Back to Kompasiana
Artikel

Televisi

Abanggeutanyo

Pengamat itu : Mengamati dan Diamati

Artis Safari, TVRI-1980-an, Dulu Dinantikan, Kini Dirindukan

HL | 16 June 2010 | 08:15 Dibaca: 4628   Komentar: 34   1

Iis Sugianto ini, hits dengan lagu

Iis Sugianto ini, hits dengan lagu "Jangan Sakiti Hatinya"

Dari Studio TV-RI Senayan Jakarta.. Inilah dia  Aneka Ria Safari.” diiringi sura tepuk tangan keras dan panjang…. Suara  rekaman almarhum Eddy Sud  setiap minggu menggema ke seluruh Indonesia, suara itu sudah sangat akrab terdengar di setiap pemirsa TVRI seluruh Indonesia.

TVRI era 80-an banyak menyuguhkan acara menarik, misalnya Menggambar bersama pak Tino Sidin, ACI (Aku Cinta Indonesia), Oshin dan film-film Mr Manix, The Bionic Woman dan lain-lainnya.

Bagi Anda yang lahir sekitar 1970-an saya yakin pernah mendengar teriakan Eddy Sud di awal pembuka tayangan Aneka Ria Safari, mungkin juga pernah menontonnya. Apalagi yang lahir tahun lebih tua lagi (1969, 1968 dan seterusnya) sebagaian besar pasti ingat memori indah tersebut.

Lahirnya kisah tayangan  Artis Safari tahun 1982,  berawal ketika Eddy Sud bertemu dengan Menteri penerangan RI saat itu (alm. Ali Murtopo) menyampaikan keprihatinannya kepada Ali Murtopo mengenai gejala-gejala merebaknya musik Barat ke Indonesia, selain itu juga untuk menyalurkan bakat penyanyi, bakat musisi dan karya musik Indonesia, serta untuk mempertahankan eksistensi musik sendiri dalam negeri sendiri, maka Ali Murtopo pun setuju. Dia meminta rancangannya dari Eddy Sud lantas menyampaikan frame tersebut. Acaranya disetjui, berjalan dan makin terkenal dan memang akhirnya Artis Safari menjadi tontonan musik paling Top seluruh Indonesia.

Untuk acara panggung musik, pemirsa televisi  sudah menantikan acara tersebut mulai siang hari, diantaranya sudah  berdiskusi dan saling mengingatkan agar tidak lupa menonton tayangan tersebut nanti malam. Dua jam sebelum acara penayangannya orang-orang sudah siap sedia dan menghentikan beberapa aktifitas lainnya.  Mau tidak mau kita harus menonton TVRI saat itu, karena hanya TVRI corong satu-satunya siaran pertelevisian kita, pada hingga tahun 1982, sebelum masuk TPI. Dalam acara TVRI inilah kita temukan sebuah acara yang sangat populer berjudul Artis Safari.

Dian Piesesha, kangen 1980-an

Dian Piesesha, kangen 1980-an

Kita kenal artis-artis pujaan masa lalu, antara lain : Si Cantik angin Mamiri dari Selatan, almarhumah Andi Meriam Mattalata menyanyikan tembang manis “Januari yang biru” dan judul lainnya “Kepastian ku”

Ratih Purwasih antara lain menyanyikan lagu “Hujan Turun Lagi”. Arie Wibowo, dengan lagunya “Anak SIngkong”, Alamrhum Gombloh, dengan lagunya ” Ku Gadaikan  Cintaku”, Nia Daniati, dengan lagunya “Gelas-gelas Kaca”. Iis Sugianto dengan lagunya ” Jangan sakiti hatinya”.  Dan lain sebagainya tidak dapat disebutkan lagi satu-persatu dalam tulisan ini.

Beberapa penyanyi baru tumbuh menjadi penyanyi populer dari sini, misal Ria Resti Fauzi, Iis Sugiarti, Ikang Fauzi, ratih Purwasih, Meriam Belina dan lain-lain.

Beberapa penyanyi top dangdut dan Pop tidak bisa dapat masuk ke pentas Artis Safari, antara lain Iwan False, Rhoma Irama dan Koes Ploes bersaudara akibat dianggap terlalu menyentil lirik lagunya.

Akhirnya, pada penghujung 1991, acara ini pun dihentikan. Bukan karena kehabisan lagu dan imijinasi, tapi justru sudah terkontaminasi imajinasi yang destruktif dan dikeola oleh Mafia Artis Safari. Banyak orang merasa tertipu, banyak orang rugi akibat menyerahkan uang untuk dapat masuk dalam pentas Artis Safari. Akhirnya para mafia itu ditangkap dan ternyata.. Oooo, ada kaitannya juga dengan “orang dalam”. Daripada ribut-ribut, mending bubar saja…kata pengurus Artis Safari.

Apakah sekarang akan ada model artis safari seperti jaman dulu?. Artis sekarang lebih hebat-hebat, lebih berani, lebih kreatif dan lebih cantik dan ganteng..Tapi sayang… ternyata artis lama menang dalam penguasaan penghayatan dan syairnya, sehingga lagu-lagunya tidak lapuk karena hujan dan tidak lekang karena panas di telan masa.. Coba deh buktikan sendiri, benar apa tidak kata abang…

Remaja masa 80-an kini berada di seluruh penjuru dunia pasti ada yang merindukan suasana 80-an  hadir kembali. Anda berada di Moskow, berada di New york, berada di London, Cairo, Abu Dhabi, Tokio, Rio DeJeneiro, Ottawa dan lainnya yang pernah mendapat sentuhan  era 1980-an  tentu masih merindukannya bukan?.

Seperti merasa kehilangan sesuatu, tapi tidak tau apa bentuknya, tidak tau cara menyampaikannya, banyak yang tidak tahu untuk diajak berdiskusi.  Begitulah kira-kira ekspresi nostalgia 80-an. yang hilang.  Salah satu yang hilang itu adalah Tayangan Aneka Ria Safari  mengisi tembang kenangan 1980-an. Maka tak heran, banyak orang ikut milis 80-an agar bisa mengobati rindunya dan menemukan kembali sesuatu yang  pernah hilang, walau untuk bertemu hanya  untuk sesaat saja.. Biarpun membayar mahal untuk menemukan kenangan indahnya, no Problem,  yang penting  rindu sudah terobati..

Semoga bermanfaat dan dapat mengurangi kerinduan terhadap tayangan Favorite dan tembang-tembang 1980-an.

Salam Kompasiana, abanggeutanyo.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 15 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 17 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 18 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 18 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 19 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: