Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Gerry Setiawan

aktivis jaringan epistoholik jakarta (JEJAK)

Kehancuran Black Brothers Akibat Agenda Politik

HL | 17 June 2013 | 06:06 Dibaca: 3370   Komentar: 21   15


1371423686817609794

Personil Black Brothers dari Papua (Foto : hageeowaa.blogspot.com)


Masih akrab di telinga kita lagu-lagu lawas seperti ‘Kisah Seorang Pramuria’ dan ‘Mutiara Hitam’. Hits era 1970-an ini dipopulerkan oleh grup musik Black Brothers dari Tanah Papua. Grup ini didukung sejumlah personil berbakat, yakni Benny Betay (bass), Jochie Phiu (keyboard), Amry Tess (trompet), Stevie MR (drums), Hengky Merantoni (lead guitar), Sandhy Betay (vokal), Marthy Messet (lead vocal), Agus Rumaropen (vokal) dan David (saxophone). Formasi grup ini juga dilengkapi dengan seorang manajer, Andi Ayamiseba untuk memudahkan mereka berkiprah secara profesional.

Kepiawaian Andy Ayamiseba memanej grup musik boleh diancungi jempol. Salah satunya adalah mengubah nama grup musik ini dari sebelumnya bernama Iriantos dan setelah hijrah ke Jakarta tahun 1976 namanya diubah menjadi Black Brother. Kehadiran Black Brothers di ibukota cukup mendapat tempat di hati pecinta musik Indonesia. Banyak produser ternama yang mengikat kontrak dengan grup musik ini.

Namun akibat disusupi agenda politik Papua merdeka Andy Ayamiseba pula, grup ini akhirnya lenyap dari blantika musik nasional kendati sempat tenar di Belanda dan Vanuatu. Inilah sekilas perjalanan Black Brother di penghujung ketenarannya.

Tahun 1978, dibawah bimbingan sang manejer, grup ini melakukan show di Kota asalnya di Jayapura. Usai melakukan show di Kota Jayapura, mereka show ke negara tetangga Papua Nugini. Dan sekitar tahun 1980 mereka meminta suaka politik di Negeri Belanda. http://tabloidjubi.com/2012/08/20/dari-iriantos-hingga-black-brothers/

Tahun 1983 grup ini hijrah ke Vanuatu atas undangan pemerintah Vanuatu yang saat itu dipimpin Presiden Walter Lini dan Barak Sope. Konon, Black Brothers punya peran khusus dalam memberikan dukungan lewat musik untuk mendirikan negara di Pasifik Selatan itu. http://rastamaniapapua.blogspot.com/2011/06/inspirasi-perjuangan-black-brothers.html

Kedekatan Andy dengan Barak Sope membuat Andy ikut marasakan dampak kejatuhan Walter Lini dari kursi kepresidenan tahun 1988 akibat mosi tidak percaya dari rakyat Vanuatu. Ia dideportasi dari negara Vanuatu. Group musik Black Brothers pun tercerai berai. Personilnya ada yang tinggal di Vanuatu dan sebagian lagi tinggal di Australia. Beberapa di antaranya sudah meninggal dunia di negeri orang.

13714238071210740313

Andy Ayamiseba (Foto : Kompasiana )

Namun Andy tak mau bergantung pada Black Brothers yang pernah dibesarkannya. Ia melenggang sendiri demi ambisi politiknya. Ia kembali ke Vanuatu tahun 1990-an setelah namanya dihapus dari daftar imigran terlarang di negeri itu. Ia melakukan beberapa kunjungan ke Vanuatu dengan dokumen perjalanan yang disediakan oleh pemerintah Australia. Kali ini tidak lagi berkaitan dengan urusan musik, tetapi untuk menjalankan agenda politiknya yaitu membujuk pemerintah Vanuatu mendukung gerakan kemerdekaan Papua Barat. Ia mengisi hari-harinya dengan usaha dagang eksport-impor dan terus menjalin hubungan dengan faksi-faksi pendukung Papua merdeka di Vanuatu.

Atas pelanggaran urusan dagang, Andy pernah dideportasi ke negara Kepulauan Solomon oleh pemerintah Vanuatu pada 9 Pebruari 2006. Namun pihak imigrasi Solomon menolak Andy masuk ke negera itu. Andy kembali dimasukan ke dalam pesawat yang kemudian mengantarnya ke Australia, namun Andy ditolak oleh pihak imigrasi Australia yang kemudian mengirimnya kembali ke Vanuatu tanggal 10 Pebruari 2006. http://www.paclii.org/journals/fJSPL/vol10no2/5.shtml

Tahun lalu, tepatnya tanggal 14 Mei 2012 mantan manajer Black Brothers ini ditangkap karena melakukan protes kepada pemerintah Vanuatu tanpa izin yang sah. Andy memprotes kebijakan Pemerintah Vanuatu menjalin kerjasama latihan militer dengan pihak Indonesia. Andy menolak kedatangan pesawat militer Vanuatu yang membawa 100 unit komputer, sebagai bagian dari perjanjian kerja sama yang ditandatangani pemerintah Indonesia dan Vanuatu. Ayamiseba menilai tindakan ini telah mengabaikan dukungan rakyat Vanuatu terhadap hak penentuan nasib sendiri bagi Papua Barat. http://politik.kompasiana.com/2012/05/17/aktivis-anti-indonesia-di-vanuatu-ditahan-463672.html

Andy lahir di kota Biak, 21 April 1947 dari pasangan Dirk Ayamiseba dari Papua dan ibunya Dolfina Tan Ayomi keturunan Tionghoa. Ayahnya, Dirk Ayamiseba pernah menjadi Gubernur pertama di Papua dan Ketua DPRD-GR pertama.

Sayangnya, ideologi Andy tidak sejalan dengan ayahnya yang sangat nasionalis. Andy memilih ikut berjuang bersama para aktivis Papua merdeka untuk melepaskan Papua dari NKRI. Hingga kinipun, upaya Andy itu terus dilanjutkan. Dengan dukungan Barak Sope, Andy semakin intens terlibat bersama faksi-faksi pendukung Papua merdeka di Vanuatu.

Kini Andy bersama lima rekannya sesama pengusung ideologi Papua merdeka telah dipilih mewakili Papua ke Noumea, ibukota negara New Caledonia menghadiri upacara pembukaan The 19th Melanesian Spearhead Group (MSG) Leaders Summit yang akan digelar Rabu, 19 Juni 2013 nanti.

Andy tidak lagi membawa nama Black Brothers tetapi mengusung nama baru yakni West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL). Mengingat forum MSG itu adalah forum ekonomi negara-negara Melanesia, apakah Andy akan memanfaatkan WPNCL untuk memuluskan usaha dagang yang sedang dijalankannya? Hanya Andy Ayamiseba yang tahu, karena dialah yang empunya agenda itu….

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 8 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 8 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 11 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: