa lirik, tidak bisa menyanyi dengan bagus, tidak punya teknik, sudah menjadi acuan orang yang ingin ikut kontes yang sama di tahun-tahun mendatang. Karena teknik yang “luar biasa” istimewa tidak akan mampu menghipnotis pendengar untuk terus mendengar lagu dia tanpa adanya karakter kuat.”

Si penulis tidak menyadari bahwa yang menjadikan kompetisi itu bergengsi adalah kemampuan RCTI memainkan peran factor x dengan sangat baik dan mempermainkan emosi masyarakat, mungkin tidak semua menyadari hal tersebut tapi saya yakin tidak sedikit pula yang peka dengan trik-trik kecil seperti polling sms yang tidak pernah secara gamblang ditampilkan, jumlah kontestan pada 4 besar diwakili oleh 4 juri, alasan yang absurd dari juri saat memenangkan Bagus vs alex, pada salah satu minggu tiba-tiba diputuskan bahwa tidak ada yang keluar (pulsa yang dikeluarkan setiap smser lari kemana?), kegagalan-kegagalan saat mencoba memvote pada laga final dll. Pasti ada sesuatu dibalik semua kejanggalan-kejanggalan tersebut. Tapi saya cukup memaklumi, trik-trik tersebut karena tujuan utama kompetisi itu diadakan adalah untuk citra RCTI sendiri. Jadi kalau si penulis mengatakan bahwa fatin yang menghipnotis masyarakat Indonesia, menurut saya keliru karena sebenarnya RCTI lah yang menghipnotis kita melalui ajang yang dimenangkan oleh fatin.

Sebenarnya masih sangat banyak pernyataan dari si penulis yang hendak di telaah, tetapi menurut saya sisanya hanya sebagai sampul-sampul penghias yang tidak relevan dengan konteks kemampuan dan tekhnik vocal. Jadi saya hanya membatasi diri pada hal-hal yang sudah tersebut diatas. Akhirnya setelah melalui proses kompetisi yg cukup panjang, Fathin keluar sebagai pemenang/Juara I. tetapi juara II hanya butuh panggung dan media agar semua orang melihatnya. Dan dia telah mendapatkannya di X-Factor, itu cukup sudah. Selebihnya dia akan mengguncang panggung musik Indonesia karena dia melirik tempat yang jauh lebih tinggi dalam permusikan indoneisa dibandingkan sang juara I. #soal musik dan lagu, juara terbaik akan selalu kalah dari juara terfavorit.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41



HIGHLIGHT

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | 9 jam lalu

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | 9 jam lalu

Lagi-lagi Kenaikan BBM …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: