Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Arief Firhanusa

Pria dewasa yang sangat gentar pada ular

Fatin ke Semarang

OPINI | 10 July 2013 | 10:17 Dibaca: 1293   Komentar: 44   14

MINGGU (8/7) lalu saya satu deret kursi dengan putra pejabat Pemprov Jateng di sebuah resepsi pernikahan. Saya melirik batik yang membalut tubuhnya. Mahal! Itu yang membedakan kami, lantaran saya ‘cuma’ berbaju lengan panjang digulung, khas saya, dengan merek kurang tenar, serta  jins, sementara dia bercelana kasual yang juga mahal.

Aha, ternyata ada penyama di antara kami! Sama-sama menaruh perhatian pada Fatin! Sesuatu yang amat surprise.  Tentu tadinya kami ngobrol ngalor ngidul kemana-mana, di tengah riuh solo organ dengan penyanyi bersuara mirip Regina Idol, sampai akhirnya dia mendadak menyinggung Ramadhan.

Mas Binar, sebut saja begitu, tiba-tiba bertanya pada saya, “Kapan ya Mas kira-kira Fatin menyanyi di Semarang? Ini kan bulan puasa. Pas deh rasanya. Belum pernah saya baca koran memberitakan Fatin akan manggung di Semarang.”

Sang Istri, duduk paling kiri, menimpali, “Iya Mas, mbokya diundang tuh Fatin. Mosok ngga bisa ngajak Indosat bekerjasama. Fatin kan bintang iklan Indosat.” Saya segera ingat, di Semarang, di sejumlah titik strategis (misalnya di perempatan Bangkong), belakangan ini muncul baliho-baliho raksasa Indosat bergambar Fatin sedang tersenyum.

Wah, si embak yang pernah memenangi ajang “Denok Kenang Semarang” ini rupanya ingat bahwa saya pernah punya event organizer Lentera Productions yang dulu mementaskan Jikustik, Koes Plus, Juliette, Matta, ajang Denok Kenang Semarang 2005, dan sebagainya. Sayang Lentera sudah saya bubarkan, Mbak, batin saya.

MASIH ada kaitannya dengan Fatin, beberapa minggu lalu, saya diundang IAIN Walisongo Semarang sebagai pembicara workshop jurnalistik. Di rehat, seorang peserta tampak asyik menikmati lagu lewat handsfree-nya, di ujung teras hall. Saya mendekat dan iseng bertanya, “Lagu apa?”

Dia sontak menarik handsfree dari kupingnya karena terkejut. “Fatin, Pak … ” ujarnya kikuk.

Saya terkesima. “Aku Memilih Setia?” Tanya saya kemudian.

“Bukan, Pak, Jalan Cinta … ” ucapnya tersipu.

“Loh, bukannya Jalan Cinta itu Sherina yang nyanyi?” ucap saya berlagak pilon.

“Itu kan versi asli Pak. Kalau yang ini versi Fatin, saya ambil dari Youtube,” tutur mahasiswi itu disusul celoteh sejumlah rekannya. Ribut berdebat soal Fatin! Yang mencuatkan kesimpulan bahwa di IAIN ini geliat Fatin juga telah tumbuh.

PENDEK kata, Fatinistic ternyata juga telah lahir di Semarang. Bukan tanpa alasan. Mas Binar dan istrinya, mahasiswi IAIN tadi, teman-teman sesama bloger, kawan tetangga kantor, banyak teman di kantor saya yang saya pergoki sering memutar lagu Fatin di spiker aktifnya, masing-masing mewakili ‘kelas’ dan lini yang berbeda, latarbelakang dan strata yang tak sama, yang menandai bahwa Fatinistic telah lintasdimensi.

Saya yakin ada ratusan bahkan ribuan orang lain di kota yang terkenal sering banjir ini menyukai Fatin. Bisa jadi pula ada anak pejabat lain di luar Mas Binar yang nge-fans Fatin. Bisa jadi pula di sudut-sudut Pasar Johar (pasar terbesar di Semarang) terdapat pedagang yang di HP-nya ada lagu Aku Memilih Setia.

Hanya saja mereka — terutama kaum muda — tidak mengekspos kegiatannya di Youtube atau Twitter sehingga aktivitas mereka kurang terendus. Dan tentu saja itu bisa terjadi sebab belum ada organisasi Fatinistic Semarang yang mewadahi. Atau karena malu-malu …

Itu pasalnya pukul 19.00 tadi malam saya ber-BBM dengan Anggita Setia Dara, PR Hotel Horison Semarang. Mengapa Anggi, sebab Horison Semarang intens mengundang “penyanyi tematis”. Misal Valentine, maka yang diundang ADA Band, Glenn Fredly, atau Geisha. Dulu waktu AFI (Akademi Fantasia Indosiar) lagi tren, Krakatau Ballroom milik Horison penuh sesak. Tiket pun sold out.

Saya tanya ke Anggi, sudahkah Horison berpikir mengundang Fatin di bulan Ramadhan? Apa coba jawab dia? “Mas Ariiiiif, kok baru sekarang sih aku diingetin?!!” Saya bayangkan paras dia melotot sedemikian rupa karena menyesal. “Duh itu kan udah lama direncanain, tapi sempet kelupaan karena ada perubahan manajemen di kantorku!” Imbuhnya dengan emoticon “menangis” sebanyak empat gambar di layar BlackBerry saya.

Biarlah Anggi saat ini tengah mengetik proposal, mengejar tenggat waktu sebab Ramadhan sudah datang, dan dia harus menjalin kerjasama dengan sponsor dalam waktu singkat. Horison, atau wahana gaul di Semarang macam E-Plaza yang beberapa waktu lalu mengundang Regina dan Sean Idol, tidak sendiri. Di Semarang ada atrium Paragon, Java Mall, dan Mal Ciputra dengan venue ‘tembus pandang’. Fatin bisa tampil di atrium-atrium tersebut, sementara para penonton berdiri di kisi-kisi tiga lantai di sana, dari berbagai sisi.

Perkaranya adalah, sudahkah manajemen Fatin menaruh Kota Semarang dalam daftar titik yang harus disambangi? Ibukota Jawa Tengah ini memang sulit dijamah oleh tontonan berbayar. Konser-konser Slank atau Iwan Fals beberapa pekan silam mematok harga tiket murah meriah. Konser indoor pun kudu yang spesifik dan segmented.

Namun saya haqul yakin Fatin bisa membelah sekat-sekat tersebut bila manajemennya menjadwalkan Semarang sebagai promo single terbaru Fatin (Oh Tuhan dan KekasihMu), di bulan puasa pula. Apalagi bila radio-radio progresif macam Gajahmada, Idola, Trax, atau IBC (plus suratkabar di mana saya menjadi pemimpin redaksi-nya) menjadi media partner.

Jangan lupa, Semarang ‘dikeroyok’ Kendal, Demak, Ungaran, Ambarawa, dan Salatiga. Kota-kota itu masih berkiblat pada Semarang. Tontonan, macam tim PSIS, yang menyesaki stadion pun warga Demak-Kendal-Ungaran. Kendal sendiri adalah basis santri. Fatin sangat akrab di kota di jalur Semarang-Jakarta ini. Menurut kabar, ada Fatinistic kecil-kecilan di sana yang anggotanya dari berbagai kalangan. Beda dengan Jakarta, di Kendal semua anggota Fatinistic usianya belia.

Satu lagi, sejumlah EO yang saya senggol pun ngotot mengacungkan ibu jari, pertanda mereka siap menjadi panpel lokal di gelaran Fatin. EO “FHT” (saya samarkan untuk menjaga etika persaingan antar-EO) bahkan punya konsep: Fatin akan dipentaskan di atrium Mal Ciputra, dengan menghadirkan pula “Fatinistic  Banyumanik” (kawasan Semarang atas) yang bisa jadi adalah embrio Fatinistic Semarang.

Mal ini terletak di jantung Kota Semarang, dengan latar depan Simpanglima yang masyhur, dengan jumlah pengunjung harian terbesar dalam percaturan mal Semarang. Pusat perbelanjaan dan tempat ngeceng paling keren ini beberapa waktu lalu gencar memutar lagu-lagu Fatin di X Factor, mulai Diamonds, Pumped Up Kicks, hingga Perahu Kertas lewat pengeras suara yang bisa terdengar hingga ujung gedung.  Di area atrium juga ada banyak outlet baju muslim-muslimah, yang bila Fatin pentas di sana bakal terjadi ‘proses kimiawi’ antara aura outlet tersebut dengan aura Fatin!

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga berkah.

Semarang, 10 Juli 2013, hari pertama bulan Ramadhan, pukul 9.39 WIB

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: