Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Bai Ruindra

Saya seorang yang senang mendengar musik dan memainkan kata-kata hingga jadi tulisan berharga! –> Bai selengkapnya

Lagu “Hebat” Versi Fatin

OPINI | 25 June 2013 | 11:50 Dibaca: 3074   Komentar: 59   25

Fatin sudah membuktikan dia bisa menyanyi lagu apa saja, tidak perpaku hanya pada satu genre musik tertentu. Pembuktian ini membuat kita membuka mata, dalam mencari jati diri bagi seorang penyanyi pemula tidaklah mudah. Dalam waktu yang relatif singkat, Fatin bisa belajar berbagai macam lagu. Selain juri ada penonton yang menilai seberapa bagus Fatin melagukan pilihannya. Ada satu orang juri yang hampir tiap waktu mengatakan Fatin salah lagu, barangkali itu kelemahan dia menilai. Juri itu hanya menilai dari sisi dirinya sebagai musisi besar tanpa mempertimbangkan banyak pendengar di luar sana yang akan membeli lagu-lagu yang akan dinyanyikan Fatin.

Pembuktian lain, seorang penyanyi akan sangat membosankan jika terpaku pada satu genre musik saja. Artinya tidak tertantang untuk memperlihatkan dan memperdengarkan keahliannya dalam menyanyikan genre lain. Penyanyi yang terlampau sering menyanyikan lagu mellow dan tidak pernah menyanyikan lagu beat, sebuah tanda si penyanyi tak mampu mengeksplore kemampuannya. Memang ada penyanyi yang mencoba keluar dari ajaran mellow lalu mencoba menghentak-hentakkan panggung dengan dance macam gaya, penilaian yang muncul malah si penyanyi keteteran. Tidak enak dilihat. Hanya dancing pembawa nikmat mata saja.

Pertimbangan ini kemudian diterapkan Rossa untuk Fatin. Mencoba semua lagu yang berbeda genre. Cocok atau tidak Fatin menyanyikan masyarakat yang menilai. Masyarakat tidak bisa ditipu lagi dengan suara palsu yang dihadirkan penyanyi dalam menyanyi. Mana penyanyi yang bagus, mana penyanyi yang menjual sensasi, mana penyanyi yang tidak punya kualitas dengan penyanyi sebenarnya.

Ranah hiburan semakin berkembang. Hampir semua stasiun televisi punya acara musik masing-masing. Ada yang mengandalkan lip sync agar tidak terdengar fals, ada yang benar-benar menuntut penyanyi harus live. Di sinilah pembuktian keprofesionalan seorang penyanyi. Jika keterusan lip sync si penyanyi lambat laun mesti cari lapak lain karena ditinggal penggemar. Mau bernyanyi live takut kedodoran seperti baju mini yang dikenakan.

Dunia hiburan sangat penuh tantangan. Bagi yang tidak betah siap-siap kabur dan cari kerja lain. Semua mata silau melihat dunia satu ini, materi yang ditawarkan tidak main-main. Siapa saja bisa terbawa suasana dan lupa diri, akhirnya menghalalkan segala cara. Untuk yang punya ciri khas rasanya tidak perlu menghalalkan macam cara karena bisnis hiburan akan tetap membutuhkan mereka.

Kembali pada Fatin yang dikaitkan salah lagu oleh seorang musisi besar juri kalem acara ini. Lagu-lagu yang dinyanyikan Fatin tidaklah jelek-jelek amat, bagi pendengar biasa, masyarakat yang akan membeli lagunya nanti, Fatin punya tempat tersendiri dalam menyanyikan lagu. Berusaha menampilkan yang beda iya, tetapi tidak berambisi menampilkan lebih baik dari penyanyi aslinya. Lagu-lagu yang kemudian menjadi sangat booming setelah dinyanyikan Fatin, kerap diputar ulang di radio-radio, tempat-tempat hiburan, di mana-mana. Orang yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, awalnya tidak suka lagu berbahasa inggris jadi terbalik suka mendengar versi Fatin.

Fatin menciptakan fenomenal pada lagunya, tidak mesti mendesah-desah penuh sensasi. Tidak perlu juga mengenakan pakaian seminim mungkin agar perhatian penonton tertuju padanya. Dia hanya perlu menyanyi saja! Ada beberapa lagu yang menurut penulis sangat bagus dinyanyikan Fatin, walau menurut sebagian orang tidak, termasuk salah seorang juri itu!

Diamonds – Rihanna

Fatin menyanyikan lagu milik Rihanna ini pada babak Show Case,babak ini penampilannya tergolong dalam kategori yang mewah. Dan perdana. Babak ini di mana kontestan yang lolos memulai debut mereka di atas panggung “kecil-kecilkan” sebelum masuk ke babak lebih besar. Panggung kecil ini jika didefinisikan untuk ruangan di mana Fatin dan rekan kontestan lain berada, kecil ini menjadi lebih besar lantaran disiarkan langsung ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia melalui live streaming.

Awal debut yang menggelegar! Cemoohan Fatin hanya bagus di Grenade saja hilanglah sudah. Diamonds versi Fatin jauh lebih bagus dibandingkan versi aslinya. Kata sebagian besar penggemar Fatin yang terbentuk sendirinya. Sebenarnya, Fatin menyanyi sesuai kemauan dia, keluar dari nada-nada tinggi Rihanna yang powerfull, bermain di nada rendah karena baru belajar belum sampai sebulan.

Ruh lagu Diamonds sangat-sangat dapat dinyanyikan seorang gadis SMA mantan penyanyi kamar mandi. Tidak ada Rihanna sama sekali. Bagi orang yang baru mendengar lagu ini akan beranggapan bahwa inilah lagu yang diciptakan khusus untuk Fatin.

Tidak berhenti sampai di situ, perbandingkan mulai terjadi. Antara penyanyi profesional Rihanna dengan penyanyi amatiran Fatin. Soul lagu sudah dapat dimakan Fatin sampai kenyang. Begitulah lomba yang sebenarnya. Penampilan pertama di panggung besar bagi penyanyi dasar tidaklah mudah tentunya. Apalagi diiringi oleh musik beneran bukan Cuma karoke, salah ambil nada bisa kacau sampai akhir.

Fatin berhasil. Lagu Diamonds versi dia menggema sampai ke pelosok, banyak radio yang kemudian memutarkan kembali versi aslinya. Tetapi orang yang hanya mendengar versi Fatin langsung mengatakan itu si Fatin!

Masanya telah tiba, pembuktian awal membuat orang suka tidaklah akan berpindah ke lain hati. Jika di Grenade audisi belum ada ruh apa-apa, datar-datar saja dalam menyanyi, kemudian di Diamonds ini sudah mulai berteknik dan ekspresi sudah bermain walau tidak centil layaknya penyanyi sensasi.

Berlian – Diamonds – Fatin sudah berdenting di setiap hulu hati pendengar setia. Sebuah pertanda bahwa berlian itu akan terus berkilau sepanjang masih diasah dan dibungkus dengan baik. Mengasah berlian tidaklah mudah, salah-salah bisa lecek dan pecah. Membungkus berlian juga tidak seperti membuat empek-empek, salah-salah dalam membungkus bisa berserakan dan diambil orang tak bertanggung jawab. Berlian Fatin tetap diprioritas utama oleh mereka yang mengerti bisnis hiburan semakin hari semakin kejam. Berlian itu berharga murah, tetapi mahal sekali.

Bagai Diamonds, sudah berdentang. Duar! Kena!

Enak didengar, sudah cukup tidak perlu macam-macam teriakan!

Perahu Kertas – Maudy Ayunda

Bagi pecinta buku Dee tidak asing lagi dengan Perahu Kertas. Sebuah novel remaja yang luar biasa penggarapannya oleh salah satu penulis perempuan hebat di Indonesia ini. Perahu Kertas juga membuat Dee keluar dari “nyastra” yang diinginkan pembacanya. Jauh dari kata susah, sebuah novel ringan, berbeda dengan novel-novel Dee sebelumnya. Sangat meremaja!

Buku Perahu Kertas bestseller, Dee semakin terkenal dan langsung dipinang Hanung Bramantyo menjadi film dengan judul yang sama. Dalam penggarapannya, Hanung juga melibatkan Dee, selain bermain dalam film juga menciptakan soundtrack, salah satunya adalah judul yang sama dengan buku. Perahu Kertas!

Dari liriknya saja sudah sangat romantas sekali, disukai banyak remaja, diharuskan didengar oleh mereka yang sedang jatuh cinta, mereka yang renggang pertemanan dan mereka-mereka yang ingin kedamaian dalam hirup. Yah, terlalu melankolis! Sebuah analisa pada sebuah karya terkenal tak ada salahnya.

Lagu Perahu Kertas kemudian dinyanyikan oleh Maudy Ayunda – sebagai tokoh Kugi dalam film ini. Maudy yang imut-imut menyanyikan dengan mellow sekali, seringan balon terbang di udara. Bagus iya, itu versi Maudy. Karena belum ada yang cover sebelum Fatin menyanyikan.

Jauh sebelum malam Sabtu, sudah beredar kabar Fatin akan menyanyikan lagu ini. Para penggemar langsung menyerbu video Maudy Ayunda di internet. Mendengar baik-baik sebelum membandingkan dengan penampilan Fatin malam nanti. Fatin lantas berkicau, dia akan menyanyikan lagu dari penyanyi yang masih remaja, imut dan sedang booming. Tidak bisa dipungkiri tujuannya memang Maudy Ayunda!

Tibalah pada malam yang ditunggu. Giliran Fatin ternyata sudah disetting tampil menjelang akhir acara. Mungkin saja pihak penyelenggara sudah membaca dan melihat reaksi penggemar Fatin menunggu lagu ini. Sampai terkantuk-kantuk pun tetap ditunggu penampilan Fatin. Sekali lagi, lagu ini memiliki lirik yang bagus, lantas kenapa ditunggu? Karena Maudy Ayunda bukanlah diva besar Indonesia yang sudah menghasilkan karya laris manis di pasaran.

Menjelang akhir barulah Fatin tampil. Harap-harap cemas menunggu dia bernyanyi. Begitu intro lagu dimulai, Fatin duduk manis dengan balutan baju sempurna, berhimpitan dengan Oni – empunya band pengiring acara ini. Fatin mulai mengatur napas, mengambil nada dan memulai kata demi kata.

Bukan main. Riuh penonton tidak hanya di ruang mewah berlampu gemerlap itu, di rumah-rumah penonton pasti histeris melihat Fatin. Dengan ekspresi yang pas. Lagu yang bermakna. Tempo yang tepat. Gaun yang stylish. Menambah istimewa penampilan malam itu. Untuk suara jangan ditanya lagi, suara khas masih yang itu-itu saja.

Komentar juri pun sangat sempurna sesempurna aksi panggung Fatin. Bahkan Anggun mengajak nonton bersama film Perahu Kertas. Ah, si Fatin sangat memikat. Lagu ini menjadi milik dia, tidak mengesampingkan Maudy Ayunda tetapi versi Fatin jauh lebih berkarakter dibandingkan Maudy. Maudy bagus, di “perahu”nya Maudy. Fatin bagus di “perahu” yang lebih luas dalam mengarungi lautan.

Tak bermaksud menjelekkan Maudy Ayunda, perkataan yang mengatakan bahwa pendengar adalah juri terbaik maka waktu itu tepat sekali. Berselang setengah jam lebih setelah penampilan Fatin, bukan hanya Twitter yang ramai membicarakan Fatin, melainkan Youtube yang error, tidak bisa dibuka lantaran video ini. Khusus untuk video Perahu Kertas versi Fatin. Video kontestan lain adem ayem saja, hanya video ini yang kacau sekacaunya, segitu banyaknya orang ingin melihat kembali penampilan Fatin. Selain itu komentar di Youtube tidak berselang detik berganti banyak sekali. Ada yang positif dan sedikit negatif. Ujung-ujungnya adalah membanding dengan Maudy Ayunda. Negara kita sudah besar berpendapat, selama pendapat itu di jalur yang benar. Pendengar menjadi juri tak dibayar malam itu. Fatin bagus tak ada kata lain.

Keunggulan acara ini selain mengandalkan Youtube, juga berkerjasama dengan iTunes Indonesia untuk menjual lagu-lagu kontestan. Lagu Perahu Kertas versi Fatin berada di puncak kekuasaan alian peringkat #1 bahkan hampir sampai seminggu, menjelang pergelaran acara itu kembali. iTunes sebagai nilai antusias masyarakat terhadap Fatin. Lagu bagus pasti dibeli!

Perahu Kertas Fatin sudah mendayu sampai ke babak selanjutnya. Perahu itu sempat oleng namun tidak bocor. Perahu itu terus melaju menapaki lautan berombak. Tak semudah jalan setapak yang lurus. Kadang berlayar warna emas, kadang warna cerah menyala, kadang buram. Asal layarnya tidak patah Fatin akan terus melaju.

Lagu ini mengantarkan Fatin ke karakter vocal yang sebenarnya, ditambah teknik bernyanyi jadilah lagu yang laku keras. Fatin patut berterima kasih kepada Dee dan Maudy Ayunda yang sudah bersedia dinyanyikan lagunya kembali, versi Fatin yang serak-serak basah. Sampai lagu ini jadi begitu populer di kalangan remaja, kedua kali setelah film Perahu Kertas itu sendiri.

Mercy – Duffy

Selintas Mercy seperti bahasa Perancis, ternyata bukan, Merci Perancis pakai I bukan Y, artinya pun berbeda. Dalam bahasa Peranci Merci berarti terimakasih. Sedangkan Mercy ini berarti rahmat.

Ada benarnya juga Fatin menyanyikan Mercy dari Duffy. Duffy merupakan penyanyi kelahiran Inggris yang sudah banyak menghasilkan lagu-lagu bagus. Duffy juga merupakan seorang perempuan muda yang masih berumur 28 tahun. Duffy menyanyikan lagu Mercy pada tahun 1996. Wah, jauh sekali dengan Fatin. Pada tahun yang sama Fatin baru dilahirkan. Lalu di ajang ini Fatin diminta menyanyikan lagu ini. Katanya kontestan dan mentor yang memilih lagu, untuk Mercy tepatnya pilihan Bebi Romeo. Bebi meminta Rossa memberikan lagu ini kepada Fatin. Fatin yang tidak mau membantah nurut saja pemberian mentornya.

Entah karena dasar ingin memperlihatkan yang terbaik pada Bebi – juri yang selalu menilai Fatin salah lagu. Entah karena Fatin memang bisa menyanyikan lagu apa saja sesuai dengan karakter dan keceriaannya. Kita tidak tahu pasti. Yang benar, Fatin menyanyikan lagu ini dengan sangat girang gembira. Tak ada beban harus menampilkan yang terbaik untuk memuaskan Bebi. Hanya tampil saja. Tampil saja. Tampil. Dan tampil saja. Gadis ini tak terlihat terbeban dengan omongan Bebi yang menyalahkanya melulu!

Mercy Fatin menghentak-hentak panggung. Lagu ini terdengar asing. Asing sekali untuk pendengar yang tidak mengenal Duffy dan masyarakat Indonesia yang kerap menyukai lagu melankolis. Tidak ada alasan tidak menyukai penampilan Fatin pada lagu ini.

Mercy telah memberi berkah kepada Fatin. Tampil saja. Biarkan Bebi berkicau sesuai selera dia yang semua lagunya melankolis, putus cinta, putus nyambung, putus asa, putus segala-galanya. Fatin memberikan semangat pada lagu ini. Karena lagu ini adalah rahmat, semua orang berhak mendapatkan rahmat. Semua orang berhak menerima imbalan apa yang baru saja dikerjakan. Fatin telah terbiasa dengan ocehan tak laku Bebi, kebal akan kritikannya.

Rahmat Fatin mendayu begitu indah sekali. Menepis semua kritikan hanya bisa pada satu lagu saja. Membuat Bebi bangga dengan lagu pilihannya. Menurut hemat para pendengar, bukan lantaran lagu ini pilihan Bebi lantas jadi bagus dinyanyikan Fatin. Sebab, Fatin sendiri sudah bagu tak perlu dimacam-macami menjadi orang lain.

Fatin tak mungkin menjadi Duffy. Menyanyikan lagu Duffy silahkan saja. Tetapi karakter Fatin dengan Fatin berbeda. Kebetulan lagu pilihan Bebi dinyanyikan bagus, dihayati oleh Fatin. Takut terkena tusukan berbau dari mulut Bebi.

Bebi boleh berbangga dengan pilihan lagu yang dipilihnya. Bebi tak mendapat untung di sisi lain, Fatin sudah diamond semenjak menyanyikan Grenade yang menggranat.

Mercy versi Fatin bagus sekali. Sampai-sampai, ini lagu dia bukan Duffy. Bah!

Merci – terimakasih; pada Mercy – rahmat – Nya!

Tak Ada yang Abadi – Noah

Dunia ini akan berakhir bila masanya tiba. Semua ciptaan-Nya akan menghadap, melapor kelakuan yang telah dilakukan selama hidup didunia. Baik buruk akan dipertanggungjawabkan. Yang baik akan mendapatkan surga dan yang buruk akan membuka pintu neraka, membakar semua yang tidak baik itu menjadi arang baru kemudian bisa mencicipi indahnya surga.

Sebelum tampil dengan lagu ini, Fatin sudah lebih dulu berkicau bahwa lagu ini didedikasikan untuk seorang ustad yang baru saja meninggal. Makna dari lagi ini dirasa cukup memberikan doa kepada ustad dan keluarga yang ditinggal untuk menerima keputusan-Nya. Tuhan telah menggariskan hidup mati seseorang.

Lirik lagu ini menggambarkan kehidupan yang menuju mati. Setiap yang hidup pasti akan mati. Nyawa diganti dengan hampa. Di kubur sendiri tanpa teman abadi.

Fatin memilih lagu Tak Ada yang Abadi karena menyukai penyanyinya dan lirik lagunya. Terdengar saat dia membuka behind the scene penampilannya.

Menunggu Fatin tampil rasanya mau mati suri, takut salah pilih lagu lagi. Takut tak sesuai tempo. Takut tak seenak Ariel. Rossa pun mengakui kalau-kalau Fatin akan tak mampu mensaingi suara dan aura Ariel di panggung.

Fatin bernyanyi. Nyanyi saja. Tampil saja. Begitu adanya. Berdiri di tempat. Mengekspresikan lagu dengan penuh penghayatan. Akhirnya lagu ini tak ada sisa Ariel sedikit pun. Hanya Fatin saja. Cukup Fatin. Makna lagu sampai ke pendengar walau menurut David ada beberapa bagian yang tidak terkontrol, selebihnya sangat bagus, menurut Ariel.

Beginilah penyanyi yang sebenarnya. Fatin tidak dibayang-bayang Ariel. Perbedaan laki-laki dan perempuan bukan soal berbahaya. Laki-laki jika menyanyikan lagu laki-laki tanpa keluar dari versi penyanyi aslinya tetap saja sama. Terlepas dari bayang-bayang Ariel, Fatin menampilkan lagu ini di bawah tekanan salah lagu. Nada tinggi sudah terbiasa dilahap, nada rendah pun menampakkan ciri khas serak suaranya.

Keraguan mesti dikesampingkan. Lihat dan dengar saja Fatin menyanyi. Dia menghibur dengan caranya. Cara itu pula mengidentifikasi Fatin sebagai seorang penyanyi yang akan profesional ke depan. Identitas itu tak jauh beda dengan DNA, setiap orang itu punya perbedaan walau wajahnya mirip. Fatin sudah punya perbedaan sejak awal. Dia hanya perlu belajar memperbaiki kesalahan, menerima kritikan, Tak Ada yang Abadi terus dikenang abadi oleh pendengarnya.

Kelak. Dia akan menyanyi lebih hebat dari ini. Lagi.

Pelan-Pelan Saja – Kotak

Apapun yang dijalankan semestinya harus pelan-pelan, terburu-buru dalam melakukan hal yang dirasa bermanfaat bagi banyak orang justru menjadi masalah kemudian hari. Pelan-pelan saja. Step by step. Ikuti langkah demi langkah. Prosedur tertulis dan tidak tertulis sebuah modul.

Setelah itu. Meledak!

Fatin meledak di lagu ini. Menurut hemat banyak orang; penggemarnya Fatin telah menampilkan sesuatu yang diluar kemampuan penyanyi abal-abal. Benar. Abal-abal sebutan dari pendengki terhadap gadis imut nan manis ini. Abal-abal karena dianggap telah “mencuri” posisi orang lain yang lebih berbakat ketimpang Fatin yang tidak berbakat menyanyi. Masa penyanyi kamar mandi bisa masuk ke lomba tingkat nasional, bahkan internasional? Belajar musik saja tidak, hanya bisa nyanyi Grenade doang, selebihnya kebanyakan fals.

Baik. Anggapan itu untuk mereka yang pendengarannya patut dipertanyakan, dan untuk mereka yang hanya suka melihat liuk-liuk penyanyi paha mulus di atas panggung. Sampai matanya melotot. Plot! Paha penyanyi itu tak ada cela, suaranya baru bercela tak jadi soal asalkan goyangannya menggiurkan!.

Lagu ngebeat sudah pernah dibayakan Fatin dengan gayanya yang centil dan istimewa di mata penonton. Giliran lagu mellow pun dilahapnya sampai kenyang. Tak ada cela melihat kecacatan dalam Fatin melagukan syair dengan penuh penghayatan. Dia masuk ke dalam lagu; mendalami isi lagu lalu membuang kesal pada tuntutan salah lagu yang selalu di elu-elu tanpa bosan si juri yang mengaku “pemilik” hak paten acara ini.

Kali ini Fatin mengambil resiko yang besar sekali. Menyanyikan lagu Kotak jauh lebih susah dibandingkan menyanyikan lagu penyanyi laki-laki. Suara Tantri belum ada yang bisa menandingi kekhasannya sampai detik ini di Indonesia. Suaranya menggelegar, pecah gendang telinga jika dihidupkan dengan volume keras. Pesona Tantri memikat semua pendengar, satu-satu grub band papan atas Indonesia yang vocalisnya perempuan, fenomenal pula.

Fatin mengambil resiko itu.

Pelan-pelan Saja jadi pilihannya. Lagu ini tak bisa dipisahkan dari Tantri yang ngerock. Nada rendah ya versi Tantri. Nada tinggi bisa ditiru penyanyi lain walau tak akan sebagus Tantri. Jika ingin cari aman, Fatin bisa saja mencari grub band lain yang sama-sama vocalis perempuan dengan range suara tak beda jauh dengannya. Lagi-lagi Rossa tertantang, mengorbit Fatin tak seperti mengorbit penyanyi kelas “cantik” dengan suara pas-pasan lantas dikenal masyarakat karena sensasi.

Fatin patut diberdayakan. Menggali kemampuannya. Pelan-pelan Saja adalah pilihan garang dalam menentukan seberapa berang Fatin dalam menyanyi. Mulailah kita mendengar Pelan-pelan Saja versi Fatin yang diaransemen ulang. Lebih mendayu-dayu. Tidak menghentak-hentak seperti kotak. Tidak menendang pendengar dengan gemuruh musik yang keras. Pelan saja. Ringan. Nyaman. Tenang. Dan aman!

Nada-nadanya pas. Serak-serak becek dapat. Dan lengkingan di suara tinggi menembus angkasa berciri khas Fatin. Belum ada yang punya lengkingan khas begitu. Hanya Fatin. Fatin memulai dengan pelan, belajar terbata-bata mulai dari babak awal sampai menuju ke puncak di Pelan-pelan Saja. Proses yang dilalui tak semudah kontestan lain yang hanya mengikuti mau penyelenggara. Belajar teknik tak sesimpel kontestan lain, hanya dipas-paskan saja di mana tak cocok. Fatin benar-benar pelan-pelan saja. Dari pelan inilah mempetirkan Pelan-pelan Saja versi Fatin.

Keluar dari sifat aslinya lagu ini. Tiada bayang-bayang suara Tantri. Tidak pula berusaha menampilkan lebih baik dari Tantri. Fatin keluar saja dari konteks sebenarnya dari lagu ini. Dia berhasil. Biar dikata salah lagu lagi oleh juri “roman picisan” itu lagu ini telah diapresiasikan oleh Tantri sendiri.

“Lagu Pelan-pelan Saja milik Fatin malam ini,” lebih kurang begitu komentar Tantri di akun resmi miliknya. Tantri bersikap legowo, tak memihak pada kontestan yang menjadi lawan duetnya di malam sebelumnya. Bagus menurutnya tetap bagus. Terlihat bahwa Tantri menyukai versi Fatin. Lebih fresh, simpel, kena pada semua kalangan.

Jalan Fatin pelan, Pelan-pelan Saja agar tidak tersandung!

Jalan Cinta – Sherina

Cinta Fatin mengepak ke berbagai penjuru tanah penuh warna Indonesia. Bahkan ke luar negeri. Cinta itu terus dilantunkan ke mana langkahnya menapaki setiap tantangan yang diberikan juri dan penyelenggara acara.

Sayapnya pernah terbalik, tapi tak patah. Fatin kembali bangkit menyanyikan lagu-lagu kesukaannya dan pemberian kru. Lagu-lagu itu dinyanyikan dengan penuh usaha dan hambatan. Kritikan juri diterima, dibungkus rapat-rapat lalu balas dendam di gala berikutnya.

Jalannya tertatih-tatih menaiki tangga demi tangga menuju puncak kemenangan. Tangga yang kasar dia mudah menapakkan sepatu berhak pemberian penata busana krunya. Pada tangga yang licin ia terjatuh lantaran tak mampu bersandar pada lagu-lagu berat dan tak pernah didengar sebelumnya.

Giliran Jalan Cinta dinyanyikan gadis berjilbab ini, juri kembali terpana. Tiga orang memang, karena satunya lagi selalu dengan senjata salah lagu. Anggun, yang merupakan penyanyi kelas dunia mengangkat salut pada Fatin yang menyanyikan lagu Jalan Cinta dengan sempurna. Seperti mengingat kembali kesuksesan film Ayat-Ayat Cinta. Aura Fatin dapat di lagu ini. Kata perkata yang disampaikan mengena pendengar.

Jalan Cinta Fatin melaju di atas kereta hampir oleng. Jalan itu menuju kemenangan bagi seluruh pendukung dan pencinta sejati. Jalan itu mengantarkan sebuah harapan bagi perindustrian musik Indonesia yang diwarnai oleh penyanyi yang itu-itu saja. Penyanyi yang mengandalkan paras cantik.

Jalan Cinta Fatin masih panjang, berulang kali dia bangkit menuju jalan yang lurus tetap saja berliku.

Fatin dengan Jalan Cintanya telah menyuguhkan pertunjukan yang istimewa bagi seluruh jagad.

Sifatnya yang meremaja, tidak dibuat-buat, memang begitu adanya.

Don’t Speak – No Doubt

Lagu ini tidak begitu populer dikalangan remaja masa kini. Lagu ini dinyanyikan oleh No Doubt yang digawangi oleh Gwen Stefani dan kawan-kawan pada tahun 1995. Wah, setahun sebelum Fatin lahir! Lagu ini mungkin populer di masanya dulu, kini jarang terdengar gaungnya mengingat persaingan musik dunia semakin ketat dan bersinar-sinar.

Pada lagu ini si juri “papa” malah menilai sangat jelek! Salah lagu!

Baiklah. Itu penilaian “papa” pada anak temannya. Bagi penonton yang terlanjur mendengar lagu ini hanya versi Fatin tak bisa terima. Langsung menyerbu lagu aslinya. Mendengar baik-baik. Memperhatikan setiap celah agar bisa membela Fatin.

Dan si “papa” salah besar. Versi Fatin lebih menggigit dibandingkan penyanyi aslinya. Wow! No Doubt patut bersyukur Fatin menyanyikan lagu ini kembali, paling tidak bisa mengenalkan pada remaja masa sekarang bahwa lagu ini enak untuk didengar.

No Doubt punya khas sendiri dalam menyanyi, cara mereka di era 90-an. Fatin juga punya cara sendiri dalam bernyanyi. Sikap naturalnya membawa lagu ini begitu menyayat tak dibuat-buat untuk menyanyikan Gwen dan rekan-rekan. Fatin menyanyi saja.

Don’t Speak! Berhentilah mencela!

Juri “papa” tak bisa membaca makna lagu ini. Padahal lagu ini begitu penuh penghayatan Fatin dalam bernyanyi. Hanya juri “papa” yang tidak menyukai diantara empat juri lain, belum lagi jika ditambah pendengar diluar sana yang semakin hari semakin bertambah. Menyukai lagu ini.

Don’t Speak!

Seakan Fatin menyerukan suatu teguran.

Jangan hanya bicara, biarkan saya bernyanyi dengan gaya saya. Silahkan dengar dan berikan penilain objektif!

Sekali dua bolehlah si “papa” menilai salah lagu. Jangan melulu salah lagu, Pa! tak enak komentarnya begitu, masih banyak komentar positif lain yang bisa membangun Fatin untuk belajar dan menggali lagi kemampuannya. Misalnya, fals di nada tertentu, tidak sesuai tempo, dan lain-lain.

Salah lagu? Jadi heran. Cuma itu kemampuan “papa” dalam menilai Fatin. Toh, Don’t Speak versi Fatin jauh lebih nyaman ditelinga!

Kita juga sebagai pendengar, perang mulut tak berguna. Jangan Cuma ngomong saja dibelakang Fatin tanpa berani “membentak” di depannya. Jangan cuma berani bicara salah ini itu sedangkan pengkritik tak sebagus suara Fatin dalam menyanyi.

Luar biasa! Pengkritik malah semakin keras kepala, merasa juri “papa” benar.

Pendengar bukan hanya mereka. Sindiran lagu ini ngena sampai ke ubun-ubun. Kita tak perlu bicara apabila tiada kemampuan untuk menyaingi kehebatan seorang Fatin. Dia sudah membuktikan Don’t Speak berubah jadi nasehat pada mereka yang suka menghujat.

Don’t Speak! Dengarkan saja suara Fatin yang mantap!

Ini sebagian lagu menjadi lebih hebat dari aslinya saat dinyanyikan Fatin, menurut saya sebagai penikmat musik!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 8 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 8 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 8 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 8 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: