Back to Kompasiana
Artikel

Musik

Mengenang Ki Nartosabdo Sebagai Pencipta Lagu Jawa

OPINI | 30 July 2013 | 20:51 Dibaca: 1026   Komentar: 10   1

13751919551457333734

Sumber gambar/ foto : http://id.wikipedia.org/wiki/Nartosabdo

Bagi Kompasianer , seperti Pakde Sakimun dan penulis yang telah berusia lebih dari 55 tahun yang menyukai musik tradisional Jawa pasti mengenal sosok seniman tradisional dan dalang wayang kulit, yakni Ki Nartosabdo yang amat terkenal pada tahun 60 hingga 80an. Kisah hidup Ki Nartosabdo tidak akan penulis kisahkan di sini, tetapi dapat dibaca di sini .

Salah satu alasan penulis amat tertarik dengan karya Ki Nartosabdo karena hampir seluruh lagu atau tembang ciptaannya senantiasa menggambar suasana kehidupan masyarakat Jawa pedesaan. Berbeda dengan para seniman lainnya, yang kebanyakan masih terpatri pada tembang-tembang macapat karya-karya budayawan keraton, seperti Amangkurat IV.

Tembang-tembang yang cukup monumental di antaranya Lesung Jumengglung, Kembang Glepang, Jago Kluruk, Caping, dan Aja Dipleroki. Tentunya masih ada tembang-tembang yang menarik menurut pembaca.

Tembang Jago Kluruk dengan syairnya ( sebagian ) seperti ini :

Malung amalung tumalung jagone kluruk

Sedyane lir celuk-celuk wayahe iki wis sampun esuk

……..

Yo ayo …. tangi nuli miwiti nyambut gawe anetepi kuwajibane

Artinya

Berkumandang suara ayam jago berkokok

Bagai mengingatkan sudah pagi hari

………..

Marilah segera bangun dan mulai berkarya memenuhi kewajiban

1375192077360523058

menggambarkan bagaimana suasana pedesaan pada pagi hari dengan kokok ayam jantan dan kicauan burung yang membangun warga untuk segera melaksanakan tugasnya sebagai petani. Sedang tembang Lesung Jumengglung dengan sayirnya yang singkat namun penuh makna

Lesung jumengglung srumimbal-imbalan

Lesung jumengglung manengkar malungkung

Kumandang ngebaki sakjroning padesan

Tok … tok tek tok tok gung tok

Tok … tok tek tok tok gung…


menggambarkan suasana pedesaan saat para tani sedang di sawah di mana para ibu tetap berada di rumah untuk menumbuk padi bersama-sama sehingga suara lesung terpukul mengeluarkan irama yang khas. Keadaan seperti ini tentu saja amat ditemukan sekalipun di pedesaan terpencil. Berdasarkan pengamatan penulis suasana semacam ini, kini hanya ada di Kampung Naga dan Suku Badui.

Demikian juga pada syair tembang Caping menggambarkan kegiatan para tani sedang berkarya di sawahnya.

Caping caping caping capinge

Pancen nyoto si caping paedahe

Para tani makarya ing tengah sawah

Nggaru ngluku macul sarta tandur

Ngayun ayah kudhung caping

Dasar pancen abote tetanen

Wiwit nyebar wiji nganti panen

Mangsa rendheng lan ketiga

Arerukun kudhung caping

Caping caping caping caping…..

13751922011365869645

Setiap penyair, pencipta lagu, pengarang, dan seniman senantiasa dipengaruhi keadaan jaman saat mereka masih hidup. Maka pada masa kini amat sulit ditemukan seniman yang dapat menggambarkan suasana pedesaan seperti yang digambarkan oleh Beliau.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 9 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 13 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 13 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 17 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: