Artikel

Televisi

Silat Kids, Sebuah Alternatif?


OPINI | 03 November 2010 | 10:20 Dibaca: 122   Komentar: 1   Nihil

Mencari hiburan yang sekaligus memberikan nilai pendidikan melalui sinetron yang ditayangkan stasiun televisi sekarang ini sangat sulit. Hampir semua stasiun televisi menayangkan sinetron dengan genre percintaan buat pemirsa remaja dan dewasa, dan hanya sedikit yang menayangkan sinetron untuk penonton anak-anak. Oleh karena itu, maka para orangtua harus pandai mengarahkan bahkan menyeleksi tontonan yang akan disaksikan oleh putra-putri mereka. Mengapa tidak, pasalnya dari sekian banyak hiburan ditelevisi plus commercial break hampir semua nyaris tanpa muatan moral dan edukasi. Minimnya tayangan hiburan yang berkualitas sekaligus yang mampu memberikan nilai lebih semisal pendidikan yang mampu mencerdaskan dan menambah wawasan penonton adalah sebuah persoalan yang harus dicermati oleh Rumah Produksi dalam memproduksi film/sinetron. Hal inipun harus mendapatkan perhatian serius dari para penulis cerita/scenario maupun konseptor cerita. Artinya perlu dipikirkan dengan masak-masak ketika akan menelurkan sebuah gagasan bukan hanya sekadar mengejar rating, tetapi lebih dari itu adalah nilai-nilai edukasi.

Memang dalam setiap tayangan televisi selalu diberikan rujukan dengan symbol pada layar kaca seperti R (Remaja), BO (Bimbingan Orangtua), DW (Dewasa) dan SU (Semua Usia) ternyata belum cukup optimal dalam memberikan arahan yang jelas bagi pemirsa, terutama anak-anak. Banyaknya sinetron yang menyuguhkan adegan kekerasan, perselingkuhan, persekongkolan,kebencian, anarkis, kemewahan serta berbagai visual dari budaya konsumtif dan dehumanisasi tentu akan memberikan dampak negative bagi kehidupan masyarakat sebagai penikmat hiburan tersebut. Memang kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya dampak tersebut diakibatkan oleh stasiun televisi maupun rumah produksi yang memproduksi sinetron-sinetron tersebut, namun setidaknya kearifan dalam menyuguhkan tayangan perlu dipertimbangkan. Bukankah telah ada lembaga resmi yang melakukan sensor sebagai pengejawantahan regulasi meskipun gaungnya seperti mati suri. Buktinya, televisi masih sesuka hati menayangkan berbagai sinetron yang seolah tanpa label “sensor”.

Sinetron dengan cerita sederhana dan menyuguhkan realita sangat jarang dijumpai dihampir semua stasiun televisi ditanah air. Kalaupun ada serial kartun maupun animasi produksi negara asing terkadang banyak hal yang bersinggungan dengan budaya ketimuran masyarakat Indonesia. Kartun Upin dan Ipin barangkali menjadi satu pengecualian dan layak untuk ditonton karena lebih santun (Meskipun Produksi Malaysia). Satu lagi, meskipun baru beberapa episode ditayangkan, “Silat Kids” yang ditulis oleh Tiya Sirhan nampaknya menyuguhkan sebuah cerita yang amat lekat dengan realita keseharian kita. Boleh dibilang alur ceritanya lebih “membumi” jika dibandingkan dengan sinetron-sinetron bergenre legenda maupun mitos yang penuh dengan animasi dan khayalan tingkat tinggi. Silat Kids sebagai sebuah tayangan yang diperankan oleh sekelompok anak dengan setting masyarakat Betawi pinggir dianggap cukup menghibur serta mampu memberikan keluasan informasi, edukasi dan nilai-nilai moral khususnya bagi anak-anak, karena ceritanya dibungkus dan dikemas dengan realita kehidupan yang sangat sederhana sesuai dengan kehidupan masyarakat kebanyakan. Meskipun tentu saja, banyak juga masyarakat yang menganggap Silat Kids belum mampu menyuguhkan tontonan yang cukup menghibur, dan banyak anak lebih menyukai One Piece, Naruto maupun Transformer yang penuh dengan animasi canggih. Namun setidaknya kehadiran sinetron-sinetron dengan cerita sederhana dan mudah dicerna banyak ditunggu oleh anak-anak yang membutuhkan hiburan sekaligus pendidikan dan pembelajaran. Munculnya karakter-karakter lucu, kocak, jenaka, nakal, lugu, lugas, polos dan terkadang terkesan naïf setidaknya mampu memberikan asumsi kepada penonton inilah sebuah potret realitas anak-anak kita? Dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi para penulis cerita/scenario dalam mengemas sebuah cerita. Dan setelah tayang tetap harus diingatkan: Orangtua wajib mendampingi anak-anak saat menonton sinetron dan tayangan televisi!!!

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: